Hits: 3

Teks firman Tuhan hari ini terambil dari surat Roma yang ditulis untuk menyelesaikan masalah kesatuan dalam hubungan antara Kristen Yahudi dan bukan Yahudi. Surat Roma terdiri dari dua bagian besar: pasal 1-11 dan pasal 12-16. Untuk menyelesaikan masalah dalam jemaat Roma, Paulus terlebih dahulu memaparkan perihal Injil Kristus dan keselamatan yang diperoleh orang Kristen Roma oleh karena Injil (pasal 1-11). Setelah memaparkan pengajaran mengenai Injil, Paulus kemudian masuk ke bagian praktik (aplikasi) dari Injil, yaitu bagaimana jemaat Roma sebagai orang-orang yang sudah percaya kepada Yesus, hidup dan mempraktikkan imannya dalam kehidupan sehari-hari baik di dalam kehidupan bersama jemaat maupun dalam hubungan dengan orang di luar jemaat (pasal 12-16). Dasar dari nasihat bagi kehidupan praktis jemaat Roma adalah Roma 12:1-2. Pada intinya Paulus mengatakan bahwa karena jemaat telah menerima kemurahan Allah yang dinyatakan dalam keselamatan oleh Injil, mereka harus mempersembahkan hidup mereka sebagai persembahan kepada Allah, yaitu hidup yang telah berubah dari pola hidup kepada perilaku yang sesuai dengan kehendak Allah.

Roma 12:9-10 adalah salah satu nasihat Paulus yang perlu dilakukan oleh jemaat di Roma sebagai wujud dari hidup yang sudah mengalami perubahan. Nasihat Roma 12:9-10  terdiri dari dua butir dengan kata kunci “kasih”. Seorang ahli  menyebutkan bahwa ayat 9 berisi kasih kepada Allah dan ayat 10 kasih kepada saudara seiman.

Pertama, dalam Roma 12:9, Paulus mengatakan “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.” Kasih itu jangan pura-pura atau kasih itu jangan menggunakan topeng seperti seorang aktor pada masa Paulus. Kalimat ini juga diterjemahkan sebagai “kasih itu jangan munafik (hipokrit).” Kasih harus ditunjukkan dengan apa adanya. Bagaimana menunjukkan kasih yang apa adanya kepada Tuhan? Kasih yang autentik ditunjukkan kepada Allah dengan sikap “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.” Nasihat ini berupa sebuah pasangan perbuatan yang terdiri dari aspek yang negatif (jauhilah yang jahat) dan yang positif (lakukanlah yang baik). Apakah maksud “yang jahat” dalam pasangan kalimat negatif? Yang dimaksud adalah perbuatan-perbuatan yang jahat. Penekanannya adalah pada perbuatan-perbuatan dosa (bdk. Rm. 13:12-13). Sikap yang sepatutnya adalah “Jauhilah”. Terjemahan yang lebih baik adalah “bencilah” (TAMK/BIS LAI) atau bahkan “merasa jijik”.  Jadi maksud Paulus adalah wujud kasih yang autentik adalah membenci dan merasa jijik kepada dosa (perbuatan dosa). Pasangan sikap positifnya adalah: lakukanlah yang baik. Terjemahan yang lebih baik “berpeganganlah kepada apa yang baik” (TAMK/BIS LAI; berpegang erat-erat). Jadi harus berpegang erat pada perbuatan yang baik dan berusaha menjadikan yang baik itu terwujud. Yang dimaksud dengan “yang baik” adalah apa yang kudus, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna (bdk. Rm. 12:2). Yang baik ini tidak hanya terbatas dalam kehidupan jemaat, tetapi lebih luas daripada itu karena Alkitab mengajarkan kasih yang untuk semua orang.

Kedua, Paulus mengatakan: “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” (Rm. 12:10 TB-LAI). Istilah “mengasihi sebagai saudara” awalnya memang berarti kasih antara saudara kandung dalam keluarga tetapi oleh Paulus istilah ini dipakai untuk “saudara-saudara seiman dalam Kristus”. Yang dimaksudkan “saling mendahului dalam memberikan hormat” adalah antara sesama orang percaya harus menunjukkan sikap menghormati. Ketika kita menghormati sesama saudara, kita sudah mendahului (mengutamakan) dalam memberikan hormat. Ini sikap yang benar yang dimintakan kepada jemaat oleh Paulus sesuai dengan teladan Kristus (bdk. Flp. 2:3). Nasehat ini perlu ditekankan karena salah satu ciri para laki-laki (orang-orang) pada masa Paulus adalah orang-orang yang selalu membanggakan diri sendiri dan keluarga serta menganggap diri dan keluarga lebih utama. Paulus ingin menciptakan sikap saling menghormati di antara saudara seiman dalam jemaat dan dengan demikian menciptakan kesatuan antara orang Kristen Yahudi dan Kristen non-Yahudi dalam gereja di Roma.