Hits: 51

Ada banyak masalah dalam hidup, seperti yang dijelaskan Daud dalam ayat 1-3. Bagaimana seharusnya kita menghadapi masalah? Rahasia untuk menghadapi masalah adalah beralih dari masalah kepada Tuhan. Daud berkata, “Aku akan diam di rumah TUHAN, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya/memohon bimbingan-Nya. Apa artinya menyaksikan kemurahan TUHAN? Menyaksikan mempunyai makna menikmati, tetapi menyaksikan yang disebutkan di sini jauh lebih dari sekedar menikmati. Karena ada kalimat yang sangat penting ditambahkan kemudian, yaitu: “memohon bimbangan-Nya di dalam bait-Nya.” Memohon bimbingan berarti meminta nasehat, mempertimbangkan, dan merenungkan. Menyaksikan dan meminta bimbingan berarti bahwa dalam proses melihat dan menikmati, sambil kita merenungkan tentang kemurahan-Nya, sambil kita juga mengagumi kasih-Nya. Untuk menyaksikan kemurahan-Nya di bait-Nya bukanlah dengan sikap pasif duduk saja, tetapi adalah dengan sikap berpartisipasi secara aktif.

Ketika kita menyaksikan dan merenungkan kemurahan-Nya, hati kita akan dipenuhi dengan kemurahan-Nya. Pada saat itu, kita tidak lagi bersusah hati dengan berbagai beban dan masalah. Masalah tidak akan menjadi batu sandungan tapi batu loncatan. Ada pepatah dalam bahasa Tionghoa: “Mundur selangkah, kesempatan luas; bersabar sejenak, suasana tentram”. Tetapi dalam iman Kristen, bukan mundur selangkah, tetapi beralih. Beralih ke mana? Yaitu beralih kepada Tuhan, berharap kepada Dia, terarah/memandang kepada Dia, meminta pimpinan-Nya dan merenungkan-Nya. Berkat apa yang akan dinikmati orang-orang yang memandang kepada Tuhan?

  1. Memandang kepada Tuhan, ada ketenangan jiwa (ayat 5). Daud berkata: “Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu.” Daud di sini menggambarkan berkat-berkat yang telah diterimanya. Mengapa dia tinggal di bait Allah ketika musuh menyerang dari semua sisi? Karena dia tahu bahwa ketika dia melakukan ini, Tuhan akan melindunginya. Bagaimana cara Tuhan melindunginya? Daud menggunakan dua macam gambaran untuk melukiskan perlindungan Tuhan. Pertama, tempat persembunyian di kemah-Nya, yang kedua adalah mengangkat ke atas gunung batu. Tempat persembunyian di kemah-Nya menunjukkan Tempat Maha Kudus. Ada tabut perjanjian di Tempat Maha Kudus, dan tabut perjanjian melambangkan kehadiran Tuhan. Itu adalah tempat suci , hanya imam besar yang boleh masuk setahun sekali. Sebelum dia masuk, dia harus menyucikan dirinya agar tidak melanggar kekudusan Tuhan dan mati. Tempat suci seperti itu telah menjadi tempat pengungsian bagi Daud. Tujuan Daud memberikan gambaran seperti ini adalah untuk menyatakan bahwa pada saat paling berbahaya dalam hidupnya, Tuhan membawanya ke tempat paling suci, di mana hanya ada Allah. Karena itu, di sanalah tempat yang paling aman.

Selain itu, Tuhan juga akan mengangkatnya di atas gunung batu. Gunung batu adalah tempat yang sangat tinggi. Ketika musuh menyerang dari semua sisi, jika kita berdiri di atas gunung batu, kita akan aman dan bahkan mengendalikan pertempuran. Dalam Perjanjian Baru, Paulus menggunakan gunung batu untuk menggambarkan Kristus. (1 Kor. 10: 4) Jika kita menerapkan penafsiran Perjanjian Baru, maka kalimat Daud berarti bahwa Allah telah mengangkat Daud kepada diri-Nya sendiri. Jadi gunung batu (batu karang) menjadi perwakilan yang aman karena gunung batu itu adalah Tuhan sendiri. Gambaran ganda ini hanya memiliki satu makna, yang berarti bahwa Allah sendiri yang akan melindungi Daud. Bersama Tuhan, adalah tempat teraman. Tuhan membawa Daud ke sisi-Nya, memeluknya, dan melindunginya sehingga Daud dapat menikmati keamanan di saat-saat paling berbahaya. Di sini kita belajar prinsip yang sangat penting, ketenangan tidak tergantung di mana Anda berada, tetapi tergantung Anda ada bersama dengan siapa. Rasa aman yang sejati dibangun di atas Tuhan.

Kemah Tuhan yang dikatakan Daud, bait-Nya sudah tidak ada lagi hari ini. Gunung batu juga sulit dilihat. Tetapi Perjanjian Baru mengatakan bahwa kita adalah bait suci-Nya. Dia ingin tinggal di dalam kita. Kita orang-orang yang percaya kepada Yesus, yang dikenal sebagai gereja, dibangun di atas batu karang, Yesus Kristus itu sendiri. (Matius 16:18) Ini berarti bahwa Allah selalu bersama kita. Kelangsungan hidup kita adalah tanda kehadiran-Nya.

  1. Memandang kepada Tuhan, mendapatkan pengharapan baru (ayat 6). Daud berkata: “Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN.” Menegakkan kepala adalah sikap keberanian dan pengharapan, menundukkan kepala adalah hasil dari dilecehkan, tidak ada keberanian dan harapan. Meskipun banyak orang yang membenci Daud ingin membunuhnya, dan semua musuh mempermalukannya, tetapi karena ia menyaksikan kemurahan Tuhan, dan hidupnya dilindungi oleh Tuhan, maka dia mendapatkan kekuatan baru dan menegakkan kepalanya, karena itu ia bukan hanya berani menghadapi musuh-musuhnya. Bahkan dengan berharap kepada Tuhan, kekuatan yang Tuhan berikan kepada Daud bukan hanya cukup baginya untuk menghadapi musuh di depan mata, tetapi juga cukup untuk menghadapi hari-hari yang akan datang. Ini disebut menegakkan kepala yang lebih tinggi dari musuh di semua sisi.

Apa masalah atau kesulitan yang kita hadapi sekarang? Selalu ingat ketika menghadapi masalah, untuk beralih dari masalah kepada Tuhan, dan menyaksikan kemurahan-Nya. Dengan cara ini kita akan memiliki ketenangan jiwa dan pengharapan baru.