Dalam Perjanjian Lama cerita tentang Yusuf sungguh menarik dan hidup karena kisahnya benar-benar terjadi pada tahun 1700 sebelum masehi. Hidup Yusuf dibagi menjadi 3 masa:

  1. Anak yang paling dikasihi bapa: ia memiliki apa yang tidak dimiliki oleh saudara-saudaranya, jubah yang indah, kehormatan dan kemuliaan. Dia menikmati kasih sayang dari bapa dan ibu yang tidak pernah dinikmati saudara-saudaranya.
  2. Ia dibuang, di jual saudara seharga 20 keping perak sebagai budak.
  3. Ia menjadi juru selamat yang ditinggikan menyediakan makanan/sumber hidup.

Kejadian 40 menyaksikan bagian masa kedua dari kehidupan Yusuf, yakni masa penderitaan. Penderitaan Yusuf diringkas dalam Kejadian 40:15 “ Sebab aku dicuri diculik begitu saja dari negeri orang Ibrani dan di sini pun aku tidak pernah melakukan apa-apa yang menyebabkan aku layak dimasukkan ke dalam liang tutupan ini.” Awal penderitaan Yusuf terjadi ketika ia melakukan perintah bapa Yakub untuk menengok saudara-saudaranya yang menggembalakan kambing domba di padang. Ia disambut saudara-saudara dengan kebencian bahkan sempat untuk membunuhnya. Kemudian ia di jual menjadi budak. Penderitaannya makin berat karena difitnah oleh istri Potifar sehingga  dia dimasukkan penjara. Dalam kejadian 39:6 dikatakan Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya. Semua yang dikerjakan berhasil, dan menjadi berkat bagi orang lain. Ia dapat menjelaskan mimpi juru minum. Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya (40:23).  Inilah sifat dasar manusia, mudah mengingat kejelekan orang daripada kebaikan orang.

Kisah Yusuf tidak hanya merupakan sejarah nyata, tetapi merupakan lambang/ gambaran yang menubuatkan Yesus Kristus. Tuhan Yesus disaksikan Alkitab sebagai Anak yang dikasihi Bapa. Tuhan diutus Bapa datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa. Tapi Dia malah ditolak, dibenci, difitnah, diadili dan disalibkan mati di atas kayu salib. Pada waktu kebangkitanNya, Yesus mengalami kemuliaan sebagai raja di atas segala raja dan Ia sebagai Juru selamat dunia dan sumber kehidupan manusia.

Demikian juga ketika Yusuf mampu menjelaskan arti mimpi Firaun, ia kemudian diangkat menjadi perdana menteri di Mesir. Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir. Sehingga ketika datang tujuh tahun kelaparan, Mesir menyediakan bahan makanan baik untuk Mesir maupun tanah Kanaan dan sekitarnya.  Apa yang dikatakan Yusuf: “Ingatlah kepadaku nanti”, sama seperti apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus ketika Ia bangkit sebagai pemenang, yaitu pergi jadikan semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ini perintah yang pertama dan perintah yang kedua, yaitu lakukanlah perjamuan kudus  menjadi peringatan akan Daku. Ini arti yang sangat penting dari cerita Yusuf ini. Yusuf sebagai lambang dari Yesus Kristus.

Dari kisah Yusuf sebagai lambang Yesus Kristus ini kita dapat belajar bahwa Tuhan sanggup menggenapi semua mimpi, rencana dan cita-cita kita. Yang kedua adalah meskipun Yusuf adalah orang saleh tapi dia juga mengalami hal-hal yang buruk yang tidak diinginkan. Tapi akhirnya Tuhan mampu merubah sesuatu yang tidak baik yang terjadi di dalam hidup Yusuf maupun hidup kita  menjadi jalan berkat bagi kita. Jalan berkat tidak selalu jalan yang menyenangkan tapi jalan yang sulit itu yang dipakai oleh Tuhan untuk menyatakan kuasa dan berkat-Nya. Ketiga seperti ayat 15 bahwa juru minum diperintahkan untuk menceritakan apa adanya yang terjadi pada Yusuf. Di dalam kita mewartakan Injil kita juga harus bicara apa adanya yang dialami oleh Yesus.