Setiap kali memasuki tahun baru, kita semua memiliki harapan baru untuk tahun baru, kita berharap dalam tahun baru ini, kita bisa hidup lebih menyerupai Kristus, hidup yang memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama. Tentunya komitmen seperti ini sangat baik, bahkan ada gereja yang secara khusus mengadakan persekutuan acara komitmen. Tetapi seringkali setelah berkomitmen, pada awal minggu pertama dan kedua, bahkan satu dua bulan masih melakukannya dengan sungguh-sungguh, tapi tidak lama kemudian sifat lama pelan-pelan muncul lagi. Sampai pada pertengahan tahun, komitmen yang ditetapkan pada awal tahun itu sudah hilang.

Mengapa ada fenomena seperti itu? Daud memiliki pengalaman yang sama di dalam perjalanan hidupnya, ia bertekad untuk menuruti hukum TUHAN, tapi ia banyak mengalami kegagalan juga bahkan kesalahan yang dilakukan semakin serius, dan kesalahan yang dilakukan dengan Batsyeba itu bisa dikatakan adalah puncaknya, maka Daud menyadari untuk mengalahkan dosa bukan dengan tekad dirinya. Masalahnya adalah di dalam hati dan roh, sebab sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, hati dan roh manusia telah menjadi budak dosa dan Setan atau disebut telah mati. Karena itu di dalam doanya ia berkata: “ Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” (Mzm. 51:12)

Demikian juga, Tuhan menyatakan kepada Nabi Yehezkiel apa yang Dia ingin lakukan di tengah-tengah umat Israel: “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.(Yeh. 36:25-27). Tuhan tidak hanya akan menyucikan dosa-dosa Israel, tetapi juga memberi mereka hati dan roh yang baru, agar mereka dapat mematuhi dan melakukan segala ketetapan dan peraturan Tuhan. Karena hanya hati dan roh baru yang bisa memiliki hidup baru, dengan adanya hidup baru bisa menunjukkan kehidupan baru. Sama seperti semua makhluk hidup, dengan memiliki hidup yang unik, ia akan secara alamiah menjalani kehidupannya yang unik. Ini seperti yang dinyatakan Paulus: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Kor. 5:17).

Dengan demikian tingkah laku hidup kita akan ada pola hidup baru, supaya dunia melihat rupa Kristus dari kita, dan melalui manifestasi hidup kita mereka dapat mengenal, percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Karena itu, kalau kita memiliki hidup baru bukan berarti kita berhenti di situ saja, sambil menunggu sang malaikat datang menjemput kita ke surga, tapi kita harus hidup di dunia untuk menyelesaikan misi/tugas yang harus diselesaikan. Jika kita sudah memiliki hidup di dalam Kristus maka hidup kita harus bertumbuh menjadi hidup yang kuat dan memiliki kesaksian untuk menggenapi misi yang diterima. Untuk itu kita harus melatih diri, terus menerus diperbaharui, seperti yang katakan Paulus: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Rm 12:2). Karena itu, Tuhan telah memberi kita Roh Kudus untuk membimbing kita. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya (Yeh. 36:27). Artinya adalah kita harus membiarkan Roh Tuhan memenuhi dan menguasai hidup kita. Ini tidak berhenti dan harus terus menerus bertumbuh. Yang memiliki hidup harus bertumbuh terus. Dan untuk mencapai hal ini hanya melalui ibadah, saat teduh dan pelayanan. Dengan adanya hati seperti itu, maka secara otomatis kita akan mengasihi Tuhan dan yang dikasihi Tuhan: seperti mengasihi gereja, saudara-saudari dan mengasihi manusia yang dikasihi Tuhan. Dengan adanya hati yang mengasihi Tuhan maka kita akan rindu untuk mendekatkan diri – beribadah kepada Tuhan.