Hits: 0

Pujian Maria ini adalah yang pertama dari 4 buah pujian Injil Lukas. Konteks pujian ini terkait dengan pemberitahuan malaikat Tuhan tentang kehamilan Maria (Luk. 1:26-38). Sesudah pemberitaan tersebut, Maria pun mengunjungi Elisabet, saudaranya yang juga sedang mengandung (Lukas 1:29-56). Dalam kunjungan Maria, beberapa hal yang ajaib terjadi. Saat Maria memberikan salam kepada Elisabet, demi mendengar salam itu, janin dalam kandungan Elisabet pun melonjak dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus. Elisabet memuji Maria, “Diberkatilah Engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? dst.” (Lukas 1:43-45). Pujian Maria adalah respons terhadap perkataan Elisabet ini (Luk. 1:46-55).

Pujian Maria dapat dilihat dalam kaitan dengan dua pujian lain dalam Alkitab: pujian Hana dan Zakharia. Baik pujian Maria maupun Hana (1Sam 2:1-10) sama-sama berhubungan dengan pengalaman kelahiran bayi dan pergumulan seputarnya. Hana memuji Tuhan karena dilepaskan dari aib tidak mempunyai anak dan penganiayaan oleh madunya, Penina, isteri Elkana. Apakah Maria juga mengalami “aib” dan “penderitaan”? Jelas sekali. Kehamilan Maria sesungguhnya merupakan “aib” menurut tradisi orang Yahudi saat itu karena ia mengandung sementara belum menikah (baru bertunangan). Lalu mengapa Maria yang mendapatkan “aib” dapat memuji Tuhan?

Pujian Maria dilandasi oleh tiga hal: Pertama, iman dan pengenalan Maria akan dirinya sendiri dan Tuhan yang dia sembah. Maria menyadari bahwa dia adalah hamba yang harus taat kepada perintah Tuhannya. Maria berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut kehendak-Mu” (Luk. 1:38). Ini menunjukkan pengenalan Maria akan dirinya sendiri.

 Kedua, Maria menjadi sadar dalam pengalaman perjumpaan dengan Elisabet. Maria menunjukkan sikap bersukacita dalam pujiannya. Nada kebahagiaan Maria menunjukkan bahwa Maria telah menyadari adanya kelepasan dan pertolongan dari Allah dalam peristiwa “kehamilan” tidak biasa yang dialaminya sekali pun ia melahirkan. Perubahan sikap ini mungkin diilhami oleh salam Elisabet yang mengatakan: “Diberkatilah Engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? dst” (Lukas 1:43-45). Maria kini menyadari bahwa ia sekarang adalah bagian dari sesuatu yang istimewa bagi Tuhan. Dalam pujiannya, ia menyadari bahwa dirinya adalah perempuan yang “diberkati di antara semua perempuan” (Luk. 1:42). Terbukti, sepanjang zaman semua orang akan menyebut Maria sebagai wanita yang berbahagia (cf. Luk. 1:48b – pujian Maria) karena menjadi ibu dari Mesias Tuhan.

Terakhir, lebih daripada itu, kebahagiaan Maria muncul dari pengenalan akan Tuhan sebagaimana yang diungkapkan dalam pujiannya. Seperti apakah pribadi Allah yang dipercaya Maria itu? Allah adalah Yang Mahakuasa. Ia akan menolong orang-orang yang rendah dan merendahkan orang-orang yang congkak (Luk. 1:51). Walaupun Maria “rendah” menurut pandangan orang-karena ia perempuan yang mengandung sebelum menikah-, namun ia yakin Tuhan akan meninggikannya karena apa yang terjadi padanya adalah perbuatan Tuhan.

Dalam kaitan dengan pujian Zakharia (Luk. 1:67-79), kita dapat melihat Maria sebagai orang yang beriman dan taat, tidak seperti Zakharia yang tidak percaya. Sekali pun sebagai perempuan Maria dipandang rendah dalam masyarakat saat itu, ia diangkat dan diberkati oleh Tuhan (Luk. 1:48). Jikalau pujian Zakharia muncul setelah kelahiran anaknya, Yohanes Pembaptis, pujian Maria sudah diucapkan sebelum Yesus lahir. Pujian Maria ini menunjukan kualitas imannya. Karena itu, Maria dapat menjadi teladan bagi perempuan masa kini dalam hal iman, ketaatan dan pengenalan akan Allah.