Hits: 2

Seorang laki-laki, baik sebagai suami maupun ayah, dipanggil untuk hidup berkenan kepada Tuhan yang telah menyelamatkan kita (bdk. Kol. 3:19, 20). Dengan hidup berfokus pada Tuhan dan kehendak-Nya, kita akan dapat memiliki hidup yang menjadi teladan. Keteladanan seorang laki-laki dapat diwujudkan dalam dua peran: suami dan ayah.

Pertama, teladan sebagai suami. Paulus mengatakan, “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia” (Kol. 3:19). Perintah kepada suami adalah mengasihi isteri. Perintah mengasihi isteri adalah hal baru dalam budaya masyarakat Yunani waktu itu. Dalam masyarakat Yunani, tidak ada unsur “mengasihi”; yang ada adalah suami sebagai kepala keluarga berkuasa atas isteri. Suami adalah atasan (otoritas) dari isteri.

Apa makna “mengasihi” (bdk. Ef. 5:21-33)? Ada dua hal bagaimana Kristus mengasihi jemaat yang patut diteladani oleh suami. Pertama, Kristus menyerahkan tubuh-Nya (Ef. 5:25). Kristus mengasihi kita sehingga rela menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan kita. Ini dilakukan-Nya karena Ia mengasihi kita. Demikian pula suami seharusnya mengasihi isterinya yaitu mengasihi dan rela menyerahkan nyawanya untuk isterinya. Kedua, Kristus mengasihi jemaat seperti tubuh-Nya. Standar mengasihi isteri adalah dengan mengasihinya seperti mengasihi tubuh sendiri. Tidak ada orang yang membenci tubuhnya sendiri; sebaliknya, orang akan merawatnya (Ef. 5:28-29). Lebih lanjut, Paulus memerintahkan suami untuk tidak berlaku kasar terhadap isteri. Suami yang mengasihi sejatinya tidak akan berlaku kasar kepada isterinya. Namun, Paulus memerintahkan hal ini karena dalam konteks masyarakat Yunani di mana suami memandang hubungan dengan isteri bukan dalam sikap mengasihi tapi sebagai yang berkuasa (otoritas) atas isteri, suami cenderung bersikap kasar karena merasa berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada isteri. Alkitab mengajarkan bahwa suami harus mengasihi isteri karena baik suami maupun isteri memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan walaupun dengan peran yang berbeda (suami sebagai kepala; isteri tunduk kepada suami)

Kedua, teladan sebagai ayah. Paulus menulis, “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya” (Kol. 3:21). Dalam konteks masyarakat Yunani, anak adalah properti (harta benda) milik bapaknya. Anak tidak lebih daripada harta lainnya seperti hewan piaraan, tanah, dll. Seorang ayah (kepala keluarga) dapat melakukan apa saja terhadap sang anak hingga membunuhnya jikalau ia tidak berkenan kepada anak tersebut karena bapak memiliki otoritas yang tidak terbatas anaknya (patria potestas). Apakah maksudnya “jangan menyakiti anak” supaya “tidak tawar hatinya”? Para ahli menjelaskan ayat ini dalam kaitan dengan relasi ayah dan anak. Ayah harus memastikan terbangunnya relasi yang harmonis antara ayah dan anak. Untuk itu, dalam mendidik anak, ayah tidak boleh bersikap merendahkan anak (yaitu menyakiti hati) sehingga anak menjadi tidak bersikap positif terhadap didikan anak (membangkang).

Ayah perlu memberikan nasihat dan pandangannya kepada anak. Namun, membina anak yang efektif adalah melalui keteladanan hidup. Pepatah mengatakan “Actions speak louder than words” (artinya: perbuatan lebih berpengaruh daripada perkataan). Ayah perlu memberikan teladan kepada anak dalam menjalani kehidupan sebagai orang Kristen di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat. Bagaimana ayah bersikap terhadap isteri, orang tua, sesama, pelayanan, pekerjaan merupakan sarana pendidikan anak yang paling efektif.