Doa ini sepertinya topik yang gampang-gampang sulit. Kalau dibilang gampang, kenapa banyak yang berminat mau belajar doa. Bahkan murid Yesus pun, tidak meminta yang lain tapi meminta kepada Yesus: “Ajarilah kami berdoa”. Tapi dibilang susah, ya sepertinya gampang. Bukankah cuma bercakap-cakap dengan Tuhan?

Pertanyaan berikut doa yang seperti apa? Doa yang berkenan kepada Tuhan? Doa yang berkuasa? Secara umum orang lebih banyak membicarakan “kuasa doa”. Kalau kuasa doa, mungkin fokus kita lebih pada “apa yang bisa kita dapatkan dari Tuhan? Atau apa yang bisa Tuhan lakukan untuk kita?” Tapi tema kita adalah “Kemurnian sebuah doa” lebih berfokus pada doa dan sikap doa seperti apa yang berkenan kepada Tuhan? Untuk itu kita perlu melihat:

  1. Esensi dari Doa. Doa adalah berkomunikasi atau bercakap-cakap dengan Tuhan. Percakapan atau komunikasi ditentukan oleh relasi antara dua pihak. Siapa Tuhan bagi saya? Pertama, doa adalah relasi kita dengan Tuhan. Jika relasi kita baik – komunikasi akan lancar. Yesus mengajarkan kita untuk menghampiri Tuhan, “Bapa kami yang di surga…” Bapa dan anak adalah relasi yang sangat intim. Seperti seorang anak kecil kepada papanya. Tidak ada pura-pura—dia datang dengan apa adanya. Hanya kepada Dia kita datang dengan penuh keyakinan dan kepercayaan. Ketika senang, kita datang kepada Bapa. Ketika ada masalah, dia juga datang kepada Bapa. Relasi yang baik kita akan tampil apa adanya – kita tahu, Bapa mengasihi kita dengan segala kelebihan dan kekurangan kita.

Doa adalah relasi kita dengan Tuhan. Sikap dan isi doa kita menunjukkan kualitas dan kedalaman hubungan kita dengan Tuhan. Kita tidak perlu berusaha mencari perhatian Tuhan apalagi mencari perhatian orang lain. Demikian juga ketika kita diminta untuk memimpin doa—utarakan isi hati jemaat kepada Tuhan tanpa ada ‘motivasi’ supaya dilihat lebih rohani, fasih berdoa dan sebagainya.

  1. Sikap Doa. Sikap doa kita menunjukkan kualitas relasi kita dengan Tuhan. Apakah relasi /keintiman kita perlu dipamerkan kepada orang lain? Ada pemimpin gereja/pendeta – kalau doa tumpangkan tangan, terus difotoin dan upload di FB. Kalau zaman dulu itu yang mereka lakukan – berdiri di tengah-tengah, tikungan jalan supaya dilihat orang. Apa memang perlu dilihat orang? Yang kedua adalah mengenai bahasa kita, kembali kepada relasi kita dengan Tuhan – kalau kita sering berkomunikasi, kita tidak perlu bertele-tele.
  2. Isi Doa. Apakah kita berbicara kepada Tuhan atau tentang sesuatu kepada Tuhan? Yang terjadi kita sering “talk about people” membicarakan orang lain – daripada “talk to people” berbicara dengan orang. Apakah doa kita juga begitu—kita datang kepada Tuhan, beri laporan cuaca, kasih update perkembangan politik Negara, dsb… atau kita datang kepada Tuhan, menceritakan isi hati kita – apakah kita sedang sukacita, berat hati dsb. Tuhan sudah tahu, sebelum kita ceritakan. Tetapi Tuhan mau kita berbicara kepadaNya – ketika kita berdoa, hanya ada “aku’ dan “Tuhan” atau “kami dan Tuhan”.

Doa adalah hubungan kita dengan Tuhan. Hubungan yang baik akan menentukan kualitas dan sikap kita. Kemurnian doa bukan untuk berusaha mencari perhatian Tuhan apalagi mencari perhatian orang lain. Yesus memberikan contoh yang baik! Selalu meluangkan waktu sendiri bersama Tuhan. Sesibuk apa pun, Dia selalu mencari tempat khusus untuk bercakap-cakap dengan Tuhan. Biarlah Roh Kudus menolong kita, bisa mencari waktu untuk mendekati Tuhan. Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Biarlah doa kita sungguh berkenan kepada Tuhan. Perkenan Tuhan terpancar dari hidup kita melalui kehidupan doa/pergaulan kita bersama Tuhan.