Hits: 301

Tema Natal 2019 adalah “Kasih”. Natal memang identik dengan kasih. Minggu pertama kita merenungkan “Kasih Allah” dalam Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia menngaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Minggu kedua kita merenungkan “Kasih dan Pengorbanan”, bagaimana karena kasih Allah, Krsitus berkorban bagi kita dengan mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Tema lanjutan hari ini adalah “Mengasihi dengan Kasih Kristus”.

Ayat dasar renungan adalah 1 Yohanes 3:16, yaitu “ayat kembar” dari Yohanes 3:16. Yohanes 3:16 mengajarkan tentang seperti apa seharusnya kasih itu: “Demikianlah kita ketahui kasih [Kristus], yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Inilah kasih itu yaitu bahwa Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Kasih Allah dalam Kristus didemonstrasikan melalui kematian Kristus di atas kayu salib untuk menjadi pendamaian bagi dosa-dosa kita (1Yoh. 4:10). Demonstrasi kasih ini mempunyai implikasi yaitu bahwa kita juga wajib mengasihi sama lain, yaitu dengan “menyerahkan nyawa”. Karena itulah, Yohanes lebih lanjut mengatakan “jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita”. Bagaimana menyerahkan nyawa untuk saudara kita? Secara spesifik jawabannya dapat mengacu pada perintah saling mengasihi (1Yoh. 3:11). Jadi, “kasih” dalam 1 Yohanes 3:16 dapat diilustrasikan dalam bagaimana mengasihi satu sama lain, khususnya dalam kaitan dengan kasih terhadap mereka yang berkekurangan. Dari sini kita masuk kepada bagian kedua: Apa artinya “mengasihi”?

Artinya “Mengasihi”. Empat hal terkait arti “mengasihi”. Pertama, kasih itu pada dasarnya adalah memberi (Yoh. 3:16; 1Yoh. 3:16; 4:9). Kebenaran ini secara konsisten dinampakkan dalam Alkitab. Ada perkataan yang benar: “Kita dapat memberi tanpa mengasihi; kita tidak dapat mengasihi tanpa memberi”. Kasih tanpa memberi adalah mustahil.

Kedua, mengasihi harus dinyatakan dalam tindakan konkrit (perbuatan dan kebenaran [ketulusan]), bukan hanya perkataan atau lidah (3:18). Yohanes mengajarkan bahwa kasih perlu dinyatakan dengan mengulurkan tangan kepada saudara yang berkekurangan (1Yoh. 3:17)

Ketiga, mengasihi saudara adalah bukti dari mengasihi Allah. Yohanes mengatakan “barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1Yoh. 4:20). Karena itu, jikalau kita mengatakan bahwa kita mengasihi Allah, kita tidak mungkin membenci saudara kita (1Yoh. 4:19-21).

Terakhir, saling mengasihi adalah suatu perintah. Apabila kita tidak menunjukkan kasih kepada sesama, kita berdosa karena kita tidak taat kepada perintah Allah. Dengan saling mengasihi, kita telah menaati perintah Allah (1Yoh. 3:23). Dengan menaati perintah Allah dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya, maka apa yang kita minta dari Dia akan dikabulkan karena kita hidup berkenan kepada Allah (1Yoh. 3:22).

Lebih dari bantuan benda materi bagi saudara yang berkekurangan, kita dapat mengasihi dengan hati dan hidup kita. Kita dapat memberikan bagian dari diri kita untuk orang lain. Paulus memberikan contoh sepuluh wujud kasih dalam 1 Korintus 13:4-6: sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, dst. Dalam semua ekspresi ini, yang diberikan adalah hal abstrak dan menyangkut pribadi kita.

Kita mungkin pernah atau sedang merasa kehilangan arti Natal. Natal yang kita rayakan sekarang sudah tidak seperti Natal yang dulu-dulu. Kita merindukan Natal yang spesial dan berkesan. Natal yang demikian akan didapat ketika kita saling mengasihi di antara sesama saudara dan kita mengasihi sesama. Karena Allah mengasihi kita dan Yesus telah memberikan diri-Nya bagi kita, kita pun patut memberikan diri bagi sesama. Kita wajib mengasihi sesama melalui tindakan nyata. Dalam momen seperti inilah arti Natal sesungguhnya akan ditemukan.