Hits: 57

      Orang Tionghoa tradisional berpendapat agama Kristen adalah agama yang tidak berbakti pada orang tua. Sebenarnya tidak demikian, karena dalam Alkitab ada perintah untuk menghormati orang tua yang disertai dengan janji (Ef. 6:3; Kel.20:12). Orang yang takut akan Tuhan pasti menghormati orang tua. Hukum yang terutama dalam Alkitab adalah: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul. 6:5; Mrk. 12:28-30). Kunci utama dari ayat-ayat di atas ini adalah kita harus mendidik anak menurut ajaran dan nasihat Tuhan: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu (Ams. 22:6). Mendidik: menunjukkan bimbingan awal dari orang tua kepada anak-anak, misalnya pendidikan dini; Mendidik: di hadapan anak membuka pola hidup masa depannya, bagaikan sebatang pohon kecil bertumbuh besar sesuai arah penunjangnya. “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”(Ef. 6:4). Bagian ini menunjukkan bahwa seorang ayah dalam mendidik anak tidak boleh dengan kasar, tidak adil, pilih kasih atau penyalahgunaan wewenang dll. Pengajaran yang benar harus menuju kepada arah pemahaman, yaitu mendidik dan membesarkan mereka dengan ajaran dan nasihat Tuhan. Hal ini mengaju pada seorang ayah harus menjadi teladan baik. Istilah nasihat ini mengandung arti menempatkan anak dalam hati, dan menunjukkan bahwa kita harus dengan sifat mendidik untuk mengingatkan anak akan perbuatannya yang salah dan mengingatkan mereka akan tanggungjawabnya sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman mereka.
Anak-anak harus bertumbuh dalam situasi penjagaan dan pengendalian. Keseluruhan proses ini harus dibangun di atas kebenaran rohani dan Alkitab. Ini adalah satu-satunya jalan yang paling efektif dan menentukan untuk mendapatkan hasil akhir pendidikan. Dalam sifat kita faktor moral dan spiritual serta intektual memiliki potensi yang sama besar, karena itu pertumbuhan rohani dan pengetahuan sama diperlukan. Amsal berulangkali memberitahukan kita bahwa Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan (Ams. 1:7; 9:10)
Seorang ayah Kristen benar-benar adalah alat di tangan Tuhan. Melalui seorang ayah ajaran dan nasihat Tuhan diberikan kepada anak-anak, ini barulah metode pendidikan yang membawa manfaat bagi anak-anak. Dalam keseluruhan proses pendidikan dan pengajaran, mesti Tuhan yang mengarahkan dan menguasai; otoritas-Nya harus sampai menyentuh ke dalam pikiran, hati dan nurani anak-anak. Seorang ayah seharusnya tidak menganggap dirinya memiliki wewenang terakhir dalam menentukan kebenaran dan tanggungjawab. Hendaklah ia membiarkan Tuhan sebagai pemimpin, segenap hati percaya dan taat pada kehendak Dia di dalam pimpinan-Nya.
Karena seorang memiliki peranan yang sangat penting, maka kita bertanya: Apa kata Alkitab tentang bagaimana menjadi seorang ayah? Kesimpulan dari Ef. 6:4. Membangkitkan amarah artinya membuat orang marah, jengkel dsb. Hal ini disebabkan oleh jalan pikiran dan cara-cara yang salah, misal: keras, tak masuk akal, dan pembatasan yang tidak perlu sehingga wewenang orang tua didasarkan pada egonya sendiri. Membangkitkan kemarahan anak seperti ini akan menyebabkan perilaku pemberontakan dari anak karena anak merasa kalau dia tidak dapat membuat orang tua senang maka untuk apa dia rajin. Orang yang cerdas akan dengan kasih dan kelembutan untuk membuat anak menjadi taat. Orang tua jangan menjadi raja kejam yang tidak bertuhan. Martin Luther mengatakan: “Taruhlah sebuah apel di samping rotan, berikan kepada anak waktu ia berbuat baik.” Kita harus mendidik dan menasihati anak-anak dengan firman Tuhan. Jika perlu berikan anak pengakuan dan dorongan. Inilah kata Alkitab, bagaimana menjadi seorang ayah. Jika ayah menjadi teladan setia maka anak-anak akan belajar semua hal tentang Allah sehingga mereka akan mendapatkan keuntungan seumur hidup. Apa pun yang mereka perbuat atau di mana pun mereka berada, mereka akan belajar: Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan serta taat pada Tuhan dalam segala hal. Ams. 20:7 “Orang benar yang bersih kelakuannya — berbahagialah keturunannya.” Kadang kita hanya perlu mendengarkan bagaimana seorang anak menggambarkan ayahnya, kita sudah tahu ayahnya seperti apa. Tingkat penghormatan anak kepada orang tua, dapat dilihat seberapa banyak orang tua layak dihormati. Salah satu dari Sepuluh Hukum Allah adalah perintah untuk menghormati orang tua (Kel. 20:12). Tapi ada berapa banyak orang tua yang menjalani pola hidup yang membuat ia layak dihormati?
Sungguh tidak dapat dibayangkan, adakah hal yang lebih menyedihkan daripada kehilangan penghormatan anak terhadap kita? Jika anak saya karena saya merasa malu, saya akan menjadi orang yang paling memalukan. Namun, saya akan sangat senang jika anak saya dengan bangga menghadap pada sekelompok orang menunjuk kepadaku mengatakan: Itu ayahku!
Bapa-bapa, jangan lupa, dalam masyarakat sekarang yang bobrok moral dan spiritual ini, anak-anak membutuhkan bimbingan dan perhatian kasih orang tua lebih dari era manapun. Kiranya melalui kekuatan dan hikmat pertolongan dari Tuhan, engkau dapat bertekad menjadi ayah yang dibanggakan oleh anak-anak, sehingga ia dapat dengan bangga menunjuk kepadamu berkata kepada teman-temannya: “Itu ayahku!”