Hits: 13

Kebangkitan Yesus membawa banyak perubahan pada para pengikut-Nya bahkan pada orang-orang yang membenci-Nya. Pada murid-murid-Nya, kebangkitan Yesus umumnya membawa perubahan dari rasa kesedihan dan ketakutan karena Yesus sudah mati disalib menjadi dipenuhi sukacita dan keberanian untuk memberitakan Yesus yang disalibkan tetapi kini dibangkitkan kembali dari kematian. (bdk. Luk. 24:32). Terhadap Paulus, tokoh agama Yahudi penting dari kalangan Farisi, kebangkitan Yesus juga membawa perubahan, bahkan perubahan yang dramatis. Paulus membenci Yesus karena menganggap Yesus menyampaikan kebohongan dengan pemberitaan-Nya. Ia yakin bahwa Yesus tidak bangkit dan menganiaya para pengikut Yesus yang dianggap berbohong karena memberitakan bahwa Yesus telah bangkit. Namun, tatkala Yesus yang telah bangkit menampakkan diri dan berbicara kepadanya saat ia dalam perjalanan ke Damsyik untuk menangkap dan memasukkan orang-orang Kristen ke dalam penjara, Paulus mengalami “momen perubahannya”. Ternyata Yesus yang mati disalib itu sungguh bangkit dari kematian dan hidup kembali sehingga dapat berbicara kepadanya. Paulus mengalami perubahan dalam cara pandangnya mengenai ajaran Alkitab (Perjanjian Lama) sehingga ia dapat memahaminya dengan cara yang baru dan benar. Ada dua pandangan baru Paulus.

Pertama, Aku Telah Mati terhadap Hukum Taurat. Paulus mengatakan, “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat (Gal. 2:19a TB) Apa artinya? Hukum Taurat yang diharapkan membawa kepada kehidupan bagi oleh orang-orang yang melakukannya, ternyata justru menyatakan ketidakbenaran mereka dan karena itu, penghukuman bagi mereka (maut). Karena Paulus mendapati bahwa kebenaran tidak datang dalam melakukan hukum Taurat, ia mengambil keputusan untuk putus hubungan dengan hukum Taurat. Hukum Taurat bukan lagi yang menguasai kehidupan dan pikirannya. Ia menyadari bahwa kebenaran hanya dalam iman/percaya kepada Kristus oleh kasih karunia Allah (Gal. 2:21). Karena itu, meskipun Paulus dan rekan2nya pada dasarnya adalah orang-orang Yahudi (Gal. 2:15), yaitu bangsa pilihan Allah, Paulus memilih untuk juga percaya kepada Yesus (Gal. 2:16). Aplikasi buat kita: tidak ada usaha manusia yang dapat membawa kepada keselamatan dari Allah dan keselamatan adalah kasih karunia (anugerah) Allah sehingga sebagai orang yang sudah menerima kasih karunia tersebut, kita harus dipenuhi dengan sikap bersyukur dan berterima kasih, dan bukan membanggakan diri (sombong).

Kedua, Aku Hidup untuk Allah–Kristus Hidup di dalam Paulus. Kemudian Paulus menulis, “19bAku telah disalibkan dengan Kristus; 20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal. 2:19b-20 TB). Ini masih melanjutkan ayat 19 tentang mati terhadap hukum Taurat. Paulus menyatakan bahwa ia telah disalibkan bersama Kristus. Ini menggarisbawahi bahwa sebagaimana Kristus telah mati, Paulus pun telah telah mati bersama dengan Kristus. Paulus sepenuhnya telah berhenti mengandalkan hukum Taurat untuk kebenaran dan keselamatannya. Ia telah “mati”, yaitu telah terputus dari hukum Taurat.

Paulus melanjutkan, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Walaupun Paulus mengatakan ia telah tersalib (mati) bersama Kristus, nyatanya sekarang–saat menuliskan suratnya–ia masih hidup. Namun, ada perbedaan karena ia tahu bahwa yang hidup di dalam dirinya sekarang bukan dia sendiri lagi tetapi Kristus. Sekarang Paulus tetap hidup, hanya ia hidup dengan cara yang berbeda. Ia mengalami “reorientasi pikiran”. Ada perubahan mendasar dari pandangan dan pikirannya berupa pemutusan dengan dengan dunia yang lama (pembenaran karena melakukan hukum Taurat) yang ditandai oleh salib. Hidup Paulus sekarang adalah hidup yang sepenuhnya ditujukan dan memandang kepada Kristus (Gal. 2:20). Hidup dan pikiran Paulus sepenuhnya dikuasai oleh dan diabdikan bagi Kristus (bdk. Flp. 1:21; 2Kor. 5:14-15; Rm. 12:2).

Kebangkitan Kristus menandakan bahwa hidupku adalah karena kasih karunia sehingga hidupku haruslah hidup untuk Kristus!