Sudah sampai pada batas yang luar biasa orang-orang di zaman Nuh, berbuat dosa dan menjalankan hidup yang rusak, tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. Nuh adalah seorang yang benar dan hidup bergaul dengan Allah. Ini yang patut kita teladani.

  1. Nuh menjalani hidup kudus. Dalam era apapun dan di lingkungan yang bagaimanapun, setiap orang harus menghadapi dunia yang jahat ini, karena semua orang telah berbuat dosa. Tapi di tengah dunia yang penuh dosa ini, Nuh bisa menjadi seorang yang benar dan hidup kudus, ini benar-benar langka dan berharga. Alkitab berkata: Nuh seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya dan memiliki kesaksian hidup yang baik. Seorang Kristen di lingkungan yang paling keras, dapat berdiri teguh, memiliki kesaksian hidup  yang lebih baik, ini barulah orang  Kristen yang berhasil.

2.Nuh percaya janji-janji Allah dan memiliki hati yang taat. 1Ptr. 3:20 “ yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.” Dalam huruf Mandarin “kapal” itu terbentuk dari kata perahu dan delapan jiwa. Nuh membuat bahtera, mereka sekeluarga delapan orang masuk ke dalam bahtera dan diselamatkan. Karena orang-orang di zaman itu jahat, mereka tidak percaya kepada Allah dan apa pun yang dilakukannya adalah berpusat kepada diri sendiri. Tapi Nuh  percaya maka atas petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan — dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya(Ibr. 11:7a). Jelaslah bahwa Nuh memiliki iman yang luar biasa. Waktu tidak ada hujan, hanya ada embun pagi, tapi Nuh yakin bahwa Allah akan menurunkan air bah untuk memusnahkan orang-orang  di zaman itu, sehingga ia membangun sebuah bahtera  di atas pegunungan.  Setelah 120 tahun barulah bahtera selesai dibuat, bisa dibayangkan dalam waktu 120 tahun orang-orang itu pasti memandang Nuh seperti orang gila. Tapi Nuh tidak peduli, ia membuat bahtera sambil menyampaikan apa yang akan terjadi. Walaupun tidak ada yang mau percaya, tapi Nuh tetap percaya bahwa apa yang dikatakan Tuhan pasti terjadi. Iman itu tidak memandang orang, keadaan dan pengalaman tapi menurut kekuasaan dan kesetiaan Allah. Hanya Nuh yang dapat memperoleh janji-janji  Allah karena ia percaya kepada Allah dengan sepenuh hati.

Dalam Alkitab ada ribuan janji-janji Allah, karena itu kita harus percaya akan firman Tuhan dan berpegang pada janji-janji-Nya. Semua orang yang takut akan Tuhan memiliki satu kelebihan yaitu menaati firman Tuhan dengan sepenuh hati. Ini adalah arti sebenarnya dari hidup bergaul dengan Allah. Meskipun Nuh tidak disambut oleh orang-orang dan disalahpahami, tapi karena memiliki hati yang taat kepada Tuhan Nuh tetap melakukan  apa yang diperintahkan Tuhan. Ia membuat sebuah bahtera untuk antisipasi datangnya air bah. Hidup bergaul dengan Tuhan bukan hanya berdoa, membaca Allkitab, tapi dapat  melihat apa misi Tuhan bagi dia di dalam zamannya dan berani membayar harga untuk menggenapi misi tersebut. Percaya berarti mau taat, seperti Nuh benar-benar taat pada perintah Tuhan (Kej. 7:2-5).

  1. Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Dalam Alkitab orang pertama yang disebut mendapat kasih karunia adalah Nuh. Hanya Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan (Kej. 6:8). Kita melihat satu prinsip di dalam Alkitab bahwa Tuhan mengutamakan kita lebih daripada apa yang kita lakukan. Setelah kita menjadi orang yang mendapat kasih karunia di hadapan Tuhan, barulah apa yang kita lakukan dikenang oleh Tuhan. Kalau tidak, semua yang kita lakukan adalah sia-sia. Gambaran persembahan korban Habel dan Kain adalah contoh yang sangat jelas. Diri kita ini harus terlebih dahulu dimiliki dan dipercayai oleh Tuhan, setelah itu barulah pengetahuan, talenta, kemampuan dan bakat kita dapat dipakai oleh Tuhan. Jika kita tidak menyelesaikan hal-hal spiritual kita yang berhubungan dengan Tuhan, ini menunjukkan bahwa pribadi kita ini masih belum mendapat kasih karunia, maka apa yang kita berikan akan menjadi sia-sia dan tidak berkenan dihati Tuhan. Jadi antara kita dengan Tuhan tidak boleh ada hambatan apapun, barulah apa yang kita berikan dapat menjadi korban persembahan yang harum.

Nuh adalah orang yang mendapat kasih karunia, sehingga persembahan korbannya berkenan dihati Tuhan. Kita dapat melihat janji-janji Allah kepada orang benar sangat nyata. Allah berkata kepada Nuh bahwa tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi. Maka Kutaruh pelangi-Ku di awan sebagai tanda perjanjian-Ku dengan dunia. Dalam Kej. 9:1 Janji Allah kepada Nuh : “ Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya, serta berfirman kepada mereka “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.” Kiranya kita dapat meneladani Nuh, memiliki hati yang takut akan Tuhan, menjalankan hidup kudus, ada kesaksian hidup yang baik, taat pada perintah Tuhan dan iman yang nyata dalam perbuatan, sehingga dapat menerima janji-janji Tuhan yang berharga dan hidup memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama.