Hits: 4

Ayat fokus firman Tuhan hari ini adalah Lukas 7:38: “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!”. Ayat ini menulis ucapan pujian (“diberkatilah”) tentang Yesus. Ucapan ini ditujukan kepada Yesus oleh murid-murid-Nya sementara Ia duduk di atas keledai dan berjalan turun dari bukit Zaitun di luar kota Yerusalem. Siapakah Yesus? Apa makna pujian yang diserukan murid-murid-Nya tentang Dia?

Pertama, Yesus adalah Dia yang akan datang dalam nama Tuhan. Selama ratusan tahun, bangsa Israel telah menantikan sesosok “Dia yang akan datang” yang dijanjikan Tuhan. Bahwa Yesus adalah yang dinantikan dapat dibaca dalam Lukas 7:18-23. Suatu ketika Yohanes Pembaptis sedang dipenjara dan karena mendengar tanda dan mujizat yang dilakukan Yesus, ia mengutus murid-murid menanyakan Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” (Luk 7:18).

Penantian akan “dia yang akan datang” melibatkan emosi yang begitu dalam karena lamanya waktu yang telah dilalui dan karena beratnya penderitaan yang dialami bangsa Israel selama waktu penantian. Lukas mencatat tentang perkataan Simeon saat dia melihat bayi Yesus dibawa ke dalam Bait Suci dan mengenalinya sebagai Dia yang akan datang menggambarkan betapa kuatnya emosi yang terlibat: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu.” Dengan kata lain, Simeon berkata “Sekarang kalau aku harus mati, aku sudah rela.” Emosi berupa sukacita besar adalah karena penantian Simeon dan penantian seluruh bangsa Israel sekarang telah berakhir. Dia yang akan datang kini telah datang.

Kedua, Dia yang akan datang adalah raja. Yesus datang sebagai Raja. Pujian yang dinaikkan para murid tentang Yesus yang laksana raja mengendarai keledai menuju kota Yerusalem menunjukkan bahwa Yesus adalah raja yang dijanjikan. Secara khusus Yesus dikaitkan dengan damai (Luk. 19:38 bdk. 2:15). Yesus adalah Raja Damai.

Ketiga, apa yang dilakukan oleh Yesus Raja Damai? Pujian Simeon juga menyebutkan bahwa Yesus adalah “keselamatan” dari Tuhan (Luk. 2:30). Orang-orang Israel memang menantikan seorang raja yang akan menyelamatkan mereka dalam kehidupan bangsa Israel yang penuh penderitaan terutama karena mereka telah dijajah bangsa asing sejak zaman raja Babel menaklukkan Yerusalem (597 sM) dan memimpin mereka kembali kepada kejayaan seperti saat kerajaan Israel masih bersatu di bawah Raja Daud. Pembebasan yang dilakukan secara politis ini dapat berupa dari pelepasan manusia baik dari kungkungan kehidupan secara fisik baik yang disebabkan oleh sakit penyakit maupun oleh kuasa roh jahat (Luk. 7:32). Tetapi lebih daripada itu, Yesus Raja Damai datang sebagai pendamaian bagi dosa-dosa manusia sehingga oleh karena kematian dan kebangkitan-Nya, orang-orang yang percaya akan dibenarkan di hadapan Allah dan memiliki damai sejahtera di hadapan (pendamaian dengan) Allah (Rm. 5:1). Ini adalah fondasi dari pendamaian dan damai sejahtera yang sejati. Sejak manusia jatuh dalam dosa, damai sejahtera ini telah hilang dari kehidupan karena manusia telah menjadi musuh Allah dan seperti Adam, takut kepada Allah serta melarikan dari hadapan-Nya. Bahkan manusia telah jatuh dalam penghukuman Allah, yaitu maut (Rm. 6:23). Dalam arti ini, ternyata Yesus bukan hanya akan menjadi penyelamatan bagi Israel. Dia juga menjadi harapan bagi semua bangsa. Akibat dosa, kehidupan manusia juga menjadi rusak dan damai sejahtera menjadi hilang karena manusia harus mengalami berbagai penderitaan dan sakit penyakit. Di dalam Kristus dan oleh iman kepada-Nya, damai sejahtera telah dipulihkan. Namun, perwujudannya adalah melalui proses di mana damai sejahtera yang sempurna baru terjadi pada saat kedatangan Yesus kedua kali.

Hari ini adalah minggu keempat Adven. Adven merayakan penantian akan kedatangan Kristus. Dalam masa Adven, selain mengenang mengenai kedatangan pertama Yesus di Bethlehem, kita juga menantikan kedatangan Yesus kedua kali di mana Dia akan mewujudkan damai yang penuh. Selama masa penantian janganlah kita menjadi putus harapan karena berbagai masalah dan penderitaan. Dalam Kristus damai sejahtera sungguh telah tersedia dan terjamin bagi kita. Roh Kudus telah diberikan-Nya kepada kita untuk menolong kita (Yoh. 14:26-27)