Hits: 1

Apakah dalam kehidupan kita memiliki sikap eksklusif? Eksklusif memiliki pengertian terpisah dari yang lain, atau memisahkan diri dari orang lain. Akhirnya terjadilah pengelompokan-pengelompokan sesuai dengan kepentingan. Pada umumnya kita menilai bahwa eksklusif itu tidak baik, dan tidak boleh terjadi. Dalam hidup ini kita diajarkan untuk tidak hidup eksklusif. Tetapi tanpa kita sadari hidup kita sering digiring/dibawa untuk hidup eksklusif. Contoh: ada tiket kelas bisnis dan kelas ekonomi untuk kereta, kapal dan pesawat terbang. Di Bank ada pembagian ruang untuk nasabah biasa dan prioritas, bahkan apakah terjadi di dalam gereja juga? Dan masih banyak contoh lainnya, yang membuat kita untuk mengeksklusifkan diri. Kehidupan eksklusif banyak terjadi di tengah masyarakat terutama kota besar tapi tidak boleh terjadi di dalam gereja atau di dalam kehidupan kekristenan, karena dalam kasih Allah, pengampunan dan keselamatan, serta pelayanan tidak ada eksklusif. Dari peristiwa yang terjadi di Kisah Para Rasul 10, mari kita  mendalami hal tersebut:

Pertama, Kasih Allah adalah kasih untuk semua orang. Kasih Allah bersifat universal bukan eksklusif, karena Allah mengasihi semua manusia. Kasih Allah tidak hanya untuk golongan tertentu, tapi untuk seluruh umat manusia. Setiap orang layak mendapatkan kasih Allah. Kornelius adalah orang non-Yahudi, tapi ia orang saleh, takut akan Allah, senantiasa berdoa dan memberikan sedekah kepada orang Yahudi. Allah menerima apa yang Kornelius lakukan dan mengasihinya. Melalui kehidupan Kornelius inilah, Allah menyadarkan Petrus untuk tidak memiliki sikap eksklusif terhadap orang-orang non-Yahudi. Allah mengasihi orang Yahudi dan non-Yahudi. Oleh sebab itu dalam gereja, dan kehidupan kekristenan, tidak boleh mengasihi hanya kepada golongan tertentu, tapi kita harus mengasihi semua orang.

Kedua, Setiap orang layak mendapatkan pengampunan dan keselamatan dari Allah. Pengampunan Allah tidak hanya untuk orang-orang Yahudi saja, tetapi untuk orang-orang non-Yahudi juga. Setiap orang yang datang dengan kerendahan hati dan mengakui dosanya di hadapan Tuhan, maka Allah akan mengampuni dosanya. Setiap orang yang mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan maka ia akan diselamatkan. Oleh karena itu, pemberitaan injil tidak hanya kepada golongan-golongan tertentu saja, tetapi kepada segala bangsa.

Ketiga, Setiap orang layak untuk dilayani. Melalui kehidupan Kornelius ini juga menyadarkan Petrus, bahwa pelayanan tidak boleh hanya ditujukan kepada orang Yahudi saja, tetapi juga kepada orang-orang non-Yahudi. Karena itu, mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya”. (Kisah 10:34-35). Hal ini diperjelas waktu Petrus berkhotbah di depan orang-orang non-Yahudi, Roh Kudus dicurahkan ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.

Jelaslah bahwa dalam kasih Allah, pengampunan dosa dan keselamatan, serta pelayanan, tidak boleh ada sikap eksklusif. Kita semua adalah sama di hadapan Tuhan, karena itu di dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat kita tidak boleh bersikap eksklusif. Tuhan memberkati. Amin.