Hits: 31

Bagian firman Tuhan di atas ini adalah tanggapan Daud terhadap teguran Tuhan dan doa  syukur atas janji Tuhan. Pertama, tanggapan Daud terhadap teguran Tuhan. Daud ingin memindahkan tabut perjanjian ke Yerusalem. Tabut perjanjian berisi dua loh batu berisi 10 hukum perkara, buli-buli berisi manna dan tongkat Harun yang bertunas. Ke mana pun bangsa Israel melakukan perjalanan tabut perjanjian selalu dibawa karena tabut perjanjian melambangkan kehadiran Tuhan dan pimpinan Allah terhadap umat-Nya.

Pada zaman raja Saul tabut perjanjian tidak pernah diperhatikan dan dibiarkan berada di rumah Abinadab di Kiryat Yearim. Ketika Daud menjadi raja, ia ingin memindahkan tabut perjanjian ke Yerusalem. Bagi Daud ini adalah rencana yang indah tetapi di hadapan Tuhan dinilai tidak menghormati kesucian Allah. Karena itu, Uza anak Abinadab yang mengawal tabut perjanjian waktu mau dibawa ke Yerusalem memegang tabut itu lalu mati dekat tabut Allah. Tabut melambangkan kehadiran dan kekudusan Allah, manusia harus menghormati kekudusan Allah. Dalam kitab Imamat dikatakan tidak boleh seorang pun yang mengangkut dan memegang tabut kecuali suku Dewi. Inilah kesalahan pertama Daud yang menyebabkan orang lain mati.

Kesalahan raja Daud kedua adalah ia merasa dirinya sudah mampu, berkuasa, kaya raya dan aman maka dia ingin membangun bait Allah untuk tabut perjanjian (untuk Tuhan diami). Tapi izinnya kepada nabi Natan bukan kepada Tuhan maka rencananya ditolak Tuhan. Kesalahan nabi Natan sebagai penyambung lidah Tuhan seharusnya dia menyampaikan pesan dari Tuhan kepada manusia tetapi Natan langsung mengiyakan rencana Daud. Tuhan masih memberikan rahmat anugerah kepada Daud dan Natan, pada malam itu juga nabi Natan diberikan penglihatan oleh Allah, Daud tidak boleh membangun bait Allah.

Contoh lain di dalam Perjanjian baru adalah ketika Ananias dan Safira memberi persembahan dan mendustai Roh Kudus, saat itu juga dia mati. Dari sini kita belajar bahwa apapun berurusan dengan kekudusan Allah manusia tidak boleh sembarangan. Allah adalah Mahakudus dan Mahatahu maka semua yang diperuntukkan bagi Allah harus keluar dari hati, pikiran dan motivasi yang benar dan kudus. Itulah sebabnya di dalam doanya Daud berkata: siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, aku yang seharusnya mendapatkan hukuman dari Tuhan, tapi Engkau masih luar biasa mengasihiku..? (ayat 18).

Kedua, puji syukur Daud atas janji Tuhan – Daud bersyukur kepada Tuhan yang memberi janji dan ia menerima janji Tuhan dengan iman dan kerendahan hati. Daud sadar bahwa Tuhan mengikat perjanjian dengan dia bukan karena dia layak, benar atau telah melakukan perbuatan baik tetapi karena kemurahan dan kasih karunia-Nya. Janji Tuhan kepada Daud adalah bahwa keturunannya akan menjadi raja untuk selama-lamanya dan kerajaannya tidak akan berakhir, yaitu Mesias, Yesus Kristus akan datang dari keturunan Daud (Lht. Mat.1:1). Ini adalah janji Tuhan yang luar biasa kepada Daud. Itulah sebabnya di ayat 21 Daud berkata: Oleh karena firman-Mu dan menurut hati-Mu Engkau telah melakukan segala perkara yang besar ini dengan memberitahukannya kepada hamba-Mu ini. Selain itu, Allah juga berjanji bahwa Israel adalah bangsa pilihan-Nya yang tidak akan musnah selama-lamanya karena lewat bangsa ini Allah akan menyatakan diri-Nya, kasih dan kemuliaan Tuhan. Dan hari ini janji tersebut juga berlaku untuk gereja sebagai Israel yang baru bahwa melalui kita semua Allah ingin menyatakan diri, kuasa dan kekudusan-Nya dan gereja akan tetap dalam pemeliharaan Tuhan sampai selama-lamanya.

Sebagaimana Daud meresponi teguran Tuhan dengan kerendahan hati dan doa syukur, demikian juga Firman Tuhan yang sampai kepada kita baik berupa teguran, ajaran maupun harapan harus kita responi dengan kerendahan hati dan rasa syukur.