Hits: 104

Apa itu kebimbangan? Yaitu, ketika kita harus menghadapi seseorang, suatu urusan atau sesuatu hal dalam kehidupan kita, dan timbul keragu-raguan tidak tahu bagaimana menghadapi, mengatasi, atau menyelesaikannya, dan kita menunda-nunda, tidak berani untuk mengambil keputusan.

Tidak tahu apa respon kita setelah membaca kisah yang dicatat dalam Yohanes 14: 1-6, Jika kita menempatkan diri kita di barisan para murid, tiba-tiba kita mendengar guru yang telah kita ikuti selama lebih dari tiga tahun, tiba-tiba berkata bahwa Dia akan meninggalkan kita untuk kembali ke rumah Bapa-Nya, dan bahwa Dia pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagi kita, dan setelah menyediakan tempat, Dia akan datang kembali untuk membawa kita ke sana.

Apa reaksi kita? Apakah kita akan bersorak bilang baik? Atau bingung? Atau reaksinya hampir sama dengan murid-murid Yesus, antara mengerti dan tidak mengerti. Pasti ada banyak pertanyaan di hati juga; guru yang telah hidup bersama selama lebih dari tiga tahun tiba-tiba ingin berpisah dan pergi, atau secara terus terang adalah Ia akan menghadapi kematian, artinya perpisahan untuk selama-lamanya, mana mungkin kita tidak bimbang? Juga dikatakan akan menyediakan tempat bagi kita supaya di tempat di mana Dia berada, kita pun berada. Apakah itu karena Yesus tahu bahwa imam-imam kepala, dan orang-orang Farisi serta ahli-ahli Taurat akan membunuhNya dan Ia merasa lelah sehingga mengatakan sesuatu yang sulit dimengerti? Akhirnya mereka bukan hanya tidak mengerti perkataan Yesus, tetapi juga ragu-ragu mau bagaimana menerimanya.

Dalam kehidupan kita, kita sering menghadapi hal-hal yang serupa. Yesus tahu bahwa reaksi ini pasti akan timbul. Karena itu, dari awal Ia sudah mengatakan dengan tegas: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Dan selanjutnya dikatakan: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” “Jalan, kebenaran dan hidup” Ini adalah tema besar yang diselidiki manusia sejak zaman dahulu. Namun, tidak ada jawaban yang benar dan pasti yang bisa diperoleh. Dan pada saat inilah Yesus menyatakan bahwa Dia adalah “Jalan, kebenaran dan hidup.”

Yosua di era Perjanjian Lama, ketika dia mengambil alih tongkat pemimpin Musa, tentu saja, ia merasa sangat mulia dan bersyukur, tetapi di sisi lain tatkala melihat begitu banyak orang, ia tidak tahu harus berbuat apa, tapi pada saat inilah, TUHAN Allah berjanji kembali kepadanya: “Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi (Yos.1:2-7).

Terlebih ketika dia datang ke kota besar Yerikho yang megah, kokoh, dan lengkap, pasti ia mempunyai  kebimbangan, apakah ia memiliki kemampuan untuk merebut kota ini? Puji sukur kepada Tuhan, Dia adalah Tuhan yang mengetahui hati manusia; Tepat pada saat Yosua dalam kebimbangan, TUHAN menyatakan kepadanya: “….akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang….”(Yos. 5:13-14). Ada TUHAN sebagai Panglima kita, apa lagi yang kita takutkan? Ada Tuhan yang menjadi manusia bagi kita, dan menyatakan, “Aku adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Apakah masih ada sesuatu, seseorang dan hal-hal lain yang layak kita bimbangkan dalam hidup ini? Yang terpenting adalah bahwa semuanya harus menaati perintah dan pimpinan Panglima besar .