Di antara peristiwa yang terjadi setelah kebangkitan, kisah ini adalah yang paling menarik. Di sini dicatat bahwa Tuhan masih menampakkan diri kepada murid-murid dengan cara yang lucu. Dia bukan begitu datang langsung mereka bisa mengenali-Nya, tetapi cara Dia menangani percakapan dengan kedua orang itu sungguh indah dan penuh dengan suasana kelembutan. Tuhan yang bangkit, Tuhan yang hidup dan mulia, telah mengalahkan maut dan dosa ini. Dia bergabung di dalam perjalanan kedua orang yang putus asa ini, mereka mengira bahwa Dia telah mati dan selesai, maka Dia berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Bayangkan Dia yang bertanya kepada mereka “Apa yang terjadi?” Dia mendorong mereka untuk berbicara dan mereka pun berkata : “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.” Mereka masih percaya pada-Nya dan mencintai-Nya. Melihat bahwa Dia telah mati, di satu sisi mereka tahu bahwa Dia telah dikalahkan. Tetapi meskipun Dia dikalahkan, mereka masih mengatakan bahwa Dia berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah. Kata-kata mereka belum selesai, berikutnya mereka berkata: Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Inilah sikap mereka, yang menunjukkan dampak salib pada murid-murid Yesus. Salib tidak menghancurkan kasih mereka kepada-Nya, atau menghancurkan iman mereka kepada-Nya, tetapi telah menghancurkan harapan mereka. “Padahal kami dahulu mengharapkan”,  Sepertinya sudah lenyap, sudah berlalu dan menjadi impian belaka! Namun, mereka terus berbicara tentang situasi di mana wanita dan murid menemukan kuburan telah kosong (ayat 22-24). Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak sepenuhnya menyerah.

Di sini kita secara khusus melihat pengaruh kebangkitan dan penampakan Kristus Yesus kepada kedua murid ini, yaitu pengaruh Tuhan yang bangkit (hidup) atas para murid.

Murid Emaus : Awalnya mereka terjebak di dalam kekecewaan bahwa Mesias telah tiada dan harapan pemulihan Israel telah hancur. Ada kecemasan di dalam hati → dari catatan Injil Yohanes bahwa setelah Yesus Kristus mati disalib dan dikuburkan, berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci, ini menunjukkan bahwa mereka dalam keadaan sangat takut. Biasanya setelah pemimpin suatu organisasi ditangkap, para pengikutnya adalah target berikutnya untuk ditangkap. Kapan giliran mereka? Jadi kedua orang itu memutuskan untuk pergi lebih dulu, tetapi pelarian itu tidak menghilangkan rasa takut mereka. Mereka sudah patah hati → harapan menjadi mengecewakan. Karena itu semakin jauh mereka berjalan kecewaan semakin mendalam. Tapi puji syukur kepada Tuhan, ketika Tuhan menampakkan diri dan bercakap- cakap dengan mereka, apa yang mereka katakan sesudahnya? Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”(ayat 32). Dan mereka segera bangkit dan kembali ke Yerusalem dan menyaksikan kebangkitan Kristus kepada murid-murid.

Jika kita melihat pada catatan Alkitab, bukan hanya kedua murid di jalan menuju Emaus ini mengalami perubahan. Alkitab juga mencatat pengalaman banyak orang percaya yang mengalami perubahan semacam itu. Misalnya: 1. Petrus: Meskipun dia pernah beromong besar seenaknya berkata “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Tuhan.” Tapi di hadapan seorang hamba perempuan ia menyangkal Tuhan tiga kali, walaupun setelah itu ia menangis dengan sangat sedih tapi tidak dapat menghapuskan kesalahan dan perasaan malu kepada Tuhan → Puji syukur kepada Tuhan, Yesus Kristus tidak membuatnya gelisah dan bersalah seumur hidup. Dan Ia secara khusus menampakkan diri dan bercakap-cakap dengan Petrus, karena itu bangkitlah semangat Petrus dan bahkan pada akhirnya mati disalib terbalik di Roma bagi Tuhan. 2. Tomas: Dari yang penuh kecurigaan berubah menjadi bermisi dengan keyakinan, ketaatan, dan kesetiaan. 3. Paulus: Dia awalnya adalah seorang yang berusaha keras untuk menganiaya orang Kristen, tetapi setelah Tuhan yang hidup menampakkan diri kepadanya dalam perjalanan di Damsyik, ia berubah menjadi orang yang setia sampai mati. 4. Maria: Awalnya dipenuhi dengan air mata yang sedih dan menangis di depan kuburan. Setelah bertemu dengan Tuhan, ia segera kembali ke Yerusalem dengan gembira untuk mensharingkan dan menyaksikan kebangkitan Tuhan kepada para murid.

Bagaimana kondisi kerohanian kita hari ini? Apa penyebab utamanya? Sudahkah Anda mengalami kebangkitan Kristus? Bagaimana hubungan antara Tuhan yang bangkit dan Anda?