Hits: 6

Firman Tuhan hari ini melanjutkan perenungan tentang Kebangkitan Yesus (Paskah). Fokus penerenungan kita adalah pada pengalaman kehidupan dan panggilan Paulus (1Kor. 15:8-10). Setelah menuliskan mengenai fakta kebangkitan Yesus (15:1-4), dalam ayat 5-9 Paulus mendaftarkan orang-orang yang telah melihat Yesus yang bangkit, mulai dari Kefas hingga semua rasul. Pada kesempatan terakhir, Paulus menyatakan bahwa Yesus telah menampakkan diri kepadanya. Pernyataan ini mengacu pada saat perjalanannya ke Damsyik di mana Yesus menampakkan diri kepadanya. Dalam konteks pengalaman penyataan Yesus ini, Paulus menggambarkan dirinya sebagai “seperti anak yang lahir sebelum waktunya” (1Kor. 15:8 TB-LAI) atau “lahir tidak pada waktunya” (BIS). Jadi, Paulus seperti bayi prematur, yang lahir di luar waktunya (di luar waktu yang seharusnya) atau di luar kewajaran.

Apa yang terjadi di luar kewajaran? Paulus adalah penganiaya jemaat Allah dan yang seharusnya terjadi adalah dia dihukum oleh Yesus, Sang Kepala jemaat. Tapi yang terjadi di luar dugaan (kenormalan). Paulus yang seharusnya dihukum mati, justru dipanggil dan diberikan tugas untuk menjadi pelayanan (rasul) (bdk. Kis. 9:15-16) Pengalaman di luar kewajaran inilah yang disebut Paulus sebagai pengalaman dianugerahkan “kasih karunia Allah”.

Bagaimana respons Paulus terhadap kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepadanya? Paulus mengatakan: “dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (1Kor. 15:10) Kasih karunia dimaknai Paulus sebagai anugerah yang tidak layak dia terima tetapi diberikan kepadanya secara cuma-cuma dan di luar akalnya (pemikirannya). Seharusnya dia menerima hukuman dari Allah dalam Tuhan Yesus Kristus, tetapi justru dia dikasihani dan diberikan kesempatan (bahkan hak istimewa) untuk melayani Tuhan Yesus Kristus. Dia menerima apa yang sungguh tidak layak dia terima. Karena itu, sebagai responnya terhadap kesempatan dan anugerah yang diberikan kepadanya, Paulus bekerja lebih keras daripada mereka semua (yaitu para rasul dan murid-murid lainnya). Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan Yesus Kristus kepadanya dan memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya dengan bekerja dan melayani Dia yaitu memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi (sesuai tugas utamanya) dan menggembalakan jemaat yang didirikan dari hasil penginjilannya. Pada saat Paulus menuliskan surat 1 Korintus ini, dia adalah seorang pelayan Tuhan (rasul) yang dihormati di antara banyak jemaat khususnya karena dia adalah pendiri dari jemaat-jemaat tersebut. Paulus menulis banyak surat dan surat-suratnya juga dibaca di antara jemaat-jemaat mula-mula. Bahwa Paulus dapat mencapai keadaan seperti demikian, disadarinya sebagai kasih karunia Allah: “karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang”. Paulus sangat menyadari bahwa semua adalah karena kasih karunia Allah. Kasih karunia Allah membuat Paulus bangkit dari keterpurukannya, yaitu orang paling hina dari antara para rasul (1Kor. 15:9). Yesus bangkit juga membuat Paulus bangkit.

Kasih karunia tidak membuat Paulus lupa diri. Paulus tidak menjadi sombong walaupun ia menjadi rasul yang penting dari antara para rasul. Paulus menyakini bahwa dia dapat melakukan semua itu adalah juga karena kasih karunia Allah. Dia mengatakan “tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” Dia menyadari bahwa semua pencapaiannya adalah juga karena kasih karunia Allah.

Bagaimana dengan kita? Sebagai orang percaya, kita semua juga adalah orang-orang yang telah menerima kasih karunia yang besar dari Allah yang telah memberikan Anak-Nya, Tuhan Yesus, mati dan bangkit bagi kita. Respons yang patut terhadap kasih karunia ini adalah bekerja melayani-Nya dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga.