Hits: 0

Waktu cepat berlalu, kita pasti senang hari ini bisa berkumpul kembali beribadah kepada Tuhan. Rahmat dan anugerah-Nya selalu melimpah di dalam hidup kita. Dia adalah Allah yang setia dan kasih-Nya tetap tak berubah, walaupun kadang-kadang kita tidak setia kepada-Nya. Seiring berjalannya waktu, kehidupan kita  terus berubah. Berubah lebih baik pasti kita senang, tetapi apakah kita bisa menerima ketika kehidupan kita berubah menjadi buruk? Dalam segala keadaan, apakah kita tetap merasakan kasih setia Tuhan dalam hidup kita?

Mari kita belajar dari kehidupan Ayub.  Dalam Ayub 1:1-22 dicatat, bahwa Ayub adalah orang yang saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia memiliki segala-galanya:  7 anak laki-laki dan 3 anak perempuan, harta kekayaan yang melimpah – tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga Ayub adalah orang  terkaya dari semua orang di sebelah timur. Walaupun Ayub memiliki segala-galanya, ia rendah hati dan hidup dalam kekudusan di hadapan Tuhan.

Tapi cerita selanjutnya memberitahukan kita, bahwa dalam sekejab mata, semua yang dimiliki oleh Ayub lenyap. Tuhan tahu tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (ay.8). Tapi Tuhan mengizinkan penderitaan itu terjadi di atas diri Ayub. Puji syukur kepada Tuhan, Ayub memperlihatkan perjalanan imannya yang luar biasa, kuat, dan tidak goyah dalam menghadapi semua yang terjadi atas dirinya.

Jika kita adalah Ayub, apa yang kita lakukan? Ayat 20 dan 21: “Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”. “Mengoyakkan pakaian” adalah suatu tindakan umum untuk menyatakan kesedihan, penyesalan atas dosanya sendiri maupun dosa orang lain. “Kepala gundul” dianggap sebagai kehinaan dalam kehidupan Israel pada zaman dahulu. “Sujud dan menyembah” menunjukkan sikap kerendahan hati. Tindakan Ayub ini menunjukkan bahwa ia tidak menyalahkan Tuhan dan tetap meyakini pimpinan atau otoritas Tuhan atas hidupnya. Ayub sadar bahwa dia tidak dapat melawan kedaulatan Tuhan atas hidupnya. Ketika badai kehidupan menerjangnya, yang teringat oleh Ayub adalah bagaimana waktu ia dilahirkan ke dunia ini. Ia sadar bahwa semua yang dimilikinya adalah pemberian dan titipan Tuhan. Karena itu, Ayub bisa mengungkapkan satu pernyataan yang luar biasa ini  “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”. Dalam penderitaan Ayub tetap memuji nama TUHAN. Tuhan itu besar dan tetap berkuasa atas hidupnya, hanya Tuhan yang patut diagungkan dan dimuliakan.

Semua yang kita miliki adalah berasal dari Tuhan dan titipan Tuhan, bukan milik kita. Jika Tuhan mengambil apa yang kita miliki, sanggupkah kita berkata seperti Ayub? Mengapa meskipun Ayub mengalami segala musibah itu, ia tidak berbuat dosa dan tidak mempersalahkan Allah? Karena dari awal sudah dikatakan ia adalah seorang saleh, jujur, dan takut akan Tuhan (ay.1). Artinya ia memiliki pengenalan sangat baik akan TUHAN dan hidup bergaul dengan Tuhan. Ayat 5 sangat jelas memperlihatkan hal ini “Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa. Kesungguhan kita mengenal Tuhan akan terlihat jelas melalui perbuatan-perbuatan kita di hadapan Allah.

Kisah kehidupan Ayub mengingatkan: 1. Kita butuh waktu untuk memahami rencana Tuhan yang indah dalam hidup kita. 2. Jangan pernah menyerah dalam menghadapi ujian dalam hidup ini, karena hidup kita ada dalam  otoritas Tuhan. Rancangan Tuhan adalah yang terbaik untuk hidup kita. Hidup kita ini sepenuhnya ada di tangan Tuhan (totalitas kedaulatan Allah atas hidup kita). 3. Dibalik kesulitan hidup, ada kuasa Allah sedang bekerja di dalamnya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Kita hanya perlu taat dan setia kepada-Nya, maka kita akan mengalami kuasa dan kasih Tuhan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.