Hits: 5

Apa respon kita terhadap mimbar khotbah yang disampaikan oleh pembicara Minggu lalu? Secara khusus, mendengar pernyataan Yosua di hadapan orang-orang Israel “… Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15). Tidak tahu bagaimana respon saudara-saudari setelah mendengarkan ini? Apakah Anda membuat pernyataan seperti itu? Atau apakah Anda tidak berani menanggapi seperti ini, takut bagaimana mempertanggungjawabkan kepada Tuhan jika Anda tidak dapat melakukannya, dan bagaimana bertanggung jawab jika orang lain tahu?

Ya, memang tidak mudah untuk melakukannya, tetapi apakah kita membiarkan keluarga, anak cucu kita memutuskan dan memilih sendiri, dan kita bisa melepaskan tanggung jawab begitu saja? Jika ditanya: Apakah Anda mencintai keluarga, dan anak cucumu? Jawaban setiap orang seharusnya pasti. Jika demikian, mengapa tidak mengambil kesempatan secara aktif membiarkan mereka melayani Tuhan bersama kita? Ams. 19:18 “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.” Atau, seperti orang kaya dalam Lukas 16, dia meminta Abraham untuk mengutus Lazarus ke rumah lima saudaranya untuk bersaksi kepada mereka tentang hidup yang kekal, kematian yang kekal, surga dan neraka.

Ya, apalagi masalah anak-anak, siapa sih yang tidak sayang kepada anak cucu? Sama seperti Mazmur 127:3 “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.” Karena anak adalah milik pusaka, bagaimana mungkin kita tidak menghargai dan mencintainya? Namun sangat disayangkan, banyak orang tua yang memanjakan anak karena terlalu sayang, bahkan anak menggantikan posisi Tuhan dalam hidup kita. Sehingga menyebabkan jatuh seperti yang dikatakan Mazmur: “Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain” (Mzm.16:4). Secara tidak sengaja, tanpa sadar anak telah menjadi berhala orang tua, orang tua patuh kepada anak-anaknya dalam segala hal. Bukankah banyak orang tua yang berada dalam situasi seperti sekarang ini? Oleh karena itu Amsal 19:18 “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.” Memang, jika Anda ingin anak menjadi berkat dari Tuhan bagi orang tua dan keluarga, Anda harus menghajar (mendisiplinkan) mereka selama Anda masih ada harapan.

Bagaimana cara mendidik anak ? Ams. 22:6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Menurut jalan yang patut baginya; jalan apa? Tentu saja ada banyak jalan (ajaran) di dunia, tetapi semuanya mengikuti perubahan zaman dan personel. Tentu saja bagi kita, hanya Alkitab satu-satunya yang tidak berubah. Perkataan-Ku adalah kebenaran yang tidak akan berlalu. Seperti yang Yesus Kristus katakan: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh.14:6) dan “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Mrk. 13:31).

Karena yang dimaksud adalah jalan (kebenaran), maka kita sebagai orang tua harus memikul tanggungjawab medidik anak-anak kita. Kita harus belajar melakukannya dengan baik dengan memberi keteladanan hidup. Kita harus mulai belajar secara bertahap. Mulai melatih, terutama melatih doa. Sejak usia dini, anak harus mulai diajar dan dilatih, ikut serta dan memimpin doa, dan membaca Alkitab. Ini juga mencegah kita dari penuaan. Dan tanpa kita sadari, rumah kita akan menjadi rumah dimana kita melayani Tuhan, menyenangkan Tuhan, dan berbahagia.