Hits: 26

Kita sungguh bersyukur kepada Tuhan karena dapat merayakan Hari Papa melalui ibadah online di tengah pandemi ini. Kiranya kita terbentuk melalui firman Tuhan yang akan kita renungkan hari ini. Tema yang akan kita renungkan hari ini adalah “Konsisten”, kata ini berarti tegas dan tidak berubah, perkataan dan perbuatannya sepadan. Karena itu, semoga melalui tema hari ini, kita dapat menjadi seorang ayah yang “Konsisten” dan menjadi berkat bagi keluarga.

Bagian firman Tuhan yang akan kita renungkan diambil dari bagaimana Raja Salomo menunjukkan dalam kitab Amsal bahwa kehidupan saleh dipelajari melalui pengajaran dan teladan. Ajaran utama bukanlah di bait suci (sekarang gereja) tetapi kembali ke rumah kepada orang tua bagaimana cara mendidik anak-anak untuk takut akan Tuhan. Saat merayakan Hari Papa, marilah kita menjadi ayah belajar bagaimana menjadi ayah yang konsisten sehingga kita dapat mendidik anak-anak kita dengan baik.

Pertama-tama, kita harus konsisten dalam langkah kehidupan kita. ayat 14 memberi tahu kita : “ Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat.”

 Orang fasik acuh tak acuh terhadap perintah Allah dan meskipun mereka mengatakan percaya pada Tuhan, mereka tidak menjalankan perintah-Nya.

Selanjutnya, kita harus konsisten dalam perkataan. Ayat 24 mencatat: “Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu.” Mulut serong artinya  tidak boleh mengatakan perkataan yang tidak benar, tetapi harus berkata jujur. Penting untuk dicatat bahwa sebagai seorang ayah, tidak boleh mengucapkan kata-kata yang membingungkan;  harus bertanggung jawab atas perkataan sendiri.

Terakhir, harus konsisten dalam hati kita. Bagian yang sangat penting dalam ayat 23  “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Siapa kita itu kembali ke hati kita karena hati adalah sumber kemauan dan keputusan. Ketika kita ingin menjadi ayah yang tidak berubah dan konsisten, kita harus kembali kepada Tuhan yang tidak akan pernah berubah karena kita semua lemah. Ini tidak terpisahkan dari harus membangun hubungan yang baik dengan Tuhan!

Kita semua berharap anak-anak akan tumbuh dewasa dan memuliakan Tuhan. Namun, kita harus konsisten dalam perkataan dan perbutan kita, dan jangan biarkan mereka merasa bahwa kita ini adalah orang yang lain dimulut lain dihati.  Semoga kita mengatakan kepada mereka dengan tulus, “Lakukan apa yang aku lakukan”, bukan “Lakukan apa yang aku katakan“. Untuk itu, teladanilah Allah yang konsisten maka hidup kita pun akan menjadi teladan yang konsisten bagi anak-anak kita. Selamat Hari Papa, Tuhan memberkati dan memakai secara luar biasa  setiap saudara yang menjadi ayah!