Hits: 0

Hari ini kita akan merenungkan tentang bagaimana Musa meresponi tanggapan Tuhan kepada orang Israel karena mereka telah melakukan dosa besar. Karena kejadian anak lembu emas itu, Tuhan langsung menyuruh Musa untuk tidak berjalan bersama mereka. Namun, karena Musa memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, Tuhan tetap harus memenuhi permintaan Musa kepadanya.

Dari bagian firman Tuhan yang kita baca, kita dapat membaginya menjadi dua bagian: Ayat 1-11 mencatat bahwa cara Tuhan dalam memimpin bangsa Israel berubah karena dosa mereka dan ayat 12-33 mencatat bagaimana Musa berdoa syafaat bagi orang Israel untuk memohon belas kasihan Tuhan kepada mereka. Bagian pertama dengan jelas mencatat bahwa TUHAN sendiri memberi tahu Musa bahwa Dia akan mengutus seorang malaikat untuk memimpin mereka supaya TUHAN tidak membinasakan mereka. Bangsa Israel yang tegar tengkuk ini kemudian melepaskan perhiasan mereka sebagai ungkapan kesedihan, dan Tuhan memperhatikan mereka. Dengan cara yang berbeda ini, TUHAN juga menggunakan pola Kemah Pertemuan untuk berkomunikasi dengan orang Israel. Dengan cara yang lebih terbatas ini, ada Yosua muda yang masih merindukan kehadiran Tuhan.

Menanggapi respon TUHAN di atas, Musa bertanya kepada TUHAN tiga hal: Beritahukanlah kiranya jalan-Mu (rencana-MU) kepadaku (ayat 13), : “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini (ayat 15), dan “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.”(ayat 18). TUHAN menjawab apa yang diminta Musa dan menunjukkan kebaikan dan belas kasihan-Nya, jika tidak Musa akan mati melihat kemuliaan TUHAN.

Dari intisari di atas, kita bisa belajar bahwa ketika kita hidup dalam situasi terbatas, kita tetap bisa menjalin hubungan baik dengan Tuhan seperti Yosua. Jangan biarkan keadaan sekitar membelenggu kita, tetapi kita harus bertekun untuk menjaga komunikasi dengan Tuhan. Selain itu, kita juga bisa belajar mendoakan orang lain seperti Musa. Meskipun orang lain tampaknya tidak memiliki harapan, kita harus percaya bahwa Tuhan itu penuh belas kasihan dan kebaikan. Kita hendaknya tidak berdoa untuk diri kita sendiri saja tetapi berdoa untuk orang lain juga karena kita sebagai anak-anak Tuhan harus terus menerus mengasihi Tuhan dan sesama. “Kiranya hari ini seseorang, gereja atau negara menerima jawaban Tuhan karena Ia mengingat doa kita.”