Hits: 18

Latar belakang kisah dalam teks Alkitab hari ini adalah bahwa Tuhan akan menjatuhkan tulah kesepuluh: setiap anak sulung di Mesir, baik dari orang Mesir, budak mereka maupun hewan di Mesir akan mati (Kel. 11:5) dan Tuhan ingin menyelamatkan keluaga orang-orang Israel yang saat itu tinggal sebagai budak di Mesir dari tulah ini. Selain itu, secara lebih spesifik, Tuhan juga akan memberikan perintah (ketetapan) untuk merayakan hari raya Paskha dan Roti Tidak Beragi. Untuk itu Keluaran 12:1-28 adalah penjelasan latar belakang dan alasan dari kedua perayaan itu.

Perayaan Paskha. Paskha merupakan peristiwa yang sangat penting sehingga dijadikan awal tahun (tahun baru) dari kalender keagamaan orang Israel disamping kalender agraris yang sudah ada. Untuk meluputkan keluarga Israel dari kematian anak sulung (tulah kesepuluh), Tuhan memerintahkan mereka menyembelih seekor domba atau kambing. Anak domba atau kambing itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun (12:5). Darah dari anak domba/kambing yang disembelih itu harus dibubuhkan sedikit pada ambang dan kedua tiang pintu (12:7). Pada malam itu ketika malaikat TUHAn menjelajahi seluruh tanah Mesir, apabila Ia melihat tanda darah itu, Ia akan melewati rumah itu dan tidak mengenakan tulah kesepuluh kepada keluarga yang ada di dalamnya (12:12-13, 23).

Hari Raya Roti Tidak Beragi. Bangsa Israel harus makan roti yang tidak beragi selama tujuh hari lamanya setelah hari raya Paskah (12:15; 17-20). Tidak boleh ada orang yang makan yang beragi dalam rumah selama waktu tersebut. Barangsiapa, baik orang Israel maupun orang asing yang melanggar aturan ini dan makan roti yang beragi, akan mengalami hukuman (“dilenyapkan” 12:19). Pelarangan penggunaan ragi mungkin karena berlawanan dengan sifat “makan dengan tergesa-gesa” yang diperintahkan dalam kaitan dengan Paskha: berikat pinggang, memakai kasut, dan memang tongkat (12:11). Roti yang diberikan ragi akan membutuhkan waktu lebih lama sebelum dapat dimakan. Namun tidak tertutup kemungkinan alasannya adalah untuk mengingatkan Israel agar menjaga kesucian  saat mereka akan hidup di tengah bangsa-bangsa lain yang menyembah berhala di tanah perjanjian. Dalam Perjanjian Baru ragi disebut sebagai sesuatu yang mencemarkan (bdk. Mat. 16:6).

Apa pesan yang dapat kita pelajari? Perayaan Paskha adalah peringatan bagaimana Allah menyelamatkan bangsa Israel dengan mengeluarkan mereka dari perbudakan bangsa Mesir melalui tulah kesepuluh (terakhir) anak sulung bangsa Mesir, budak dan ternak mereka dibunuh. Oleh karena darah anak domba yang dioleskan di ambang dan dua tiang pintu rumah, keluarga Israel terluput dari tulah yang mengerikan tersebut. Allah menggunakan peristiwa ini unuk meletakkan dasar ajaran tentang penebusan oleh Yesus karena Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29, 36). Yesus adalah penggenapan dari domba Paskah yang disembelih di Mesir. Ia adalah domba Paskha yang sesungguhnya. Oleh kematian dan kebangkitan-Nya, dosa-dosa manusia yang percaya kepada-Nya dan menerima karya kayu salib akan diampuni dan mereka akan diselamatkan dari kematian kekal (murka Allah).

Allah telah melakukan hal yang ajaib bagi umat-Nya dalam Paskha. Di dalam kematian Yesus, Allah melepaskan kita dari kuasa Iblis dengan maut dan hukuman kekal akibat dosa. Allah kita adalah Allah yang berkuasa yang mampu melepaskan kita dari kuasa maut. Ia pasti juga dapat menolong kita yang mengalami berbagai masalah karena wabah Covid-19. Namun, lebih daripada itu, Paskha juga mengingatkan kita tentang apa yang telah kita lakukan bagi Tuhan dan sesama kita. Kita tidak boleh berhenti pada bersyukur atas apa yang Allah telah lakukan bagi kita. Paskha juga mengajarkan kita untuk berpikir apakah yang telah kita lakukan bagi Allah melalui perbuatan bagi sesama kita. Seperti yang dibagikan pada kebaktian Paskah, pertanyaan yang harus ditanyakan adalah: apakah kita telah hidup bagi Dia yang mati dan dibangkitkan bagi kita (2Kor. 5:14-15)? Menghadapi masalah Covid-19 ini, ada tiga zona yang harus dilalui: zona ketakutan, zona belajar, dan zona bertumbuh. Kita harus dapat beranjak dari zona ketakutan kepada zona bertumbuh di mana kita dapat melampaui pikiran dan kekuatiran bagi diri sendiri menuju kepedulian dan tindakan bagi orang lain yang terkena dampak, apakah itu karyawan, tetangga, teman, masyarakat umum, dll.

Catatan tentang Paskha dalam Keluaran 12:1-28 juga mengingatkan kita tentang pentingnya mengajar anak-anak tentang iman kepada Tuhan. Tuhan menetapkan bahwa dua perayaan ini, Paskha dan Roti Tidak Beragi adalah perayaan yang turun temurun harus dilakukan. Ia juga memerintahkan agar ketetapan mengenai perayaan ini dan diajarkan kepada anak-anak Israel turun temurun (12:26-28). Pendidikan iman dari orang tua kepada anak merupakan hal yang penting seperti teladan dan perintah Tuhan kepada orang Israel (Kel. 12:26-28 cf. 13:8, 14-15). Dalam konteks sekarang, kesempatan di rumah adalah waktu yang sangat baik untuk mengajar anak-anak kita mengenai iman. Selain itu, kesulitan dan krisis karena Corona ini adalah “bahan” pelajaran iman yang relevan untuk dipelajari keluarga kita: bagaimana percaya dan berserah kepada Tuhan yang penuh kuasa, bagaimana berdoa dan mencari Tuhan di dalam kesulitan dan pergumulan kita, bagaimana kita melayani Tuhan dengan menjadi berkat bagi orang lain dalam doa yang kita panjatkan bagi mereka, dalam tindakan kita yang mau turut menanggung kesulitan orang lain, dalam tindakan untuk menjadi sukarelawan medis ataupun sebagai orang sukarelawan yang terlibat dalam perang melawan Covid-19, dan dalam tindakan membantu karyawan kita supaya mereka tetap dapat “hidup” dan bertahan dalam krisis sekarang ini.