Kejadian 27 adalah kisah tentang Yakub menggunakan tipu daya untuk mendapatkan berkat dari ayahnya yang sudah tua. Jika kita membaca dengan seksama catatan Kejadian 25 sampai 27, kita akan menemukan bahwa awal tragedi dan kesulitan keluarga ini tidak hanya disebabkan oleh Yakub, namun anggota keluarga lainnya juga harus bertanggung jawab. Dalam keluarga, penilaian yang salah, keputusan yang tidak bijaksana, pilih kasih, cara yang tidak benar, akan menyebabkan awal sebuah kesulitan dan tragedi. Mari kita melihat sekilas beberapa tokoh bersangkutan dipasal 27.

  1. Orang tua yang pilih kasih. Ishak satu keluarga empat orang, tapi kehidupannya tidak sederhana. Satu keluarga hanya empat orang tapi terbagi menjadi dua kelompok. Ishak lebih sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruannya. Tetapi Ribka lebih sayang kepada Yakub, sebab ia adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah menemani ibunya. Ribka sayang kepada Yakub mungkin ada hubunganya dengan wahyu Tuhan bahwa “anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda”; tapi Ishak sayang kepada Esau karena ia suka makan daging buruannya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan wahyu Tuhan dan hal-hal rohani. Sebelum kelahiran kedua anak ini, Tuhan sudah berfirman bahwa anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda, tapi Ishak memiliki rencana sendiri. Untuk hal ini tampaknya hubungan antara suami istri tidak dibangun di atas dasar “kejujuran dan saling percaya”. Dari luar tampaknya baik-baik saja, tapi di dalamnya tersembunyi krisis. Menjelang ajalnya, Ishak sebagai suami dalam menjalankan hal besar memberi berkat, secara pribadi memanggil Esau ke sisinya, dan Ribka sebagai istri bukannya segera mengoreksi kesalahan suaminya, sebaliknya ia mendesak anaknya bersekongkol dengannya untuk menipu suaminya! Cara yang tidak jujur ini, tanpa disadari telah menjadi contoh buruk bagi kehidupan anak-anaknya. Mereka sendiri yang menanam akar bencana. Di sini kita dapat melihat, hubungan dan kasih orang tua kepada anak-anak yang tidak sama, sekali ada perselisihan akan menimbulkan gesekan, persaingan, bahkan yang lebih parah terjadi perpecahan. Apa akibatnya?  Sang kakak bahkan ingin membunuh adiknya. Sejak itu, tragedi dan kesulitan keluarga ini mulai muncul.
  2. Seorang yang tidak menghargai identitasnya – Esau. Esau memandang remeh hak kesulungan, dan saat kehilangan berkat hak kesulungan baru hatinya penuh penyesalan, penderitaan, amarah, dan ingin membalas dendam, sehingga hidupnya tidak bahagia, bahkan dalam kehidupan pernikahan pun ia selalu menuruti kemauanya sendiri. Mengapa ia harus begitu? Kalau ia mau menyalahkan, maka salahkan diri sendiri waktu itu ia tidak seharusnya menjual hak kesulungan demi semangkuk kacang merah. Komentar Ibrani 12: terhadap dia adalah menyebutnya sebagai orang yang mempunyai nafsu rendah, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.
  3. Orang yang senantiasa menggengam – Yakub. Dalam Kejadian 27 dicatat Yakub dan Ishak, ayahnya yang sudah tua di dalam percakapan yang sangat singkat, tiga kali menipu ayahnya, bahkan ia mengutip nama Tuhan untuk menipu ayahnya. Akhirnya ia mendapatkan keinginannya, tapi ia harus membayar harga yang sangat mahal juga. Karena menggunakan cara yang tidak benar sehingga berbagai kesulitan mulai muncul dan membuat perjalanan hidupnya penuh liku-liku. Ia bukan hanya menghabiskan masa mudanya yang paling berharga di rumah Laban, tapi ia juga sering ditindas dan ditipu. Laban dan Yakub mempunyai hubungan darah, tapi di rumah Laban hubungan mereka adalah tuan dan pelayan. Karena itu Yakub mengeluh: “Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur.” Laban menipunya, anak-anaknya juga menipu dia, keluarga Yakub sendiri mempunyai banyak masalah, anak-anaknya sering bertengkar sehingga tidak ada kedamaian di dalam rumahnya, sungguh apa yang ditanam itu yang dituainya, ini juga adalah ganjaran dari Tuhan. Karena itu, pada usia tuanya di hadapan Firdaun ia mengeluh bahwa tahun-tahun hidupnya itu sedikit saja dan buruk adanya ( Kej. 47:7-9).

Untungnya, Tuhan memiliki belas kasihan yang tak terbatas, di tahun-tahun yang sulit, jauh dari rumah, dan

jauh dari orang yang dicintai, tapi Tuhan Yang Mahakuasa menyertainya. Penyertaan Tuhan adalah berkat terbesar bagi manusia. Yakub seorang yang penuh tipu daya di dalam perjuangan hidupnya, dalam waktu dua puluh tahun yang panjang, ketika di padang gurun hidup sendirian bersama Tuhan, maka segala ego dan kepercayaan dirinya sudah dikupas habis oleh Tuhan. Yakub dua puluh tahun kemudian, telah menjadi orang yang memiliki kedalaman jiwa di dalam Tuhan, sudah menjadi orang yang berbeda dengan Yakub sebelumnya.

Di usia tuanya Yakub tidak lagi “menggengam”, dia benar-benar telah melepaskan; kitab Ibrani mengatakan bahwa  Yakub di usia tuanya memberkati kedua anak Yusuf, lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya. Hidupnya  sudah berubah. Tuhan menyebut Yakub sebagai ulat (Yes. 41:14), betapa rendah dan hinanya identitas ini, tapi Tuhan juga berkata: “Dia adalah Allah Yakub” dan Yakub juga telah menemukan hubungan yang demikian. Ia mengalami banyak perubahan situasi dan pergolakan di dalam hidupnya, juga kehilangan orang yang dikasihi, dan akhirnya dia mengerti di dalam hidupnya, ada Tuhan yang tidak pernah meninggalkannya. Dalam doanya ia berkata: : “Nenek moyangku, Abraham dan Ishak, telah hidup di hadapan Allah; Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang (Kej. 48:15-16)