Hits: 1

Apa itu Doa Bapa Kami, apakah gunanya? Tentu bukan ayat-ayat hafalan, seperti doa Rosario (Rosarium) dalam agama Katolik. Doa Bapa Kami bahkan dianggap sebagai pengusir setan/eksorsisme magis (kisah yang sering terlihat di film-film Barat), atau ayat-ayat serbaguna. Ini adalah kesalahan penafsiran dan penyalahgunaan Doa Bapa Kami. Jadi apa itu Doa Bapa Kami, apa gunanya?

1. Mengapa ada Doa Bapa Kami:

Injil Lukas memberitahukan kita bahwa ketika para murid melihat bahwa Yohanes Pembaptis mengajar murid-muridnya berdoa, mereka meminta Yesus Kristus untuk mengajari mereka beberapa doa agar mereka dapat memiliki doa yang lebih indah. Karena mayoritas ahli-ahli Taurat atau guru-guru pada waktu itu menyusun doa yang sangat indah untuk dihafal dan dibaca para murid (pengikut). Ini tidak salah, tetapi perlahan berubah menjadi hanya berupa pertunjukan menghafal secara lahiriah saja, bahkan untuk menunjukkan bahwa kata-katanya lebih bagus, dan dengan demikian kehilangan makna doa yang sebenarnya. Yesus tidak hanya memenuhi permintaan para murid, tetapi juga mengajarkan mereka arti dan isi doa.

2.  Makna Doa Bapa Kami:

  • Bapa kami yang di Surga menjelaskan bahwa doa kita memiliki obyek yang tepat. Bukan ditujukan kepada berhala yang sia-sia, tapi kepada Bapa kita yang di surga. Tidak ada yang dapat menghalangi hubungan dan komunikasi kita dengan-Nya. Dia melampaui orang tua daging kita yang lebih tahu apa kebutuhan kita. Karena itu, Yesus berkata, “… Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya ” (6: 8). Bersamaan dengan itu, ketika kita berbicara dengan Dia, tidak perlu banyak lagak, berteriak dan menangis.
  • Bapa kami yang di surga – mengingatkan kita bahwa Bapa di surga adalah adalah milik kita, jadi doa orang Kristen bukan untuk diri sendiri tetapi untuk kita semua (anak-anak Bapa di surga), karena itu waktu kita berdoa jangan hanya memikirkan diri kita sendiri tetapi ingatlah masih banyak saudara-saudari yang butuh doa syafaat kita. Karena jika kita hanya memikirkan saya, saya, saya, lama kelamaan, kita akan terjebak ke dalam situasi bahwa saya adalah orang yang paling membutuhkan, dan kita akan menjadi egois dan mengasihani diri sendiri, serta hanya berpikir bahwa saya adalah orang yang paling kasihan.

3. Isi Doa:

  • Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Apa isi utama dari setiap doa kita? Biasanya saya, …saya, saya ingin …,. Ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh berdoa untuk kebutuhan kita sendiri, tetapi seperti yang Yesus katakan kepada kita di ayat 33: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” ( 6:33). Ketika kita terlebih dahulu berdoa agar orang-orang dunia dapat memuliakan nama Bapa di surga, kerajaan dan kekuasaan Bapa di surga dapat dimanifestasikan di dunia segera mungkin, dan kehendak-Nya dapat dilakukan di seluruh bumi. Ini adalah tiga keinginan dan doa yang harus dimiliki oleh setiap kita sebagai anak-anak Bapa di surga. Jika demikian, marilah kita bertanya kepada diri sendiri tentang kehidupan pribadi, keluarga dan gereja kita, apakah sudah menguduskan/memuliakan Bapa di surga. Apakah kuasa dan kerajaan Surga sudah dinyatakan di dalam kehidupan, keluarga, dan gerejaku ? Jika masih belum, bagaimana menyatakannya ke seluruh dunia? Demikian juga, kehendak Bapa di surga apakah dimanifestasikan dalam kehidupan, keluarga, dan gereja kita tanpa halangan apa pun, kalau tidak bagaimana hal itu bisa terjadi di bumi seperti di surga?
  • Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. (beri kami setiap hari). Rahmat Tuhan adalah baru setiap hari. “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat. 3:22-23).

Bahkan lebih penting bagi kita untuk bergantung pada-Nya setiap hari, untuk mempercayai-Nya, dan tidak untuk menjadi tamak, tetapi dengan rendah hati mengingatkan diri, bahwa jika bukan karena pimpinan dan pemeliharaan Bapa di surga, apalah artinya kita ini? Salomo juga berdoa seperti ini: “Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” (Ams. 30:8-9). Paulus juga mengajari kita seperti ini: “ Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah”. (1Tim. 6:8)

  • Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Pengakuan dosa adalah hal yang harus kita lakukan setiap saat, terutama ketika kita datang ke hadapan Tuhan, lebih-lebih harus berhati-hati, seperti doa Daud: ” Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan (siapa yang bisa tahu kesalahannya sendiri)? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari (Kiranya Engkau mengampuni kesalahanku yang tersembunyi?” (Mzm. 19:13 ). Tetapi sebelum itu, pertama-tama kita harus menyelesaikan masalah antara saudara dan saudari kita. Karena kita memiliki Bapa di surga yang sama, maka bagaimana hubungan kita sebagai anak-anak-Nya? Apakah berkenan di hati Bapa di surga? Bagaimana hati orang tua ketika melihat anak-anak mereka tidak akur?
  • Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Ya, hidup di dunia ini penuh dengan jebakan dan godaan, kecuali Yesus Kristus, siapakah yang dapat melindungi diri sendiri jika tidak bersandar pada perlindungan Bapa di surga? Jadi jika bukan karena Bapa di surga yang memelihara kita sepanjang waktu, tidak tahu kita akan menjadi orang seperti apa hari ini.
  • Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin. Mengapa kita dapat berdoa dengan begitu yakin? Karena Bapa di surga yang empunya segala kerajaan, kuasa dan kemuliaaan. Jika tidak, doa kita adalah sia-sia. Bukan semoga tapi adalah pasti kepunyaanMu.