Hits: 1

Tema kita adalah “Menata Pikiran”. Menata pikiran berarti mengatur cara berpikir, khususnya cara berpikir sebagai orang Kristen. Paulus menegaskan cara berpikirnya dalam pelayanan, suatu cara berpikir yang juga dapat berguna untuk kehidupan orang Kristen secara umum. Paulus mengatakan, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1Kor. 2:2). Buat Paulus, pikirannya hanya dikuasai oleh salib Kristus dan diarahkan oleh lensa salib Kristus.

Mengapa salib Kristus? Paulus menjelaskan bahwa pemberitaan tentang salib adalah kebodohan bagi yang tidak percaya (1Kor. 1:18). Paulus menyebutkan “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat” (1Kor. 1:22). Orang Yahudi menghendaki adanya mujizat sedang orang Yunani mengagungkan hikmat (filsafat). Tapi Kristus yang disalib bukan semua itu, bukan seperti yang diharapkan manusia. Bagi Yahudi salib adalah batu sandungan dan bagi orang Yunani adalah kebodohan (1 Kor. 1:23). Bagi orang Yahudi, salib adalah batu sandungan karena orang yang disalib menanggung hukuman Allah (orang yang disalib adalah orang yang terkutuk – Gal. 3:10).  Bagi orang Yunani, salib adalah kebodohan. Pemikiran orang Yunani senantiasa mencari keberhasilan. Bagi mereka, penyaliban Yesus adalah tanda kegagalan karena ternyata Yesus tidak dapat membebaskan diri dari hukuman pemerintah Romawi dan harus mati sebagai seorang hukuman (narapidana).

Walaupun dianggap sebagai batu sandungan atau kebodohan, sesungguhnya Kristus yang disalib adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah (1Kor. 1:24). Apa makna salib Kristus sebagai “hikmat Allah dan kekuatan Allah”? Salib Kristus, yaitu Injil, adalah kekuatan Allah yang membawa keselamatan bagi orang percaya (cf. Rm. 1:16-17). Salib Kristus adalah jalan penyelamatan yang ditetapkan Allah bagi keselamatan manusia dari dosa dan hukuman kekal. Ketika Yesus mati di kayu salib, Yesus telah menggenapi rencana Allah dan telah menang karena Ia taat sampai mati sesuai kehendak Allah. Karena itu salib Kristus menjadi kekuatan Allah yang menyelamatkan orang yang percaya dan bukan tanda kegagalan.

Mengapa tidak mau mengetahui hal lain selain salib Kristus? Konteks nats firman Tuhan hari ini adalah Paulus sedang menegur dan mengajar orang-orang Korintus yang bergantung pada keberhasilan dan kekuatan akibat pengaruh pemikiran Yunani. Dalam gereja saat itu, terjadi perselisihan di mana jemaat terbagi atas kelompok-kelompok dengan tokoh yang diikutinya masing-masing: Paulus, Apolos, Kefas, dan Kristus. Mereka menganggap kelompoknya lebih tinggi daripada kelompok lain dalam pandangan mereka, pemimpin yang mereka ikuti lebih hebat dari yang lain. Paulus ingin menegur sikap seperti ini dan mengarahkan agar jemaat tidak mencari dukungan pada manusia tetapi mencari kekuatan dari Allah.

Paulus melawan pandangan ini dengan merujuk pada salib. Salib memang bisa nampak menjadi kebodohan (bagi orang bukan Yahudi) dan menjadi batu sandungan (bagi orang Yahudi). Tapi yang bodoh dari Allah itu lebih berhikmat daripada yang dari manusia dan yang lemah, lebih kuat (1Kor. 1:25). Selain itu, Allah dapat memilih apa yang bodoh menurut dunia untuk memalukan yang berhikmat dan yang lemah untuk memalukan yang kuat (1Kor. 1:27). Dengan itu, hendaklah jemaat jangan bermegah pada apa yang dipandang kuat menurut pandangan dunia; sebaliknya jikalau hendak bermegah, tetapi hendaklah bermegah dalam Kristus yang adalah kekuatan Allah (1Kor. 1:31) dan bukan pada diri sendiri (1Kor. 1:29).

Bagaimana menata pikiran dengan lensa salib Kristus? Pertama, mengenali salib sebagai penyataan belas kasihan Allah. Dalam salib, kita menyadari bahwa semua kita adalah orang berdosa yang patut binasa tetapi oleh karena belas kasihan Allah, kita dikaruniakan pengampunan dosa dan keselamatan. Salib mengingatkan bukan pada kekuatan dan keberhasilan tapi pada anugerah dan pengampunan. Karena itu, betapa pun berdosanya kita, kita tetap dapat datang ke salib untuk mendapatkan kasih karunia dan pengampunan Allah.

Kedua, mengerti paradoks salib Kristus. Martin Luther membukakan tentang paradoks antara kelemahan dan kekuatan yang ditunjukkan dalam salib Kristus (cf. 1Kor. 1:25, 28). Konsep salib adalah pembalikan dari konsep manusia tentang kehidupan. Di dalam Tuhan, kebodohan dapat dirubah menjadi kebijaksanaan dan kelemahan dapat menjadi kekuatan Allah. Karena itu jangan takut kita dipandang bodoh atau lemah selama kita bergantung pada Tuhan. Salib mendemonstrasikan bahwa kita tidak kuat tapi lemah, kita tidak berhikmat tapi bodoh tetapi, oleh salib Kristus yang adalah kekuatan Allah, kita diberikan kekuatan dan dijadikan berhikmat.