Hits: 65

Kita telah berturut-turut merenungkan firman Tuhan tentang penatalayan dalam mimbar khotbah selama satu bulan ini. 1 Kor 4:1-2 “ Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.” Secara umum, orang-orang Kristen sering berpikir bahwa hanya penginjil dan pendeta barulah hamba Allah, tetapi Paulus, jelas di sini memberitahukan kita bahwa asalkan ia orang Kristen, maka ia harus menjadi pelayan rumah Allah, yaitu, setiap orang Kristen harus memiliki tekad seorang pelayan untuk melayani Tuhan kita, dan bukan seperti tuan muda atau nona besar menunggu untuk dilayani atau diperhatikan oleh para hamba Tuhan. Kalau tidak, Anda akan marah dan tidak mau datang ke gereja. Ini adalah suatu pandangan yang salah besar.

 Karena kita adalah hamba dan pelayan rumah Allah maka hendaklah kita saling melayani dan saling memperhatikan. Bayangkan jika kita bisa saling melayani dan peduli, maka Anda akan melihat bahwa setiap wajah akan menunjukkan senyum terima kasih kepada yang lain. Bayangkan jika setiap orang tersenyum dengan rasa terima kasih satu sama lain, suasana seluruh ruangan akan segera berbeda.

Jika demikian, kita melayani dalam bidang apa

1.Kemampuan/talenta: Bicara tentang pelayanan, kita sering mendengar beberapa penolakan secara halus, yang mengatakan: Saya tidak punya talenta/kemampuan, saya mana bisa terlibat dalam pelayanan. Sesungguhnya bicara tentang talenta dan kemampuan, jangan menolak atau merasa rendah diri. Saya ingin bertanya: Siapa yang memberikan talenda dan kemampuan itu? Ketika Musa dipanggil oleh Tuhan, dia mulai menolak dan berkata kepada Tuhan: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah. Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.” (Kel. 4: 10-12)
Di zaman Hakim-hakim, ada seorang yang bernama Barak, hakim Debora memintanya untuk memimpin pasukan berperang dengan Sisera, panglima tentara dari Yabin raja Kanaan untuk memperoleh kemuliaan, tetapi Barak ingin Debora ikut, akhirnya kemuliaan yang seharusnya dia peroleh menjadi hilang. Sebaliknya, Yael seorang wanita, yang memperoleh kemuliaan itu.

2.Waktu: Jangan menolak mengatakan bahwa tidak ada waktu, sesungguhnya waktu adalah hal yang paling adil Tuhan berikan kepada kita semua. Setiap orang mempunyai waktu dua puluh empat jam sehari, tidak lebih dari satu detik atau kurang satu detik. Jangan katakan tunggu ada waktu baru datang. Karena tunggu kita ada waktu, waktu itu kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mengapa? Semua orang sudah tahu jawabannya, yaitu, sudah berbaring di ranjang sakit bahkan lebih buruk di kamar paling ujung rumah sakit!

3.Keuangan: Bicara tentang keuangan, banyak orang tidak suka membahasnya, terlebih berkenaan dengan pelayanan keuangan. Sesungguhnya jika kita mengatakan bahwa kita adalah pelayan Tuhan, berarti semua yang kita milliki adalah dipercayakan oleh Tuhan. Karena kita adalah juru kunci/penatalayanan berati kita memiliki kuasa memakai semua aset pemilik, selama kita memakainya dengan bertanggung jawab dan benar. Hendaklah kita memegang prinsip-prinsip yang Yesus katakan: Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Luk. 20:25). Pelayanan keuangan sebenarnya adalah latihan dan ujian iman orang-orang percaya. Setelah Abraham menang atas ujian, ia berkata: “Jehovah jireh” artinya Tuhan menyediakan. Ya, inilah yang saya alami sejak saya mulai masuk teologia sampai sekarang. Betapa besar anugerah ini, apakah Anda ingin meraihnya?

4.Hidup: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Rm 12:1)

Paulus tidak hanya menasihatkan dan mengajarkan seperti ini, tetapi dia sendiri telah mempersembahkan diri sedemikian. Paulus menjadi rasul bagi bangsa-bangsa lain, membawa Injil ke Eropa, dan dari banyak orang Kristen Eropa dan Amerika bersedia untuk menyerahkan hidup mereka dan membawa Injil ke Tiongkok, Indonesia, dan negara-negara Asia lainnya. Jika tidak, hari ini kita masih berada di luar pintu keselamatan, dan meraba-raba dalam kegelapan di bawah kuasa Setan iblis, jauh dari Bapa. Hidup menderita di kehidupan ini, dan hidup tanpa pengharapan di masa mendatang.

Tentu saja, dalam perjalanan ini kadang-kadang kita akan menghadapi saat yang berliku-liku, tetapi di balik semua ini ada penyertaan Tuhan maka akan menjadi berkat yang lebih besar dan lebih indah.