Hari ini banyak orang Kristen mempunyai pengenalan akan salib yang salah, sering menggabungkan antara salib dengan penderitaan. Memikul salib sebenarnya harus menyangkal diri, dan salib itu harus dipikul setiap hari, terlebih lagi harus mengikuti Yesus. Jika kita melihat dari Luk. 9:23 dan Mrk 9:30-37 ada kesamaan di dalam isinya, mengatakan Tuhan Yesus mengutus murid-murid, pada saat ini mengajak kita melihat salib bukanlah penderitaan; tentu saja di dalamnya terdapat bagian penderitaan tetapi salib adalah:

  1. Belajar kebenaran , membayar harga. Salib adalah seperti seorang anak kecil yang tidak henti-hentinya belajar, tidak ada seorang anak kecilpun yang tidak perlu belajar. Bagaimana kita memikul salib setiap hari? Kita harus mengenal Yesus dengan sungguh-sungguh. Di dalam kitab Lukas mengatakan bahwa Herodes tidak mengenal Yesus, tetapi Petrus mengenal Yesus dengan sungguh-sungguh : Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup. Yesus membayar harga yang sangat besar, bahkan mati untuk menyatakan kebenaran, sehingga kebenaran adalah harga yang tak ternilai. Yohanes Pembaptis demi kebenaran dipenggal kepalanya oleh Raja Herodes, mencerminkan bahwa kebenaran itu ada dengan membayar harga. Sehingga jika kita mau belajar akan kebenaran, harus membayar harga, tetapi sering kita berpikir membayar harga itu adalah salib, padahal kita sedang belajar akan kebenaran. Karena kebenaran harus ditukar dengan membayar harga, sehingga membayar harga dengan belajar kebenaran adalah sudah sewajarnya, kita harus memikul salib. Jika kita menganggap salib sebuah pembelajaran, maka kita bersedia memikul salib setiap hari. “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu”. (Mzm 119:71)
  2. Belajar taat, melalui penderitaan. Anak kecil harus belajar bersandar, percaya, dan sepenuhnya taat mendengarkan orang tua. Sebagai orang Kristen harus memikul salib dan menyangkal diri. Ibr 5:8 “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” Tuhan Yesus juga belajar ketaatan melalui penderitaan dan salib. Oleh sebab itu, ketika kita memikul salib menderita kita tidak mengeluh, karena kita tidak hanya mendapatkan kebenaran kita juga masih dapat memahami akan kehendak Allah. Seperti Ayub, ketika dia menderita, dia taat kepada Tuhan dan memuji Tuhan.
  3. Belajar saling mengasihi dan mengampuni. Seperti seorang anak kecil mudah mengasihi, mengampuni, hidup bersama dan berdamai. Kita harus belajar sebuah kalimat Tuhan Yesus di atas kayu salib yang pertama “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk. 23:34). Oleh karena itu memikul salib adalah belajar kebenaran, taat, sabar, saling mengasihi dan mengampuni. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. (Luk. 14:27)