Hari ini adalah Hari Anak universal dan Minggu Sekolah Minggu gereja kita. Mari kita melihat bagaimana pandangan Allah terhadap anak. Alkitab memberi kesaksian, ketika Allah menciptakan manusia dengan sempurna, maka firman Allah yang pertama kali kepada manusia adalah “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Beranakcucu adalah perintah langsung dari Allah Sang Pencipta. Apa yang diperintahkan Allah tentu baik, itulah sebabnya anak berharga dimata Tuhan, namun anak sering dimanipulasi orang tuanya untuk kepentingan diri sendiri.

Dalam Alkitab ada dua raja Yehuda yang sangat tidak peduli terhadap anak, yaitu raja Ahas dan raja Manasye. Kedua raja ini melakukan apa yang jahat dimata Tuhan. Mereka membangun mezbah-mezbah untuk para Baal di bait Allah, menyesatkan bangsanya untuk melupakan Tuhan, bahkan mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban api kepada dewa. Jika kita melihat 2 Taw 33, hal inilah yang membuat Allah murka sehingga mengizinkan raja Asyur mengempur Yerusalem waktu itu. Ketika raja Manasye ditawan ke Babel, barulah ia sadar dan merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Dalam peringatan hari anak hari ini, kita semua diingatkan kembali, jika tidak memperhatikan anak-anak, firman Tuhan mengatakan: “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut (Mat. 18:6). Ayat ini berlaku untuk semua orang tua, jika anak-anak percaya kepada Tuhan, tapi kita tidak mau mengantar mereka ke Sekolah Minggu, itu berarti kita telah menyesatkan mereka. Juga berlaku untuk guru-guru Sekolah Minggu, harus memberikan firman yang benar kepada anak-anak sehingga mereka tahu siapa Allah yang sebenarnya.

Dahulu orang-orang Yahudi tidak ada Sekolah Minggu tapi adanya yang disebut anak-anak Taurat, yaitu anak laki-laki yang sudah berumur 12 tahun harus diantar ke guru untuk belajar Taurat.  Tapi ada juga yang mengajar anak-anaknya di rumah masing-masing, seperti Timotius diajarkan oleh neneknya Lois dan ibunya Eunike, sehingga Timotius memiliki iman yang tulus ikhlas kepada Tuhan dan akhirnya menjadi hamba Tuhan. Contoh lain adalah Markus yang nama lainnya adalah Yohanes, waktu itu rumahnya sering dipakai untuk beribadah. Ketika itu Markus masih kecil dan sering mendengar apa yang diajarkan, lama lama ia tertarik dan mengikuti Paulus keluar memberitakan Injil, akhirnya Tuhan memakai Markus menulis Injil Markus.

Yusuf adalah seorang ayah yang kaya raya dan sangat memperhatikan anak-anaknya. Walaupun dia sangat kaya tapi dia tahu anak-anaknya hidup bukan tergantung pada kekayaannya melainkan dari  berkat Allah. Karena itu Yusuf membawa kedua anaknya Efraim dan Manasye mendekatkan mereka kepada kakeknya untuk diberkati. Inilah yang harus kita perhatikan bahwa anak-anak adalah milik pusaka dari pada Allah, yang harus kita perhatikan dan didik dengan baik supaya dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.