Di dunia masih banyak orang yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Kita sebagai orang berdosa sangat mudah disesatkan oleh si jahat sehingga membuat kita masih menghadapi masalah untuk melakukan kebenaran yang dikehendaki oleh Allah. Jika kita tidak sungguh-sungguh menyelesaikan masalah ini, kita akan tersesat di dalamnya dan konsekuensi sungguh tidak baik. Oleh karena itu, dari Kej. 38 kita akan belajar dari anak Yakub, Yehuda, bagaimana ia menghadapi masalah ini dan menjadi pelajaran bagi kita hari ini.

Dari kitab Kej. 38 kita dapat melihat karena Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya  dan pergi ke tempat suku lain serta ia mencari dan menikahi perempuan di sana. Tuhan tidak mengatakan kepadanya supaya ia meninggalkan saudara-saudaranya dan pergi ke tempat lain. Sama seperti nenek moyangnya, ia tidak mengikuti apa yang dikehendaki-Nya dan menuruti keinginan dirinya sendiri. Konsekuensi dari hal ini sungguh sulit dibayangkan. Dia tidak hanya melakukan dosa perzinahan dengan menantunya sendiri, tapi kedua anaknya juga tidak berkenan kepada Tuhan. Namun, ia menyadari betapa besar dosanya, dan ia mengakuinya di hadapan Tuhan dan semua orang serta tidak berhubungan lagi dengan menantunya. Hal ini memberitahukan kita pentingnya mengakui dosa, karena dosa jika tidak diselesaikan dengan baik akan membawa konsekuensi yang merusak. Yehuda menyadari masalah dirinya, maka dengan hati mau mengakui dosanya dan bertobat, ia menyelesaikan masalah tersebut, akhirnya Tuhan memakainya dengan luar biasa. Juru selamat kita Yesus Kristus adalah keturunan dari Yehuda; dari sini kita dapat melihat yang dipakai Tuhan bukanlah karena kehebatan atau kebesaran Yehuda, tapi karena Tuhan melihat pertobatannya dan memakainya dengan luar biasa sebagai nenek moyang Mesias. Karena itu, dari proses-proses ini kita dapat belajar bagaimana menyelesaikan perbuatan jahat di mata Tuhan dan berkenan kepada-Nya.

Jika kita ingin dapat membedakan mana yang benar dan salah serta hidup berkenan kepada-Nya, janganlah kita meninggalkan komunitas asal kita dan komunitas gereja. Dengan demikian dalam situasi apapun, kita mendapatkan kekuatan dari Tuhan melalui saudara-saudari untuk menghadapinya. Jika kita melakukan dosa kita harus kembali ke hadapan Tuhan mengakui dosa dan bertobat, sehingga kehidupan kita dapat memuliakan Tuhan. Melalui kedua hal ini, Tuhan akan terus menyertai kita dan memakai kita di dalam rencana-Nya. Kita harus ingat sekarang kita dapat melayani-Nya semua karena anugerah Tuhan bukan karena seberapa banyak bakat kita. Karena itu kita harus berkata kepada Tuhan : “TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.”