Di era ini orang memiliki berbagai standar yang berbeda untuk menentukan apa yang mereka lakukan. Mereka mengatakan yang penting berbuat baik, tapi ada juga yang menyatakan yang penting saya bahagia itu sudah cukup. Apakah hidup hanya seperti itu? Kita sering mendengar orang bertanya tentang masalah standar, dan ini adalah pertanyaan yang pernah ditanyakan oleh DR. John Sung kepada seorang pemuda yaitu: Apa yang akan dilakukan setelah lulus kuliah, apa yang akan dilakukan setelah bekerja, apa yang akan dilakukan setelah mendapatkan banyak uang, dan apa yang akan dilakukan setelah menjadi tua? Jawaban terakhir atas suatu standar adalah kehidupan manusia di dunia ini akan berakhir.

DR. John Sung berkata kepada pemuda itu bahwa meskipun saya memiliki gelar Ph.D dalam bidang kimia dan saya ingin mengabarkan Injil, tapi apa yang ingin saya capai adalah agak melampaui akhir kehidupan ini – hidup yang kekal. Karena itu, standar yang kita tetapkan untuk hidup di dunia ini bukan bersifat sementara tetapi bersifat kekal yaitu kerajaan Allah.

Dalam Matius 5:17-20 mencatat apa yang dikatakan Yesus tentang hukum dan ajaran-ajaran-Nya. Yesus datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya (ayat 17), ini berarti bahwa hukum Taurat tetap ada tetapi bukan untuk memperoleh keselamatan. Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus taat kepada ajaran Kristus dan prinsip-prinsip etis dan moral yang diberikan hukum Taurat. Kita yakin bahwa melalui iman kita kepada Kristus, Roh Kudus akan memberikan kekuatan dan dorongan kepada kita untuk taat pada apa yang Tuhan ingin kita lakukan. Sejak Yesus mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita dari dosa, jika kita benar-benar mengikuti prinsip iman dalam Kristus, kita akan dengan setia menaati hukum Taurat yang telah diberikan Allah kepada kita. Pada akhirnya, maksud Yesus menggenapi hukum Taurat adalah kita masuk ke dalam kerajaan Allah bukan karena hukum Taurat tetapi karena taat pada kehendak Bapa. Karena itu, tatkala kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita tidak berhenti di situ saja tanpa melakukan apa-apa, tapi kita akan terus menghidupkan dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

Kita harus ingat bahwa dalam ayat 19-20 memberitahukan kita bahwa jika kita tidak menghapuskan hukum Taurat tetapi menjalankan dan mengajarkannya kepada orang lain, kita akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Dan jika hidup keagamaan kita tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kita tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Ini mengingatkan kita untuk tidak hanya tinggal dalam iman dan menjalankan ritual keagamaan kehidupan Kristen saja, tetapi kita harus benar-benar melebihi apa yang dilakukan oleh orang-orang Farisi. Kita harus berbuat lebih baik daripada orang-orang Farisi, yaitu harus memiliki hati dan Roh. Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus mengejar kehendak Tuhan dengan hati dan roh yang tulus, dalam hal ini kita hidup keagamaan kita akan lebih benar dari hidup keagamaan orang-orang Farisi dan dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga; ini adalah standar kita. Hidup menyatu di dalam Kristus dan taat melakukan Firman-Nya dengan pimpinan Roh Kudus-Nya yang senantiasa sedikit demi sedikit mengarahkan segenap hidupnya masuk ke dalam Kerajaan Sorga.