Hits: 2

Dalam Alkitab banyak pengajaran tentang puasa. Banyak tokoh Alkitab yang  menjalankan puasa, contohnya: Ester sebelum ia pergi menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya, dia ingin orang-orang Israel untuk berpuasa dengannya. Daniel berpuasa untuk mendapat pengertian dan hikmat dari Allah. Hari ini secara khusus kita akan merenungkan puasa yang diajarkan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya di dalam Matius 6:16-18.

Ayat 6:16 “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Yesus menegur orang-orang yang berpuasa untuk mendapatkan pujian dari orang lain sebagai perilaku munafik. Yesus ingin puasa yang dilakukan terlihat alami, bukan dibuat-buat. Tidak perlu sengaja menunjukkan wajah lesu dan sedih supaya orang tahu kita sedang berpuasa. Kalau kita tidak berpuasa jangan bersikap seolah-oleh kita berpuasa. Atau sekalipun kita puasa, jangan menunjukkan wajah kita sedang berpuasa.

Ayat 6:17-18 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Mengapa berpuasa harus meminyaki kepala dan mencuci muka? Karena meminyaki kepala dan mencuci muka adalah rutinitas setiap hari bagi orang-orang Yahudi. Dengan kata lain, Tuhan Yesus sedang menasehati para pengikut-Nya untuk berperilaku dan berpenampilan seperti hari-hari biasa takala mereka sedang berpuasa. Tujuannya adalah “supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (ayat 18). Yesus menghargai mereka yang melakukannya secara tersembunyi atau diam-diam. Karena Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dengan demikian kita dapat menarik kesimpulan:

  1. Puasa yang kita lakukan harus tulus dan sungguh-sungguh. Kita harus memiliki motivasi yang baik dalam berpuasa. Puasa bukan untuk memamerkan diri kita lebih baik atau rohani/saleh dari pada orang lain, tapi untuk melatih kehidupan spiritual kita sendiri.
  2. Tujuan puasa bukan mengintervensi atau memaksa Allah untuk memberikan apa yang kita inginkan. Seringkali orang berpuasa semata-mata hanya ingin mendapatkan sesuatu. Ada yang berpuasa untuk mendapat pekerjaan, meminta pasangan hidup, dikaruniakan anak dsbnya, tetapi akhirnya tidak juga mendapatkan keinginannya. Jadi apa artinya puasa? Puasa bukan untuk memaksa Allah memberikan apa yang kita inginkan, tapi puasa membuat kita lebih memahami kehendak dan rencana Allah dalam hidup kita. Puasa yang benar akan membuat kita lebih peka menjalani hidup ini sesuai kehendak Allah.
  3. Puasa yang murni mengacu pada mendekatkan diri kepada Tuhan dengan sepenuh hati, membantu kita berkonsentrasi pada doa, dan melatih disiplin diri. Puasa akan membuat kita memiliki hubungan yang lebih intim dengan Allah. Lewat puasa hubungan kita dengan Allah akan bertambah erat. Kehidupan kita akan lebih berpusat kepada Allah. Karena itu, milikilah cara dan sikap puasa yang baik, benar dan murni karena Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Tuhan memberkati kita. Amin.