Hits: 1

Di bawah pimpinan Tuhan, Tahun Baru Tionghoa tiba lagi (hari ini adalah hari ketiga).  Orang percaya sering bertanya: Bolehkah (gereja) Kristen Tionghoa merayakan Tahun baru Tionghoa bersama orang Tionghoa lainnya? Apakah ini bertentangan dengan keyakinan kita?

Pertama-tama, kebanyakan orang akan bertanya apakah itu dipengaruhi oleh Buddhisme atau Taoisme? Jawaban yang pasti atas pertanyaan ini adalah “Tidak”, karena  Buddhisme paling awal masuk ke Tiongkok pada 317 SM, sekitar 2338 tahun yang lalu.

Jika tidak, pertanyaan berikut adalah: Apakah itu berkaitan dengan Taoisme, tapi menurut catatan tradisi : Lao Tzu lahir pada 571 SM, paling lama hanya 2592 tahun yang lalu, dan Orang Tionghoa merayakan Tahun Baru Tionghoa (Nian/Festival Musim Semi setidaknya di Dinasti Xia (2205~1766SM) “yaitu, 3781-4220 tahun yang lalu” telah mulai merayakannya.

Jadi dari mana asalnya? Dapat dilihat bahwa Tahun Baru Tionghoa bukanlah kepercayaan agama yang berasal dari masyarakat Tionghoa, dan itu bukan sesuatu dari Setan.

Lantas apa pentingnya perayaan Tahun Baru Tionghoa bagi orang Tionghoa? Kapan itu dimulainya? Apakah pada tahun 2572? (Karena ada yang mengatakan bahwa Tahun Baru Tionghoa tahun ini adalah tahun 2572). Ini karena beberapa orang ingin menunjukkan  penghormatan mereka kepada Konfusius dan menganggap tahun Konfusius lahir sebagai tahun pertama Tahun Baru Tionghoa, tetapi dikhwatirkan akan ada sebagian orang akan salah paham bahwa perayaan tahun baru Tionghoa baru hanya berumur 2572 tahun, padahal tidak demikian.

Dinasti Xia, dinasti pertama dalam sejarah Tiongkok dari 2205 hingga 1766 SM (3781-4220 tahun lalu), telah menyebut Nian sebagai “Sui”, (Itu didasarkan pada fakta bahwa bintang Tai Sui (Jupiter) mengitari bumi satu putaran dalam dua belas tahun, dan berhenti di tempat yang tetap setiap tahun. Diteruskan Dinasti Shang (176-1134 SM) diubah namanya menjadi “Si”, Dinasti Zhou berikutnya (1134-256 SM) baru disebut “Nian”. Dalam huruf Nian dalam naskah kuno(zhuàn ti), terlihat jelas bahwa kata untuk Nian terdiri dari dua karakter He dan Qian: “Nian → He, Qian(he→hasil panen dan Qian→ribuan) “. Hal ini terkait dengan perayaan panen di masyarakat agraris, yang merupakan ritual kuno kaisar untuk dikorbankan ke langit pada “pergantian musim dingin” setiap tahun. Untuk negara itu dipimpin oleh kaisar. Dari zaman kaisar Zhou Wu周武王 (BC1134-771) hingga kaisar Zhou You周幽王, kaisar yang memimpin perayaan panen di bulan November. Kalau daerah-daerah oleh gubernur setempat atau penatua yang dihormati yang memimpin persembahan korban ke langit. Sampai hari ini, masih ada beberapa tempat di mana yang disebut “tuan tungku爐主” memimpin eksistensi pengorbanan. Semuanya memiliki arti bersyukur kepada Tuhan. Selain itu, tidak ada berhala di awal pengorbanan, seperti yang terlihat di Mezbah Langit天壇 di Beijing hari ini, tidak ada berhala dari dewa mana pun yang disembah di dalamnya. Ini juga mengingatkan umat Kristiani bagaimana bersyukur kepada Tuhan selama sepanjiang tahun ini? Ini adalah momen indah menghitung berkat Tuhan bersama keluarga.

Reuni keluarga di malam tahun baru, makan malam reuni keluarga di malam tahun baru atau “Wei Lu” adalah “hot pot” hari ini. Seluruh keluarga mengelilingi panci besar untuk menikmati makanan, sambil berbagi suka dan duka hidup yang mereka alami selama setahun terakhir, salling menginspirasi dan menghibur satu sama lain. Bukankah ini arti persekutuan dan bersharing dalam keluarga Kristen seperti yang diajarkan oleh Alkitab?             Dalam Tahun Baru Tionghoa, bukankah ini semakin mengingatkan umat Kristiani bahwa oleh darah Yesus Kristus telah membuka jalan maka kita dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,

Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh serta bersyukurlah kepadaNya (Ibr. 10:19-22). Melalui persekutuan antara saudara saudari, kita bisa “saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” untuk bertumbuh bersama.

Apalagi di zaman akhir ini ketika hari kedatangan Tuhan kembali sudah mendekat, dan semua tantangan dan ancaman yang dihadapi oleh orang percaya jauh melampaui zaman sebelumnya, bukankah ibadah dan persekutuan harus lebih banyak lagi? Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat (Ibr. 10:24-25).