Hits: 17

Jemaat Korintus adalah jemaat yang didirikan oleh Paulus dalam perjalanan misinya yang kedua, dan dia tinggal di sana selama satu setengah tahun untuk melakukan pelayanan pembinaan. Korintus adalah pelabuhan penting di semenanjung Yunani, sehingga populasinya sangat kompleks. Namun, sebagian besar orang percaya di gereja umumnya adalah orang-orang yang sederhana dan lemah,  bahkan ada budak-budak yang menderita. Yang terhormat dan mampu tidak banyak. Karena itu, masyarakat umum sangat memandang rendah orang percaya. Tapi di dalam Kristus semuanya telah menjadi ciptaan baru, dan saling menyebut sesama saudara. Namun, karena itu termasuk masyarakat perkotaan, berbagai personel, kepercayaan, agama dan masalah budaya yang dihadapi Gereja tentu lebih rumit.

Dalam perjalanan misi ketiga Paulus, ketika ia datang ke Efesus, dan  mengetahui bahwa mereka menghadapi banyak masalah keyakinan dan personel internal. Seperti yang kita tahu, waktu itu lalu lintas tidak sebagus hari ini, maka Paulus segera menulis surat ini kepada jemaat di Korintus .

Sebelum Rasul Paulus masuk ke pokok permasalahan diskusi, pertama-tama ia mengingatkan mereka harus memikirkan terlebih dahulu apa yang disebut identitas gereja.

  1. Menulis surat kepada Jemaat Allah di Korintus. Pertama mereka diingatkan bahwa gereja bukanlah milik perorangan atau satu kelompok. Tapi gereja adalah Gereja Allah. Yang dimaksud kuasa besar, itu ada di tangan Allah, dan bukan di tangan manusia. Bahkan Paulus pun hanyalah orang yang mendapat panggilan dan pimpinan Allah, barulah ia dapat memberitakan Injil ke Korintus dan daerah lain dan mendirikan gereja.
  2. Kita bisa menjadi seorang Kristen hari ini, “yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus” menjadi salah satu anggota dari gereja. Bukan karena kita lebih baik dan lebih hebat daripada yang lain, pada dasarnya kita adalah sekelompok orang-orang berdosa yang najis. Apalah artinya kita? Tetapi oleh darah dalam Yesus Kristus kita telah disucikan, dosa kita telah diampuni dan dikuduskan dan kita disebut orang-orang kudus. Semua ini adalah kasih karunia Tuhan.
  3. Puji syukur kepada Tuhan. Bukan hanya dosa kita yang dibereskan; tapi kita juga dapat berdoa kepada Dia kapan saja, di mana saja dengan penuh keberanian karena kita telah menjadi umat-Nya, anak-anak-Nya. Dia adalah Tuhan kita dan kita adalah kepunyaan-Nya. Identitas dan kuasa apa lagi yang lebih dapat diandalkan, dan luar biasa daripada identitas ini?

Karena demikian, maka Paulus kembali menekankan: “Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu “. Jadi apa yang kita khawatirkan lagi?”