Pada Hari Mama, kita semua menyanyikan “Hanya mama yang baik.” Apakah ada yang tidak setuju? Yang katakan “tidak”, yaitu di Ratapan 4:3-4 mengatakan: “Serigala pun memberikan teteknya dan menyusui anak-anaknya, tetapi puteri bangsaku telah menjadi kejam seperti burung unta di padang pasir. Lidah bayi melekat pada langit-langit karena haus; kanak-kanak meminta roti, tetapi tak seorang pun yang memberi.” Artinya tidak semua ibu di dunia ini baik.

Pada Hari Papa, apakah ada yang mengatakan “Hanya papa yang baik?” Banyak orang menikmati pernikahan, banyak juga yang menghancurkan pernikahan, dan beberapa orang bertahan dalam pernikahan. Banyak pernikahan berubah disebabkan oleh laki-laki (kebanyakan pernikahan berubah adalah kesalahan ayah), dan mereka tidak membesarkan anak-anak setelah itu. Oleh karena itu, tidak semua ayah baik.

 “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efs. 4:6). Apa artinya “Janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu”? Dalam situasi hari ini, keadaan seperti apa yang dapat menyebabkan anak-anak marah? Ketika Paulus membahas hubungan antara kehidupan keluarga dan tuan serta hamba (Ef. 5:23 – 6: 9), ia menunjukkan bahwa yang lebih kuat (suami, ayah, dan tuan) harus melakukan yang terbaik untuk melindungi yang lemah (istri, anak-anak, dan pelayan). Paulus menasihati bapa-bapa untuk ” janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu.” Kalimat ini terutama ditujukan kepada ayah (lht. Kol. 3:21). Objek-objek di atas dimaksudkan untuk yang menjadi “orang tua” (Efesus 6:1–3: Anak-anak harus “menaati orang tua” dan “menghormati orang tua”); tetapi perkataan Paulus tiba-tiba berubah dan anak panahnya menunjuk ke arah ayah. Mengapa hanya ditujukan kepada ayah? Saya percaya pasti ada alasannya. Dalam masyarakat yang didominasi ayah, maka ayah memiliki hak untuk mengatur anak-anak mereka. Menurut “patria potestas” yang ditetapkan oleh orang Romawi, para ayah memiliki kekuasaan mutlak atas anak-anak mereka dan mereka dapat dianggap sebagai pemilik dan berhak untuk menghukum mati anak-anak mereka. Dalam konteks ayah memiliki otoritas mutlak seperti ini, Paulus menasehati para ayah untuk “janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anak” dapat dianggap sebagai satu konsep revolusioner.

“Janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anak” (amarah “terjemahan baru” adalah kemarahan) berarti: Jangan gunakan kata-kata atau tindakan yang tidak pantas untuk membuat anak-anak menjadi marah, sehingga menimbulkan kebencian yang terus-menerus di dalam hati mereka. Secara umum, lebih mudah bagi ayah untuk membangkitkan kemarahan di dalam hati anak, menyakiti hati anak, dan membuat anak penuh amarah, sehingga mereka menjadi tawar hati (Kol. 3:21). Tawar hati adalah kehilangan motivasi hidup, antusiasme untuk belajar, dan seperti bola yang kempes. Tentu saja, sebagai seorang ayah tidak tentu menyakiti anak-anak, tetapi tanpa sengaja, mereka bisa jatuh ke dalam jebakan ini tanpa menyadarinya.

Dalam keadaan bagaimana seorang ayah bisa membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak? Berikut ini beberapa prinsip untuk diterapkan. Bahkan, prinsip-prinsip ini dapat diterapkan pada hubungan antara pemimpin kepada bawahan atau bos kepada karyawan.

  1. Didikan yang tepat: Jangan tetapkan standar yang sulit dicapai. Misalnya: menuntut prestasi sekolah anak harus terbaik dalam setiap mata pelajaran, karena Anda ingin menggunakan prestasi anak Anda untuk menyombongkan diri demi mengisi kekurangan kemuliaan dan kecemerlangan yang tidak diperoleh di masa lalu.
  2. Menepati janji: Apa yang Anda janjikan harus dilakukan. Sebagai ayah bisa secara sadar atau tidak sengaja berjanji kepada anak akan melakukan sesuatu untuknya. Jika nilainya A, akan diberikan ponsel Apple, tetapi pada akhirnya semuanya bohong. Hal ini membuat anak-anak merasa tertipu, dan berpikir bahwa orang tua mereka tidak memiliki Integritas, dan tidak menghormati mereka sama sekali, bahkan timbul ketidakpuasan dan kebencian di dalam hati mereka.
  3. Perbuatannya sesuai dengan perkataannya: jangan lain kata lain perbuatan. Menetapkan standar spiritual yang tinggi untuk anak-anak, tapi sendiri bebas untuk hidup. Belum lagi standar ini untuk anak-anak, orang dewasa tidak harus mematuhinya. Hal ini pasti akan membangitkan kemarahan di dalam hati anak, mungkin mereka marah dan tidak berani menyatakannya tetapi akan ada efek negatif jangka panjang di dalam hati mereka.
  4. Tetap bijak: Jangan jadikan anak sebagai objek untuk melampiaskan emosi. Masalah umum lainnya adalah bahwa ayah tidak dapat menahan emosi, dan memperlakukan anak-anak sebagai objek pelampiasan emosi. Alkitab berkata: “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.” Namun, mereka bukan benda, tidak boleh diperlakukan sesuka hati atau dibuang. Anak-anak adalah manusia yang memiliki tubuh jasmani dan perasaan yang harus dihormati dan dilindungi. Tentu saja, “janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu”, tidak berarti bahwa tidak mempedulikan, tidak mau tahu, membiarkan anak berperilaku buruk atau memanjakan. Paulus kemudian menekankan bahwa anak harus diberikan pengajaran yang positif : “Didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Efs. 6:4). Jangan seperti imam Eli, yang tidak menghormati Tuhan (1sam. 2:30). Menurut Zeng Guang Xian Wen (Himpunan kata-kata mutiara): “Melahirkan anak tanpa mengajar seperti memelihara babi” ; “Membesarkan anak tanpa mengajar adalah kesalahan ayah”; pengajaran yang tidak ketat adalah kemalasan guru”.

Orang tua yang di atasnya masih memiliki orang tua, ingatlah untuk memberikan anak Anda panutan → berbakti, menghormati orang tua Anda, sehingga di masa depan anak-anak Anda pasti akan berbakti kepada Anda karena ia melihat Anda sebagai contoh dari berbakti/ menghormati orang tua. “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Ams. 22:6).