Hits: 44

Setelah ibadah Minggu beberapa waktu ini, kita telah melewati pengajaran Yesus Kristus – Khotbah di Bukit. Selama sekitar delapan bulan, kita merenungkan bersama tentang menjadi contoh tipikal seorang Kristen, supaya kita menjadi semakin seperti Tuhan kita dalam kehidupan sehari-hari. Banyak pelajaran harus dipraktekkan dalam kehidupan kita, sehingga kita dapat menghidupkan Firman Tuhan dalam kehidupan pribadi kita. Dalam menghadapi masalah demi masalah yang terjadi di dalam hidup kita, kita harus senantiasa berpegang teguh pada firman Tuhan.

Perjalanan iman kita seperti suatu perlombaan lari jarak jauh, yang membutuhkan upaya kita untuk menyelesaikannya. Dalam Ibr. 12:1-2 dicatat karena kita harus berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Sama seperti dalam perlombaan jarak jauh, kita membutuhkan banyak stamina (keuletan) yang memungkinkan kita untuk menyelesaikan perlombaan, jika tidak, kita akan berhenti di tengah jalan. Kita tidak boleh patah semangat karena bagian ini mengingatkan kita bahwa kita akan mengakhiri perlombaan hidup kita selama kita mematuhi semua aturan di dalamnya. Di dalam perlombaan hidup, kita menjadi saksi bagi penonton (12 tokoh iman yang disebutkan dalam pasal 11) akan selalu mendorong kita untuk menyelesaikan perlombaan kita karena mereka telah menyelesaikan perlombaan mereka sebelumnya. Kunci untuk menyelesaikan perlombaan adalah: menanggalkan semua beban,  berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita dan hendaklah pandangan kita tertuju kepada Yesus.

Pertama, menanggalkan semua beban, seperti seorang atlet yang bertanding dalam lomba jarak jauh, untuk itu, mereka harus meringankan pakaian yang mereka kenakan, hal yang sama berlaku bagi kita, kita harus meletakkan semua beban termasuk dosa-dosa kita. Kedua, berlomba dengan tekun karena tidak ada yang tahu berapa lama perjalanan kita. Dengan demikian, iman kita harus teguh, dalam menghadapi banyak rintangan atau kesulitan, kita harus bertahan sampai akhir. Terakhir, sangat penting untuk memandang kepada Yesus karena Dia adalah teladan terbaik bagi kita.

Dalam ayat kedua, disebutkan mengabaikan kehinaan: tidak peduli bagaimana orang-orang di sekeliling memperlakukan Yesus, Dia tetap setia sampai pada akhirnya untuk menyelamatkan kita sehingga kita dapat menikmati kebahagiaan surga. Oleh karena itu, ketika kita menghadapi kesulitan apa pun, ingatlah belajar untuk menjadi seperti Kristus, kita pasti akan menikmati kesempurnaan atau sukacita pada akhirnya.

Kita akan mengakhiri bulan November dan segera memasuki bulan Desember yang penuh dengan suasana Natal. Tanpa terasa, kita sudah sampai pada penghujung tahun ini. Apakah kita menyadari bahwa Tuhan senantiasa beserta kita? Jika kita benar-benar mau melepaskan semuanya, berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita dan  pandangan kita tertuju kepada Yesus, maka kita yakin bahwa bukan hanya akhir tahun ini, akhir tahun depan atau akhir dari kehidupan, kita akan menyelesaikan perlombaan kita dan mencapai garis akhir. Mintalah kepada Tuhan untuk membantu setiap kita dapat mencapai  akhir dari setiap tahap kehidupan kita, dan kemuliaan bagi Allah!