Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Atau dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari diterjemahkan sebagai “Berbahagialah orang yang mengasihani orang lain; Allah akan mengasihani mereka juga!”

Kata “murah hati/ belas kasihan” dalam Alkitab sering dipakai untuk mengekspresikan hati yang penuh belas kasihan terhadap orang yang menghadapi bencana, kemiskinan, penyakit, buta, tuli, kusta, dll., tetapi tidak sekedar menunjukkan perhatian, lebih daripada itu ada tindakan aktif/nyata, dengan memberikan bantuan kepada orang, seperti yang Yesus Kristus lakukan.

Sangat disayangkan bahwa ada banyak orang yang disebut dermawan dalam sejarah masyarakat, meskipun mereka berbuat amal, tapi bukan karena belas kasihan, tapi mereka menggunakannya untuk mempromosikan diri dan produk mereka sendiri, bukan semata-mata karena belas kasihan!

Contoh yang paling nyata dan konkret perbuatan baik yang murni karena belas kasihan di dalam Alkitab: yaitu perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati dari Yesus di Lukas 10:30-37. Pada awalnya, meskipun ada yang disebut pemimpin agama, pendeta dan imam yang lewat dan melihat orang yang terluka berat ini, mereka mungkin menggelengkan kepala dan bahkan mungkin mengatakan sesuatu atau di dalam hatinya berkata: kasihan sekali orang ini, juga mereka mungkin tambahkan beberapa kata lagi tapi lalu pergi. Tetapi tidak demikian orang Samaria dalam perumpamaan ini. “Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kau belanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali” (Luk. 10:33-35). Ini adalah belas kasihan dan kemurahan sejati, ia tidak hanya memiliki hati tetapi juga ada tindakan nyata.

Tetapi Yesus Kristus juga menceritakan perumpamaan lain yang adalah kebalikannya di Matius 18:23-35: Ada seorang hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta kepada tuannya. Awalnya tuan itu menginginkan dia untuk menjual istri dan anak-anaknya dan semua hartanya untuk membayar hutangnya, tetapi karena hamba itu sujud memohon belas kasihan. Lalu tergeraklah hati tuan itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika dia dengan hati senang keluar, dia bertemu dengan seorang rekan yang berhutang seratus dinar kepadanya. Tapi dia segera menangkap dan mencekiknya serta memintanya untuk segera membayar hutangnya. Meskipun rekannya berusaha memohon supaya ia bersabar dahulu dan hutangnya akan dilunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan rekannya itu ke dalam penjara. Melihat ini rekan-rekannya yang lain sangat kesal dan menyampaikan kepada tuannya. Sebagai akibatnya, tuan itu sangat marah dan hamba itu ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara, sampai dia melunasi semua hutangnya.

Jika kita melihat Yesus Kristus dalam menggenapi karya agung keselamatan-Nya, juga menunjukkan kepada kita akan belas kasihan-Nya yang ajaib. Kemurahan Tuhan yang diberikan sejak Ia memilih bangsa Israel sampai saat ini, ribuan tahun mereka degil dan membangkang. Tuhan tetap berulang kali menggunakan segala jenis belas kasihan untuk menunggu Israel segera bertobat dan kembali kepada-Nya. Tapi bagaimana sampai hari ini?

Dan lihatlah apakah kita lebih baik daripada orang Israel? Bagaimana respon kita terhadap Dia yang telah berkorban untuk kita? Apakah kita menjalani kehidupan yang berkenan kepada-Nya?

Berapa kali kita telah mendengarkan Amanat Agung dan bagaimana respon kita? Kenapa? Dikatakan di sini: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan”. Apakah kita bermurah hati kepada orang-orang di sekitar kita? Atau apakah kita sendiri juga tidak terlalu percaya pada kehidupan kekal dan kematian kekal? Atau yang lebih mengkhawatirkan adalah kita sendiri belum mengalami belas kasihan Allah? Bahkan kita masih di luar keselamatan. Tidak hanya dalam hal  pemberitaan Injil, tapi jika ditanya lebih lanjut, apakah kita memuaskan hati Tuhan dalam hal menjalankan Firman Tuhan, sudah sampai tahap bagaimana ?

Dalam perjamuan kudus hari ini biarlah kita mengintropeksi diri baik-baik! Sudahkah saya mendapatkan bahagia bermurah hati (berbelas kasihan) ini?