“Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka” (Kej. 33:4). Inilah adalah adegan dua puluh tahun kemudian setelah Yakub meninggalkan rumah dan pergi ke rumah pamannya Laban untuk berlindung, karena ia telah menipu ayahnya Ishak dan kakaknya Esau. TUHAN jelas berfirman kepada Yakub: “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau.” (Kej. 31:3) dan pasal 33 adalah catatan tentang adegan reuni kedua bersaudara ini.

Begitu Esau melihat Yakub, ia segera berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia. Aksi mesra ini sungguh seperti seorang ayah berlari mendapatkan anaknya yang hilang (Luk. 15:20 “Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.) Ini melambangkan kasih dan pengampunan Allah terpancar melalui Esau kepada Yakub.

Jelaslah bahwa kejadian sudah lewat dua puluh tahun dan Esau sungguh telah menghapus penipuan yang dilakukan Yakub terhadap dia dari pikirannya. Karena itu, begitu ia tahu bahwa adiknya yang sudah berpisah dua puluh tahun akan kembali, ia segera membawa empat ratus orang maju untuk menyambut, tetapi hal ini menimbulkan kecemasan Yakub, apakah Esau datang dengan empat ratus orang untuk membalas dendam?

Pada saat ini si Yakub yang lama telah muncul, ia segera mengatur strategis agar keluarganya terhindar dari pemusnahan. Ayat 2 dan 3 “Ia menempatkan budak-budak perempuan itu beserta anak-anak mereka di muka, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali. Dan ia sendiri berjalan di depan mereka.” Dan Yakub menyuruh utusannya berjalan lebih dahulu untuk memberikan kumpulan lembu sapi, keledai, kambing domba, unta dll sebagai hadiah pertemuan untuk melunakkan kebencian kakaknya dulu. Tapi adegan saat pertemuan saudara ini sungguh diluar dugaan Yakub. “Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka”. Semua yang direncanakan Yakub menjadi sia-sia dan semua yang ditakutkan sebelumnya juga percuma dan tidak perlu ada. Ini semua karena ketakutan dan kesesakan hati Yakub sebelumnya (Kej. 32:7), sekarang terbukti semua itu tidak berguna; Banyak dari kita yang depresi, sedih, ragu, kuatir, dan takut, semua adalah karena kurang mengenal Tuhan yang setia.

Mengalami situasi seperti ini membuat Yakub tidak dapat menahan diri lalu berpelukan dengan kakaknya dalam tangisan. Tangisan Esau, mungkin karena teringat rencana jahatnya terhadap saudara, karena malu maka menangis; sedangkan tangisan Yakub, pasti karena sangat gembira, karena ia sama sekali tidak menduga Allah sedemikian rupa membuat Esau berubah.

Semua rencana dan pengaturan Yakub adalah sia-sia. Memang asal kita mau dalam segala hal berserah total kepada Tuhan, maka kita akan melihat bagaimana Ia membuka jalan bagi kita.

Pada dasarnya Yakub adalah orang yang selalu ada cara, (bisa dikatakan licik), orang yang tidak mudah meneteskan air mata, tidak ada catatan tentang airmatanya dengan semua yang dialaminya di rumah Laban selama 20 tahun. Sekarang ia melihat kakaknya dan menangis, hal ini menunjukkan bahwa pengalaman di Pnil telah mengubah Yakub menjadi seorang yang lembut, ia sudah sadar bahwa dirinya hanyalah seorang manusia. Secara khusus, malaikat Tuhan hanya menyentuh pahanya, semua kekuatannya telah hilang. Jadi dia yang terlebih dahulu dengan cara yang sangat merendahkan diri untuk bertemu dengan kakaknya. Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu (ayat 3). Hal ini juga menunjukkan bahwa perilakunya ini telah mulai menyentuh hati Esau, membuat Esau melihat dia yang selama ini adalah seorang adik yang berhasrat besar untuk menang, dalam segala hal ingin melebihi orang lain dan licik tiba-tiba berubah menjadi begitu rendah hati, hal ini membuat Esau harus tersentuh, bahkan yang tadinya masih ada tersisa kebencian itu pun benar-benar terhapus bersih semua. Hal ini menunjukkan sebelum perubahan Esau, karena Yakub sendiri telah berubah terlebih dahulu (lht.ayat 2-3). Jelaslah bahwa apabila orang ingin mengatasi kebencian, mengubah lawan, pertama-tama harus mengubah diri sendiri, dan melembutkan diri sendiri.

Hal ini juga menunjukkan hubungan kita dengan Tuhan, akan memperngaruhi hubungan kita dengan orang lain, di sini lain hubungan kita dengan orang lain, juga akan mencerminkan dan mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan.

Kata Esau: “Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu.” (ayat 9). Ini adalah  perkataan yang sangat menyentuh hati, perkataan yang penuh kelembutan dan kasih yang tidak dikatakan dan didengarkan lebih dari dua puluh tahun, juga karena ini belenggu hati dan kebencian juga telah sirna dan lenyap seketika.