Amsal 14:30 mencatat “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan

tulang.” adalah menekankan iri hati membawa kerusakan dalam kehidupan kita. Ketika seseorang iri hati kepada orang lain, jika tidak diselesaikan dengan baik akan membawa akhir yang tidak baik. Seperti contoh nas Alkitab yang akan kita renungkan hari ini, yaitu saudara-saudara Yusuf iri hati kepadanya dan ingin membunuhnya, tetapi akhirnya menjualnya kepada Ismael dan membawanya ke Mesir. Melalui kisah cerita ini kita sama-sama dapat belajar mengapa saudara-saudaranya iri hati kepada Yusuf, dan kita juga mencari solusi dalam menyelesaikan iri hati.

Kejadian pasal 37 memberitahukan kita ada beberapa alasan saudara-saudaranya iri hati kepada Yusuf. Pertama, Yusuf melaporkan kejahatan saudara-saudaranya kepada Yakub; jika apa yang dilakukan Yusuf ada maksud yang tidak baik itu adalah pasti sebuah kesalahan, tetapi jika dengan maksud yang baik seharusnya tidak menjadi masalah. Kedua, Yakub lebih mengasihi Yusuf daripada saudara-saudaranya : “Bagaimana sikap seorang ayah demikian juga sikap anaknya” kalimat ini sungguh terjadi dalam keluarga Yakub. Bagaimana Yakub menerima sikap pilih kasih dari orangtuanya, dia juga memperlakukan yang sama terhadap anak-anaknya. Ketiga, Yakub bahkan memberikan Yusuf sebuah jubah maha indah; itu bukan jubah biasa tetapi jubah yang mahal. Keempat, Yusuf bermimpi dua hal yang berhubungan dengan kedua orangtuanya dan saudara-saudaranya akan sujud menyembah kepadanya. Terakhir, Yakub mendengarkan semua ini tidak melakukan apapun sebaliknya menyimpan hal itu dalam hatinya. Inilah alasan yang membuat saudara-saudaranya semakin tidak menyukai Yusuf bahkan ingin membunuhnya.

Akhir cerita ini kita tidak melihat bagaimana saudara-saudaranya menyelesaikan masalah iri hati ini sampai akhirnya bertemu Yusuf di Mesir. Mereka menunggu waktu begitu lama baru dapat melepaskannya. Seperti sebuah artikel memberitahukan kepada kita akibat dari iri hati : hubungan antar manusia semakin renggang, dapat merusak hati manusia, menutupi kebaikan manusia, membuat manusia tidak bisa bersyukur dan membuat tekanan manusia semakin besar. Dari sini kita dapat melihat jika ada iri hati harus segera diselesaikan. Dalam berbagai hal kita dapat iri hati terhadap orang lain bahkan dalam kehidupan rohani kita juga dapat iri hati kepada orang lain. Ketika kita menyelesaikan masalah ini, kita harus bersandar berdoa kepada Tuhan, berdoa bagi orang yang kita merasa iri hati. Kemudian, kita harus mengenal, menyadari dan mengakui hati iri hati kita di hadapan Tuhan karena di dalam kasih-Nya tidak ada tempat untuk iri hati.