Hits: 3

Setiap negara memiliki undang-undang dasar yang harus dipatuhi oleh pemerintah dan warga negaranya. Khotbah di Bukit dari Matius pasal 5 sampai 7 disebut Undang-undang Kerajaan Surga, semua ajaran di dalamnya adalah hukum yang harus dilakukan oleh setiap orang Kristen terhadap diri sendiri, orang lain dan Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi setelah Matius pasal 7 berbicara tentang minta, cari dan ketuk yang berkaitan dengan doa, langsung dilanjutkan dengan kalimat: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat. 7:12).

Kalimat ini tampaknya muncul sangat tiba-tiba, sekaligus sepertinya sulit untuk dihubungkan. Sebenarnya, jika Anda melihat terjemahan Mandarin, kalimatnya dimulai “Karena itu” (terjemahan bahasa Indonesia tidak ada), jelaslah bahwa kalimat ini adalah ringkasan atau kesimpulan dari khotbah Yesus Kristus di bukit . Ini juga merupakan puncak dari pengajaran, dan beberapa orang menyebutnya sebagai Hukum Emas /The Golden Rule. Ini adalah satu-satunya kalimat di dalam ajaran Yesus Kristus yang tidak pernah diajarkan oleh orang bijak dari zaman dulu sampai sekarang. Ada orang berpendapat bahwa inilah yang dikatakan Konfusius: ” Apa yang Anda tidak inginkan, jangan lakukan pada orang lain”. Atau, makna yang lebih dekat oleh Dinasti Song, Zhu Xi selanjutnya dikatakan: “Memperlakukan orang lain seperti layaknya terhadap diri sendiri”, tetapi masih ada jaraknya.

Sering kita mendengar orang yang merasa dirinya benar berkata dengan yakin: “Jika dia baik kepada saya, saya akan baik kepadanya. Jika dia tidak baik kepada saya, saya akan lebih tidak baik kepadanya.” Mungkin kita secara tidak sengaja akan mengatakan seperti ini. Kalimat ini terdengar seperti tidak salah, tetapi jika kita merenungkannya, ini bukankah menunjukkan bahwa semua perilaku hidup kita dipengaruhi dan didominasi oleh orang lain. Ini adalah kehidupan yang pasif. Yang lebih menyedihkan lagi adalah kehidupan yang mengalir mengikuti arus. Jika kita berpikir lebih jauh, kunci untuk membedakan ikan hidup dan mati di sungai adalah pada titik ini. Dan kita adalah anak-anak Allah yang telah menerima kehidupan baru dan kekal di dalam Yesus Kristus, secara otomatis kita memiliki vitalitas hidup yang aktif untuk melaksanakan undang-undang dasar kerajaan surga. Jika kehidupan kita adalah kehidupan yang aktif dan mengasihi, kita akan dapat menikmati kehidupan yang penuh kedamaian dan sukacita serta aktif. Kisah gema anak-anak dan lembah. Adalah jika yang diucapkan adalah kata-kata baik, maka gemanya adalah kata-kata yang baik juga. Oleh karena itu, jangan mengikuti contoh Lamekh keturunan dari Kain yang membual: “Jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.” (Kej. 4:24). Sesungguhnya, itu menunjukkan kegelisahan batinnya. Inilah kehidupan Lamekh. Akhirnya ia tetap hidup dalam ketakutan.

Sebenarnya, jika kita merenungkan dengan saksama tentang seluruh dunia sejak penciptaan sampai sekarang, bagaimana Tuhan memperlakukan kita semua manusia bukankah telah menunjukkan kasih yang aktif ini. Sebelum penciptaan manusia, Dia telah menyiapkan semua kebutuhan hidup bagi kita. Setelah Adam jatuh ke dalam dosa, ia mengira bahwa masalahnya bisa diselesaikan dengan merangkai daun pohon untuk menutupi tubuh mereka, tetapi ketika berhembuslah udara sejuk maka semua yang tertutup telah terbuka. Dan Tuhan mengambil inisiatif membuat pakaian dengan kulit binatang lalu mengenakannya kepada mereka. Demi semua umat manusia, berdasarkan kasih yang aktif, Dia telah mempersiapkan keselamatan kekal bagi kita. Dan ditekankan di sini bahwa ” Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Arti kalimat ini adalah kesimpulan dari seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Oleh karena itu, sebagai anak-anak Tuhan, kita harus hidup dengan aktif mengasihi sebagai titik tolak dan motivasi kita.