Tema renungan kita hari ini adalah “Saling Memberkati”. Mengapa kita harus saling memberkati?

  1. Untuk melakukan hukum Kristus. Untuk saling memberkati harus saling mengasihi. Saling mengasihi adalah kehendak dan perintah Tuhan Yesus kepada kita. Yoh. 13:34-35 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Kita dipanggil untuk saling mengasihi dan saling melayani. Saling melayani juga berarti saling memberkati. Karena kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat (Rm. 13:10). Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan (Gal. 5:15). Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut (Gal. 6:1). Orang yang rohani adalah orang yang lembah lembut. Orang yang lemah lembut akan memiliki bumi /warisan (Mat. 5:5). Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati (2kor. 9:10,11). Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya (Ams.3:27).
  2. Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri (Gal. 6:4). Seringkali orang hanya mementingkan kebutuhan diri sendiri, tapi tidak peduli dengan kebutuhan dan masalah orang lain, dan mencari berbagai alasan untuk mengelak. Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Gal. 6:7). Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah (Ibr. 13:16). Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati (Yak. 2:14, 17). Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa (Yak. 4:17)
  3. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai (Gal. 6:9). Petrus juga menasehatkan agar antara orang percaya : “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.” Tuhan Yesus semasa di dunia juga selalu memberkati orang, di dalam empat Injil kita dapat melihat Ia memberkati anak-anak dan menyembuhkan banyak orang sakit, karena itu hendaklah kita meneladani Dia dan saling melayani.