Abraham hidup pada tahun 1900 sebelum Masehi. Panggilan Allah kepadanya disertai dengan janji. Janji itu ada yang digenapi ketika Abraham masih hidup, namun ada juga yang digenapi ratusan bahkan ribuan tahun setelah Abraham meninggal. Dalam Kejadian pasal 13 disebutkan sekembalinya dari Mesir Abraham sangat kaya. Kekayaan ini adalah salah satu berkat Allah yang kelihatan. Kekayaan yang dimiliki pada waktu itu adalah berupa ternak, perak dan emas (13:2). Karena banyak ternak yang dimiliki oleh Abraham dan Lot akhirnya terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot karena soal rumput dan air. Akibat dari harta benda mereka yang amat banyak ini memaksa Abraham dan Lot harus berpisah. Di sini kita melihat harta benda sering menyebabkan konflik dan hubungan persaudaraan menjadi putus.

Karena kejadian ini maka untuk menghindari keadaan makin memburuk Abram berkata kepada Lot:  “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Sebaiknya kita berpisah, pilihlah bagian mana dari tanah ini yang kausukai, jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.” (13:8-9). Lalu Lot memilih apa yang baik menurut logika dan pandangannya sedangkan Abram bergantung kepada Allah. Ketika Lot melihat Sodom dan Gomora itu begitu subur karena seluruh Lembah Yordan banyak airnya maka ia memilih tempat itu. Tapi Sodom dan Gomora itu didiami oleh orang-orang yang sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN (13:13). Lot mengira bahwa ia sudah memilih tempat yang paling baik tapi apa yang terjadi pada akhirnya. Sodom dan Gomora harus dimusnahkan oleh Tuhan. Itu berarti apa yang kita lihat belum tentu sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Karena itu, kita harus percaya kepada Allah walaupun Dia tidak terlihat. Dengan iman kita melihat bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan memimpin langkah kehidupan kita.

Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan. Sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya (13:14-15). Allah sekali lagi mengingat akan perjanjian-Nya dengan Abram, namun ini adalah berkat yang masih belum terlihat oleh Abram. Karena tanah perjanjian akan dinikmati oleh keturunan Abram setelah mereka menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya (Kej. 15:13). Janji ini baru digenapi setelah mereka keluar dari Mesir.

Janji lain Allah kepada Abram yang masih belum dilihat yaitu keturunan Abram akan seperti debu tanah banyaknya (13:16). Walaupun pada waktu itu Abram belum mempunyai anak, tapi Allah telah memilih Sarai untuk melahirkan anak Perjanjian itu. Dan betul akhirnya lahirlah Ishak sebagai anak perjanjian itu. Inilah janji Allah yang digenapi ketika Abram masih hidup.

Keturunan Abram akan seperti debu tanah banyaknya, adalah nubuat tentang orang-orang yang beriman seperti Abram. Iman Abram adalah percaya kepada YHWH (TUHAN).  Yang artinya adalah Allah pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Kemudian Injil Yohanes memberi kesaksian bahwa Firman (TUHAN) itu telah menjelma menjadi manusia di dalam Yesus Kristus. Jadi keturunan Abraham adalah keturunan setiap orang yang percaya kepada YHWH/TUHAN/Yesus Kristus.

Janji yang lain lagi “Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.” (13:17). Dengan iman Abram melihat tanah perjanjian yang akan diberikan oleh Allah, dan mata imanlah yang membuat Abraham teguh. Sepanjang kita mempelajari tentang Abraham dari Kejadian pasal 12-25, kita tidak akan menemukan bahwa Abraham itu mengeluh. Karena ia mempunyai suatu kepastian dan keyakinan yang kuat bahwa Allah yang memanggil dan memimpinnya adalah Allah yang tidak pernah gagal di dalam rencana-Nya  dan Dia akan menggenapi seluruh rencana dan perjanjian kepada orang yang percaya kepada-Nya.

Terakhir Abraham mempunyai kebiasaan setiap tiba di suatu tempat ia mendirikan mezbah di situ bagi TUHAN (13:18). Mendirikan mezbah artinya mendekatkan diri kepada Tuhan. Itu berarti  Abraham terus mendekat kepada TUHAN. Diawal, tengah dan akhir pekerjaan ia selalu mendekat kepada Tuhan. Sebagai orang percaya, marilah kita meneladaninya untuk senantiasa mendekat kepada Tuhan.