Hits: 6

Nas khotbah Minggu ini merupakan lanjutan dari nas Minggu lalu, yaitu tentang kisah panggilan dan pengutusan Tuhan kepada Musa untuk pergi ke Mesir dan menghadap Firaun guna membebaskan umat Tuhan, bangsa Israel. Dalam pasal 4 ini, kita mengetahui akhir dari dialog Tuhan dan Musa mengenai panggilan tersebut.

Allah mengutus Musa untuk menghadap Firaun untuk melepaskan bangsa Israel dari perbudakan Firaun (3:10). Musa memberikan alasan penolakan hingga lima kali: 3:11; 13; 4:1, 4:10 dan 4:13. Hal yang banyak diselidiki dalam konteks ini adalah bagaimana sesungguhnya sikap batin (karakter) Musa? Apakah Musa keras kepala dan tidak mau menuruti kehendak Tuhan serta hanya mau mengikuti keinginannya sendiri? Apakah dia merasa tidak percaya diri untuk menjalankan tugas panggilan dari Tuhan? Umumnya para ahli memandang Musa adalah orang yang baik dan bukan yang memberontak terhadap Tuhan. Pembacaan mengenai kelima episode penolakan Musa akan memberitahukan kepada kita hal ini dengan lebih jelas.

Dalam pasal tiga, Musa dicatat menolak panggilan Tuhan dua kali (3:11 dan 3:13). Kisah penolakan pertama (3:10-11) menceritakan bagaimana Musa mengatakan “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” (3:11). Terhadap ini Tuhan menegaskan bahwa setelah bangsa Israel keluar dari Mesir, mereka pasti akan beribadah kepada Tuhan di gunung Allah, yaitu Gunung Horeb (kemudian disebut Gunung Sinai–3:12). Tuhan menepati janjinya ini tatkala orang Israel bertemu Allah di Gunung Sinai. Pertanyaan Musa mengenai identitas diri ini terkait dengan latar belakang Musa sebagai pelarian dari Mesir: statusnya sebagai pelarian karena telah membunuh orang Mesir akan membuatnya tidak lagi diakui di dalam istana Mesir. Bahkan, tidak mustahil Musa akan diadili karena peristiwa pembunuhan yang dilakukannya walaupun peristiwa tersebut sudah berlalu empat puluh tahun. Sedangkan statusnya sebagai anak puteri Firaun yang dibesarkan di dalam istana (walaupun sebenarnya adalah orang Ibrani) akan membuatnya dicurigai oleh saudara sebangsanya. Karena itu, Musa merasa dirinya tidak berdaya jikalau harus melakukan tugas ini.

Penolakan kedua (3:13-15) disampaikan Musa dengan alasan bahwa dia tidak tahu nama Allah yang mengutusnya tersebut. Allah menjawab dengan mengenalkan diri dalam nama Yahwe (3:15) yang merupakan Allah yang kekal (3:14: Aku adalah Aku). Allah menegaskan bahwa Ia kekal dan tidak berubah. Kalau dahulu Ia mampu menolong Abraham, Ishak, dan Yakub melewati tantangan hingga terbentuk bangsa Israel, sekarang pun Ia pasti mampu membebaskan Israel dari Mesir. Tuhan adalah Allah yang tidak berubah. Namun, nampaknya Musa tetap menolak.

Dalam pasal keempat, Musa dicatat menolak panggilan Tuhan sampai tiga kali (4:1; 4:10; dan 4:13). Dalam penolakan ketiga (4:1), Musa berargumen bagaimana jika bangsa Israel tidak percaya kepadanya. Terhadap ini, Tuhan menunjukkan tiga tanda ajaib (mujizat): tongkat menjadi luar (4:4); tangan kena kusta (4:8-9); dan air sungai Nil berubah mejadi darah (4:9). Tuhan menekankan bahwa dengan melakukan mujizat ini, Musa akan dapat meyakinkan orang Israel.

Musa tetap tidak mau menerima dan menolak untuk keempat kalinya: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara” (4:10). Para ahli memandang bahwa Musa memang menderita gangguan bicara (gagap) tatkala ia mengatakan kalau ia tidak pandai bicara baik dulu (sejak muda) maupun sekarang (saat Tuhan memanggilnya). Akibatnya, ia mungkin merasa tidak percaya diri dan juga tidak yakin dengan kemampuan Allah yang akan memakainya. Tuhan menjawab dengan tegas: Siapakah yang membuat lidah (mulut) manusia (panca indera dari tidak ada menjadi ada)? Siapakah yang membuat panca indera yang diciptakan berfungsi atau tidak: membuat lidah bisu atau telinga tuli; membuat mata melihat atau buta? Tuhan menegaskan bahwa bukan hanya Ia adalah pencipta panca indera manusia, tetapi Ia juga yang mampu membuat panca indera tersebut berfungsi dengan maksimal untuk melakukan kehendak dan tugas Allah. Musa mungkin adalah orang yang gagap dan sebagai seorang gagap ia mungkin akan sulit menyakinkan Firaun dan bangsa Israel. Namun, jikalau Tuhan mau memakai “kegagapan” Musa, misi Tuhan pun akan tetap dapat berhasil.

Puncaknya, Musa yang terdesak tetap menolak dengan jurus “pokoknya”. Walaupun disampaikan dengan bahasa yang halus, pada intinya Musa tidak bersedia: “Utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.” (4:13). Terhadap penolakan itu, bangkitlah murka Tuhan sehingga Ia memanggil dan menjadikan Harun sebagai juru bicaranya (4:16). Kisah panggilan Musa berakhir dalam bentuk “negatif karena Musa tetap menolak panggilan dan pengutusan Tuhan. Kisah penolakan Musa yang panjang lebar sungguh ironis karena ternyata sangat kontras dengan respons tua-tua Israel yang menerima seruan Musa dengan cepat dan segera mengikutinya (bnd. Kel. 4:29-31).