Cerita tentang kehidupan Ayub tentu sudah tidak asing bagi kita hari ini. Ayub pasal 1 adalah kisah tentang kehidupan ayub yang dimulai dengan kata-kata bahwa Ayub adalah orang yag saleh dan jujur;  takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Hidup Ayub diberkati Tuhan dengan harta kekayaan yang melimpah dan tujuh anak laki-laki serta tiga anak perempuan.  Tetapi dalam sekejap saja, ia kehilangan semuanya, termasuk semua anak laki-laki dan perempuan. Dalam keadaan demikian apakah Ayub sanggup tetap mengasihi Tuhan? Diakhir pasal pertama ini Ayub mengucapkan satu kalimat yang luar biasa: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. Keteladanan apa yang bisa dipelajari dari kehidupan Ayub sebagai seorang ayah dan seorang suami dalam keluarga?

Pertama, Hidup  saleh dan jujur; takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Sikap ini sangat jelas dinyatakan melalui kehidupan Ayub. Sehingga TUHAN bertanya kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Kemudian jawab Iblis kepada TUHAN: “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? (ay. 8-9). Seperti yang kita tahu, dalam sekejap mata semua milik Ayub lenyap, tapi Ayub tetap memperlihatkan dirinya takut akan TUHAN, ia tidak berbuat dosa dan tidak mempersalahkan Allah. Takut akan Allah dan menjauhi kejahatan juga diperlihatkan Ayub ketika anak-anaknya selesai berpesta, Ayub selalu memanggil dan menguduskan mereka, karena ia takut anak-anaknya berbuat dosa kepada TUHAN.  Sikap Ayub dalam menghadapi istrinya yang menyuruh ia mengutuki TUHAN karena semua musibah yang dialaminya itu, juga menunjukkan ia tetap takut akan Tuhan dan tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Kedua, Tuhan di atas segala-galanya.  Di dalam kehidupan  Ayub , ia selalu menempatkan  Tuhan di atas segala-galanya. Ayub mengatakan bahwa “dengan telanjang ia keluar dari kandungan ibu, dengan telanjang juga ia akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN”. Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Pernyataan ini sungguh luar biasa dan menunjukkan bahwa Ayub  menempatkan TUHAN di atas segala-galanya. Ia sungguh mengenal siapa TUHAN dan bisa bersyukur dalam segala hal.

Ketiga, Ayub Mengasihi istri dan anak-anaknya (keluarga). Ayub mempunyai keluarga yang bahagia, dan sangat memperhatikan kehidupan anak-anaknya. Setiap kali, sehabis anak-anaknya berpesta Ayub selalu memanggil mereka dan menguduskan mereka; lalu bangun pagi-pagi dan mempersembahkan korban untuk tiap-tiap anaknya supaya mereka diampuni TUHAN. Sebab Ayub berpikir, mungkin anak-anaknya itu sudah berdosa dan menghina Allah tanpa sengaja. Terhadap istrinya yang mau ia mengutuki Allah karena segala musibah itu, ia juga memperingatkannya, masakan kita hanya mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Ayub telah menjalankan perannya sebagai imam keluarga. Ia adalah seorang ayah yang mengasihi keluarga, istri dan anak-anaknya serta selalu berdoa untuk kehidupan anak-anaknya.

Persoalan dalam keluarga ini hanya tidak ada pertumbuhan rohani yang seimbang. Ayub memiliki kerohanian yang baik, tapi anak-anak dan istrinya tidak demikian. Dan dari tindakan  Ayub memanggil dan menguduskan anak-anaknya serta nasihat kepada istrinya jelaslah bahwa Ayub berusaha untuk membawa seluruh keluarganya takut akan Tuhan. Tentu saja, sebagai imam keluarga kita tidak hanya dituntut memiliki hidup yang baik di hadapan Tuhan, tapi juga harus membawa seluruh anggota keluarga dekat kepada Tuhan dan takut akan Tuhan. Seperti yang pernyataan Yosua : Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15b)

Bagaimana kehidupan keluarga kita hari ini? Kiranya Tuhan memberkati kita. Amin.