Hits: 0

Tidak banyak catatan di dalam Alkitab tentang perbuatan Tomas, tetapi salah satu hal yang lebih terkenal adalah catatan Yohanes yang baru saja kita baca, Yohanes pasal 14 dan 11: Tomas (murid), yang disebut banyak curiga.

(1) Menurut ia jikalau Lazarus sudah mati, mengapa harus pergi menemuinya, apalagi telah mati selama empat hari. Apakah akan pergi untuk mati bersama-sama dengan dia? Karena Tomas masih belum mengerti tentang kebangkitan.

(2) Ketika dia mendengar bahwa Yesus akan meninggalkan mereka dan kembali kepada Bapa, dan Yesus berkata bahwa di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Tomas pun segera memberi respon: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (Yoh. 14:5).

Dari bacaan tadi tentang penampakan Yesus kepada murid-murid, karena Tomas tidak ada di sana, murid-murid yang lain melaporkan kepadanya bahwa semua orang melihat Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada mereka, tetapi Tomas berkata dengan tegas: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Mengapa? Karena dia berpikir bahwa para murid mungkin sangat sedih dan merindukan Yesus, maka menimbulkan ilusi, sehingga kesaksian para murid tidak dapat diterima, atau percaya begitu saja.

Puji syukur kepada Tuhan! Yesus mengasihani dia, seminggu kemudian Ia menampakkan diri lagi kepada mereka, dan terjadilah kisah yang dicatat dalam bagian firman yang baru saja kita baca.

Mengapa ini terjadi dalam kisah Tomas?

  1. Tidak berkumpul dengan para murid (ayat 24) — Akibat jarang atau sering absen dari persekutuan itu, karena setiap kali persekutuan akan ada rahmat khusus dari Tuhan untuk diberikan kepada mereka yang benar-benar menyembah Dia di dalam roh dan kebenaran. Tuhan kita (di hadapan takhta kasih karunia) tidak akan membiarkan kita pulang dengan tangan kosong. Ini memberi kita peringatan yang sangat penting. Seperti yang dikatakan Ibrani 10:25: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”
  2. Tidak menerima atau memikirkan kesaksian para murid (ayat 25) – Ia tidak percaya pada orang lain, menganggap diri sendiri lebih berpikiran jernih dan rasional daripada yang lain, dan tidak dibutakan oleh kesedihan.
  3. “Sebelum aku melihat, sekali-kali aku tidak akan percaya” (ayat 25) – Dengan melihat, bukan dengan iman. Ia menganggap diri sendiri lebih rasional daripada yang lain dan terlalu percaya diri. Apa hasilnya? Adakah memperoleh kekuatan dan penghiburan lebih daripada orang lain? Tidak. Sebaliknya dalam seminggu itu ia menanggung kesedihan, kecewaan dan penderitaan lebih banyak daripada orang lain.

Bagaimana dengan kita hari ini? Bukankah kita juga sering meragukan Tuhan kita? Kita kadang ingin sedikit membantu Tuhan, akhirnya kita mengalami penderitaan yang tidak perlu. Dimana masalahnya?

Di sini juga memberi kita pelajaran dan peringatan penting. Tuhan kita adalah Tuhan yang mengerti dan memperhatikan kita. Dia tahu karakter dan kondisi psikologis Tomas: Dia tidak marah besar atau memaki-maki Tomas: “Tomas, mengapa kamu begitu degil hati, keras kepala, dan sudah banyak orang menyaksikan mengapa kamu masih tidak percaya!” Tapi Ia dengan suara yang penuh kasih berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”

 Saudara dan saudari! Bagaimana dengan kita hari ini? Melalui Perjamuan kudus hari ini, marilah kita dengan rendah hati datang ke hadapan Tahta Kudus untuk mengakui semua kelemahan, kegagalan, dan bahkan ketidakpercayaan kita. Yesus berkata: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”