Salah satu unsur yang sangat penting ketika Allah memanggil Abraham menjadi nenek moyang umat pilihan adalah pemberian janji. Awalnya Abraham sangat percaya bahwa janji-janji Allah itu pasti digenapi. Apa janji Allah kepada Abraham? Yang paling terkenal adalah bahwa Abraham akan mempunyai seorang anak yang disebut anak perjanjian, dan ia akan dilahirkan oleh Sara. Tapi setelah 25 tahun menunggu, janji itu belum terwujud, maka Abraham mulai goyah dan curiga apakah janji-janji Allah itu akan menjadi satu kenyataan. Itulah sebabnya dalam Kejadian pasal 17:17 dikatakan tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?”

Iman Abraham mulai tertatih-tatih dan ia mulai mencoba mencari jalan keluar dengan usul kepada Allah supaya Eliezer yang menjadi ahli warisnya, tapi Allah menolak. Iman Abraham makin memudar ketika ia tidak lagi mendengar suara Allah, tetapi mendengarkan suara Sarai agar mengawini Hagar hambanya. Dari perkawinannya dengan Hagar ia mempunyai anak bernama Ismael. Karena itu berkatalah ia kepada Allah, “Sebaiknya Ismael saja yang menjadi ahli waris saya.” (ayat.18). Tetapi Allah dengan tegas berkata, “Tidak. Sara istrimu akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakannya Ishak (ayat 19.) Jelaslah bahwa Ishak yang  akan menjadi ahli waris bukan Ismael dan ahli waris atau anak perjanjian ini akan lahir dari Sara bukan anak kedagingan dari Hagar.

Walaupun Abraham disebut sebagai bapa orang beriman, tapi dia juga adalah manusia berdosa seperti kita. Abraham dipanggil dan dipilih oleh Allah bukan karena dia lebih baik dari orang lain tetapi berdasarkan kehendak dan rencana Allah sendiri. Abraham sendiri juga tidak tahu mengapa dia yang dipilih.

Akhirnya Abraham ditantang oleh Allah. Kalau ingin janji-janji Allah tergenapi maka ada syarat yang harus dilakukan oleh Abraham:  Pertama, harus hidup di hadapan Tuhan dengan tidak bercela atau menaati dan melakukan kehendak-Nya. Kedua, ada bukti nyata yang harus dilakukan sebagai meterai pengesahan perjanjian yakni sunat. Sebagai tanda bahwa mereka adalah umat Allah dan mempercayai Allah dan bahwa Allah akan menggenapi janji-janji-Nya. Tantangan Allah membuat Abraham sadar dan percaya kepada Allah kembali dengan gigih atau sepenuh hati. Pada hari itu juga, Abraham mentaati Allah dan menyunatkan Ismael anaknya, dan semua orang laki-laki dalam rumahnya, termasuk para hamba yang lahir dalam rumahnya maupun yang dibelinya. Mulai ayat 23-27 kita dapat melihat Abraham menaati Firman Allah.

Arti sunat adalah ada bagian dari tubuh manusia yang harus dibuang dan dibatasi dengan darah. Inilah gambaran tentang keselamatan manusia. Dosa yang tadinya terus menempel di dalam hidup manusia, telah dihapuskan/dibersihkan oleh darah Yesus Kristus, sehingga kita dapat menjadi anak-anak perjanjian Allah. Itulah sebabnya di dalam Yes. 1:18 dikatakan: “Marilah, baiklah kita beperkara! — firman TUHAN — Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Inilah janji Allah yang telah digenapi di dalam Yesus Kristus. Dan kita adalah salah satu generasi yang masih hidup yang boleh untuk menyaksikan apa yang dijanjikan oleh Allah kepada Abraham itu terjadi. Tuhan memberkati.