Bagian firman Tuhan di atas menceritakan bahwa anak perempuan Yakub yang bernama Dina ditangkap dan diperkosa oleh Sikhem,  anak Hemor. Mendengar nama Sikhem tentu kita masih ingat peristiwa pertemuan Esau dan Yakub. Setelah mereka bertemu dan  berbaikan kembali, Esau pun mengajak Yakub berjalan bersama-sama ke tempatnya, tapi Yakub tidak mau. Esau bahkan menawarkan supaya Yakub ditemani oleh pengiringnya, tapi Yakub tetap menolak. Alkitab memberitahukan kita bahwa dari Padan-Aram sampailah Yakub dengan selamat ke Sikhem, di tanah Kanaan, lalu ia berkemah di sebelah timur kota itu (33:18). Seandainya Yakub bersedia berjalan bersama Esau ketempatnya atau bersedia menerima tawaran Esau, kemungkinan ceritanya akan berbeda. Tapi hari ini kita melihat bahwa Dina anak Yakub ditangkap dan diperkosa oleh Sikhem. Apakah tindakan dari keluarga Yakub dan keluarga Hemor setelah terjadi peristiwa yang memalukan ini?

Tindakan dari keluarga Hemor: Setelah memperkosa Dina akhirnya Sikhem tertarik dan jatuh cinta kepada Dina. Karena itu, Sikhem meminta kepada ayahnya supaya mau mengambil Dina untuk menjadi istrinya. Maka Hemor datang kepada Yakub hendak berunding dengan dia. Dari tindakan Hemor dan Sikhem menunjukkan bahwa mereka ingin bertanggungjawab dan memulihkan hubungan yang lebih baik akibat dosa dan kesalahan yang telah dilakukan oleh Sikhem. Maka Sikhem berkata  kepada ayah anak itu dan kakak-kakaknya: “Biarlah kiranya aku mendapat kasihmu, aku akan memberikan kepadamu apa yang kamu minta; walaupun kamu bebankan kepadaku uang jujuran dan uang mahar seberapa banyak pun, aku akan memberikan apa yang kamu minta; tetapi berilah gadis itu kepadaku menjadi isteriku (ayat 11-12).” Tema kita “Bijaksana dalam Bertindak”. Apa yang seharusnya dilakukan oleh keluarga Hemor dan Keluarga Yakub? Keluarga yang satu menjadi pelaku kejahatan, sedang keluarga yang lain menjadi korban. Tindakan keluarga Hemor kelihatannya baik, namun kesalahan yang dilakukan oleh Sikhem terlalu besar dan berat. Penebusan dosa yang dilakukannya tidak sebanding dengan perbuatan dosa yang dilakukannya. Dosa yang diperbuat oleh Sikhem tidak bisa digantikan dengan harta benda atau apapun. Namun hal positifnya adalah bahwa Sikhem berani bertanggungjawab dan mau menyelesaikan masalah ini.

Tindakan dari keluarga Yakub: Anak-anak Yakub dengan tipu muslihat menerima permintaan  Hemor dengan syarat  setiap laki-laki orang Hemor harus disunat (ayat 15). Apa yang mereka lakukan?  : “Pada hari ketiga, ketika mereka sedang menderita kesakitan, datanglah dua orang anak Yakub, yaitu Simeon dan Lewi, kakak-kakak Dina, setelah masing-masing mengambil pedangnya, menyerang kota itu dengan tidak takut-takut serta membunuh setiap laki-laki. Juga Hemor dan Sikhem, anaknya, dibunuh mereka dengan mata pedang, dan mereka mengambil Dina dari rumah Sikhem, lalu pergi” (ay. 25-26.) Bukan hanya itu saja yang dilakukan oleh anak-anak Yakub, mereka juga merampas, menjarah dan mengambil segala kekayaan mereka serta semua anak dan perempuan ditawan. Tindakan yang dilakukan oleh anak-anak Yakub ini sungguh mengerikan. Karena itu sangat memilukan hati Yakub: “Kamu telah mencelakakan aku dengan membusukkan namaku kepada penduduk negeri ini, kepada orang Kanaan dan orang Feris, padahal kita ini hanya sedikit jumlahnya; apabila mereka bersekutu melawan kita, tentulah mereka akan memukul kita kalah, dan kita akan dipunahkan, aku beserta seisi rumahku.”

Sikhem telah berbuat noda di antara orang Israel dengan memperkosa anak perempuan Yakub, sebab yang demikian itu tidak patut dilakukan. Maka tidak mengherankan mereka sangat marah dan melakukan tipu muslihat untuk membalasnya. Tetapi tindakan mereka terlalu kejam dengan membunuh seluruh laki-laki, menjarah seluruh harta kekayaan dan menawan semua anak dan perempuan.

Bagaimana seharusnya tindakan kita hari ini jika kita disakiti, dijahati, dihina, dan dipermalukan? Tuhan Yesus berkata: Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu….(Mat. 5:38-39)  Paulus menasihati: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! (Rm. 12:17-18). Pembalasan itu adalah hak Tuhan. Oleh sebab itu, apapun yang terjadi dalam hidup kita: disakiti, dijahati dan dibenci, marilah kita selalu bersandar kepada Tuhan dan berusaha supaya tindakan-tindakan kita bijaksana, sehingga kita akan mengalami kebahagiaan dan kedamaian. Tuhan memberkati kita. Amin.