Sebelum kita masuk ke tema, perlu penjelasan dua pertanyaan sulit terlebih dahulu : 1. Biasanya yang ditampar adalah pipi kiri, mengapa dikatakan pipi kanan, karena jika orang menampar dengan telapak dibalik, itu berarti memandang rendah, penghinaan. 2. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil (ay. 41). Ini adalah tentang hak istimewa para prajurit Romawi pada saat itu, di mana kapan saja ia bisa memanggil seorang non-Romawi di pinggir jalan untuk membawa barang-barangnya sejauh satu mil. Tentu saja, reaksi orang yang pada umumnya dipaksa tidak sudi. Dan dalam hatinya pasti akan mengeluh dan mengutuk. Tapi Yesus Kristus ingin kita menemaninya berjalan dua mil, dengan begitu suasana hati kita akan berbeda, dan kerelaan kita juga akan menyentuh hatinya, membuatnya merasa terhibur dan berhasil. Mungkin setelah itu ia tidak akan memaksa orang untuk berjalan bersamanya lagi.

Di sini, orang-orang percaya diberi perintah yang sulit dipahami: “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Bagaimana reaksi kita ketika kita mendengar perintah ini? Ada beberapa orang Kristen mengatakan bahwa ini adalah suatu perintah yang tidak mungkin dilakukan. Pepatah kuno mengatakan “Manusia bukan orang suci, bagaimana mereka bisa bebas dari kesalahan”; “Konfusius juga mempunyai kesalahannya”. Peribahasa Indonesia juga mengatakan: “Tak ada gading yang tak retak” Tapi jika tidak mungkin, mengapa Yesus mengeluarkan perintah ini? Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya dalam Injil Matius muncul tentang “orang yang sempurna.” Jika kita membaca Alkitab, setidaknya 50 kali lebih Perjanjian Lama dan Baru telah menyebutkan orang-orang yang sempurna. Misalnya:

  1. Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.
  2. Ayub (“tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” (Ay. 1:8)
  3. Abraham (Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan- Ku dengan tidak bercela (Kej. 17:1).
  4. Musa, Daniel, Paulus dan seterusnya. Lebih-lebih Ia ingin supaya kita menjadi sempurna juga. “Sebab kami bersukacita, apabila kami lemah dan kamu kuat. Dan inilah yang kami doakan, yaitu supaya kamu menjadi sempurna.” (2Kor. 13:9).
  5. Mengapa kita bisa menjadi sempurna?
    1. Karena kita adalah anak-anak Allah “Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh. 1:12). Karena anak maka kita memiliki hidup yang berasal dari Allah Bapa, Dia memberikan hidup yang sempurna, maka kita dapat mencapai sasaran ini dengan mengandalkan Dia.
    2. Keselamatan Kristus selalu efektif, dan akan memelihara kita sampai kepada kesudahannya. Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.(Yoh. 13:1). Dikatakan lagi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna (2Kor. 12:9).
    3. Pemeliharaan Roh Kudus: Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya (Yoh.14:16).

Ya, orang Kristen harus terus bertumbuh seiring berjalannya waktu. “Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh…” (Ibr. 6:1). Sama seperti pertumbuhan seorang anak, ia harus bertumbuh dari waktu ke waktu. Hari ini gereja menghadapi masalah seperti itu, mereka berpikir bahwa setelah  diselamatkan, ia dapat menunggu waktu tiba, yaitu naik ke surga dengan tenang. Tidak mengherankan, menjadi orang Kristen telah puluhan tahun masih seperti bayi yang baru lahir. Bagaimana ia bisa mempunyai kemampuan berpikir, dan dapat membedakan mana yang baik dan jahat? Juga bagaimana memiliki kemampuan untuk menggenapi misi?

Akibatnya adalah ia seperti sebuah ladang yang bukan hanya tidak menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi Tuhan, tetapi sebaliknya menghasilkan semak duri dan rumput duri, yang melukai diri sendiri dan orang lain, akhirnya dibuang dan dibakar.