Hits: 15

Dalam kalender gereja hari ini disebut Minggu Palem, yaitu memperingati Yesus Kristus mengendarai seekor keledai masuk ke Yerusalem 5 hari sebelum penyaliban, Ia disambut oleh orang banyak masuk ke Yerusalem bagaikan menyambut seorang raja yang kembali dengan kemenangan perang. Yaitu, sebagaimana dicatat dalam Mat 21: 8-9 “Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan. Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” Ini adalah pemandangan yang luar biasa dan menarik. Pertanyaannya adalah jika Anda adalah Yesus atau murid yang memegang keledai pada saat itu, bagaimana reaksi Anda? Secara umum, Yesus Kristus seharusnya sangat gembira dan melambaikan tangan-Nya sebagai ungkapan terima kasih kepada orang banyak! Tetapi yang dicatat Luk. 19:41: “Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya.” Yesus Kristus tidak gembira sebaliknya menangisi Yerusalem. Mengapa? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kita harus melihat mengapa orang Israel menyambut Yesus Kristus dengan upacara seperti itu? Mengapa mereka berseru, katanya: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Hosana di tempat yang mahatinggi!” Apa artinya Hosana? Aklitab memberi sedikit penjelasan, dalam arti asli adalah minta pertolongan, tapi di sini adalah kata-kata pujian. Arti minta pertolongan yaitu dalam Mazmur 118: 25 “Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran!” Tetapi berkembang sampai pada masa Zakharia, karena sudah diselamatkan dan memiliki pengharapan, maka artinya berubah menjadi pujian. Zak. 9:9 “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.”

Sejarah memberitahukan kita bahwa setelah orang Israel kembali ke tanah air mereka di era Ezra dan Nehemia, meskipun mereka dapat memiliki kebebasan beragama untuk beribadah, tapi mereka masih di bawah kekuasaan Persia, Yunani dan Roma tanpa negara dan pemerintahan mereka yang sebenarnya. Karena itu, mereka sangat berharap dan menantikan suatu hari ada seseorang yang dapat memimpin mereka keluar dari pemerintahan kekaisaran ini dan membangun kerajaan yang kaya dan kuat seperti zaman Daud, karena itu mereka memegang erat semua janji dan wahyu dari Perjanjian Lama yang terkait dengan Mesias.

Karena mereka telah melihat semua mukjizat supranatural yang dilakukan Yesus selama tiga tahun lebih, dan saat ini mereka melihat lagi Yesus mengendarai seekor keledai datang ke Yerusalem, langsung teringatlah Zak. 9:9 “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Maka segera, orang datang untuk menyambut dan mengutip Mazmur 118: 25. Sambil bersorak dan meminta petolongan, dan waktu itu bertepatan saatnya bagi orang Yahudi untuk persiapan perayaan Paskah, Yerusalem mulai dipadati oleh orang-orang dari semua tempat (pernah mencapai satu atau dua juta orang, (Setidaknya sepuluh kali penduduk asli). Mendengar kedatangan raja mengendarai keledai, mereka semua datang untuk melihat dan ikut bersorak. Ini juga menunjukkan kerinduaan mereka akan Mesias.

Yang sangat disayangkan adalah mereka tahu dan percaya bahwa ada Mesias yang akan datang, tetapi mereka tidak mempelajari Kitab Suci dengan benar, sehingga dengan sikap mengutip apa yang dikatakan orang dan pendapat mereka sendiri dalam menentukan model Mesias untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan diri sendiri. Di awal sudah disebutkan latar belakang waktu itu, sehingga Mesias yang diinginkan adalah Mesias yang bersifat politik, sosial, ekonomi dan militer. Untuk memimpin mereka menggulingkan kolonialisme Kekaisaran Romawi, dan membangun negara yang makmur dan kuat, untuk memerintah dunia.

Mereka lupa siapakah Kristus? Walau mereka menyambut dengan cara menyambut raja, tetapi mereka mengabaikan bahwa raja memiliki keputusan tertinggi akan apa yang harus dilakukan! Bersamaan dengan itu juga disebut Dia yang datang dalam nama Tuhan. Artinya perintah siapakah yang harus didengar oleh yang diutus Tuhan? Itu berarti mereka merebut “kedaulatan raja” dan melanggar “otoritas Tuhan”! Ini adalah kejahatan yang sangat mengerikan!

Pada saat yang sama, Alkitab telah menjelaskan bahwa Ia adalah “Raja damai” dan “Hamba yang menderita”. (Ada empat “Nyanyian Hamba” dalam kitab Yesaya. Pasal 53:1-6 adalah salah satunya. Keempat “Nyanyian hamba” ini menggambarkan pelayanan, penderitaan dan kemenangan hamba TUHAN (yaitu Mesias Yesus) dalam Yesaya 42: 1-9, 49: 1-13 , 50: 4-11, dan 52:13 hingga 53:12. ) Yesus Kristus tahu bahwa Ia tidak dapat mengikuti keinginan mereka untuk memuaskan konsep salah mereka tentang Mesias. Dan Ia telah berulangkali memberitahukan mereka, di Luk. 24:7 bernubuat yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.”

Tetapi mereka juga dengan berani menyatakan bahwa mereka akan menanggung dosa penyaliban Yesus Kristus, (ketika Pilatus membasuh tangannya dan sebagai tanda bahwa ia tidak ada hubungannya dengan itu), Mat 27:25 Dan seluruh rakyat itu menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” Mereka juga akan bertanggung jawab atas pembunuhan Anak Allah,  Yerusalem dan penduduknya akan mengalami kehancuran yang paling dahsyat dalam sejarah. Ini telah terjadi 70 tahun sesudah Masehi. Dan Israel hancur total dan tersebar di seluruh dunia selama lebih dari seribu tahun (70-1948 M). Tidak heran Yesus Kristus menangisi mereka.

 Ini juga adalah gambaran dan peringatan untuk generasi ini! Itu karena ada banyak orang di dunia saat ini yang juga berseru Hosana, dengan suara pujian dan minta pertolongan. Tetapi mereka mengabaikan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat. Tetapi juga karena persaingan politik dan ekonomi, perkembangan teknologi yang pesat, tekanan dan ketegangan hidup saat ini (terutama Covid 19 hari ini). Orang-orang hari ini juga tahu bahwa mereka membutuhkan Mesias Juruselamat, tetapi seperti orang Israel, mereka telah menjadikan Kristus Kristus yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri berdasarkan kebutuhan dan konsep mereka sendiri. Lebih buruk lagi, berapa banyak yang disebut “hamba Tuhan” demi melayani konsep Kristus duniawi, juga memberitakan Kristus yang bersifat ekonomi, mukjizat… Hasilnya tampak seperti orang banyak yang berkerumun di depan gerbang Yerusalem. Tetapi siapakah Kristus yang mereka inginkan? Apa konsekuensinya?