Allah yang kita percayai adalah Allah yang berpegang pada perjanjian, Dia tidak pernah mengingkari janji-Nya kepada kita. Seperti janji Allah kepada Abraham, melalui beberapa kali kesempatan Ia terus memastikan akan janji-janji-Nya. Janji yang terbesar adalah Allah akan memberikan keturunan kepada Abraham; meskipun Abraham tidak tahu tentang waktunya, tapi Allah menghendaki agar Abraham senantiasa mendengarkan perintah-Nya dan percaya akan janji-janji-Nya. Akhirnya, kita bisa melihat Abraham dengan setia menunggu janji Allah karena janji-janji Allah tidak pernah berubah.

Dalam Kejadian 18:1-15, Allah menegaskan kembali janji-Nya kepada Abraham. Di dalam pasal 17 Allah juga menegaskan kembali janji-Nya kepada Abraham, dan meminta Abraham harus disunat sebagai respon yang  konkret, namun reaksi Abraham berbeda di dalam dua pasal ini. Pasal 17 memberitahukan kita bahwa Abraham tidak percaya dan tertawa ketika mendengar Allah sekali lagi memastikan akan janji-Nya dan ia tetap mengusulkan Ismael. Allah tetap mengatakan bahwa keturunannya akan dilahirkan oleh Sara dan sudah ada waktu yang jelas, yakni tahun depan ia akan melahirkan. Karena waktunya sudah sangat jelas maka Abraham menjadi sangat yakin.

Dalam bagian firman Tuhan hari ini kita melihat ada tiga orang tamu datang ke tempat Abraham dan ia pun menyambut mereka dengan cara terbaik. Walaupun ia tidak tahu salah satu di antaranya adalah Allah, tapi Abraham tetap menyambut mereka dengan baik. Sampai waktu mereka berbicara tentang janji Allah, yakin bahwa baru tahu mereka ini bukan orang biasa. Respon Sara ketika mendengar janji Allah adalah tertawa dalam hati seperti Abraham di pasal 17, tapi akhirnya ia tetap dengan ketakutan mengakui kesalahannya. Karena itu, di dalam pasal 18 kita melihat Abraham dan Sara memiliki respon yang berbeda ketika mendengar janji Allah.

Respon Abraham adalah mewakili imannya kepada Allah. Ia telah melihat sisa waktu yang satu tahun itu, sehingga di dalam kehidupan sehari-hari  terlihat sikap seperti itu juga. Jika ia tahu bahwa salah satu di antara ketiga orang itu adalah Allah,  tentu saja ia akan menyambut Dia dengan sikap yang baik. Abraham berlaku baik kepada semua orang, ia menyambut tamu seolah-olah menyambut Allah, karena ia tahu bahwa janji-janji Allah tidak pernah berubah.

Dalam kehidupan kita, Allah telah memberikan kita janji dan menggenapi janji-Nya, bagaimana kita meresponi? Dia adalah Allah yang tidak pernah mengingkari janji-janji-Nya. Dia mau kita senantiasa menaati dan setia mengikuti-Nya. Karena itu, menyambut Allah dengan hati yang bersukacita adalah awal Allah menggenapi janji-Nya kepada kita.