Hits: 32

Lukas 15 memuat tiga kisah tentang yang hilang: domba yang hilang; dirham yang hilang; dan anak yang hilang. Tema “yang hilang dan ditemukan kembali yang disertai dengan sukacita” secara konsisten muncul dalam ketiga kisah ini. Walaupun demikian, kisah ketiga tentang anak yang hilang mempunyai keunikan sendiri. Kisah ketiga ini unik salah satunya karena apa yang dilakukan oleh sang bapa melampaui apa yang umumnya terjadi menurut budaya saat itu sehingga menimbulkan unsur kejutan bagi yang mendengarkannya. Dari sudut ini, kita bisa belajar mengenai sikap sang bapa. Pelajaran ini dapat berlaku baik untuk ayah dan ibu serta bahkan semua orang Kristen lainnya.

Ada dua sikap Bapa yang menjadi keunikan dari kisah ini. Pertama, sang bapa membagikan warisan. Gambaran anak bungsu adalah gambaran anak yang tidak menghormati orang tua. Tindakan seorang anak yang meminta bagian warisannya sebelum ayahnya meninggal adalah seperti menyumpahi ayahnya agar mati. Tindakan yang wajar dilakukan (dan diharapkan oleh para pendengar cerita ini) oleh ayahnya adalah memukul dan mendisiplin si anak supaya sadar akan kesalahannya. Namun, sang ayah tidak melakukannya. Sebaliknya sang ayah justru membagikan kepada si anak bungsu bagiannya (sepertiga dari harta ayahnya) dan mengingatkan si anak sulung untuk juga tidak marah dan menerima tindakan adiknya (ay. 31). Bahkan sesungguhnya ayahnya dapat sekadar membagikan hartanya (ternak, tanaman, tanah) tetapi tetap menikmati hasil mereka selama mereka hidup, yang artinya si anak bungsu tidak akan dapat menjual harta warisannya. Namun, sang ayah bahkan mengizinkan si anak bungsu menjual bagian warisannya dan pergi ke tempat yang jauh untuk menghabiskannya. Gambaran sang bapa adalah pribadi yang luar biasa besar hatinya yang memberikan kesempatan anak untuk “belajar”.

Kedua, sang ayah mengampuni sang anak dan menerimanya kembali. Alkitab mencatat tentang si anak bungsu: Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.” (Luk. 15:16). Dalam konteks praktik umum cerita kuno, kisah ini akan berhenti pada ayat 16 yaitu pada kesulitan yang dialami si anak bungsu: najis karena harus memelihara babi dan karena lapar, bahkan ingin makan makanan babi tapi tidak ada orang yang mau memberikan kepadanya. Ini adalah puncak kisah, yaitu akibat terbesar yang dapat dialami oleh seseorang yang tidak menghormati orang tua. Dalam budaya masa itu, kisah seperti ini akan berhenti di sini untuk memberikan ajaran moral tentang nasib yang akan menimpa orang yang tidak menghormati orang tuanya (bdk. Ef. 6:2-3).  Namun, ternyata kisah ini berlanjut. Alih-alih menolak anaknya yang pulang, ayahnya justru melakukan dua hal: berlari menyambutnya dengan ciuman (Luk. 15:20) dan mengadakan perayaan untuk si anak (Luk. 15:22-23). Dalam budaya masa itu, orang tua tidak patut berlari karena akan menurunkan wibawanya tetapi sang ayah lebih peduli akan anaknya daripada wibawanya di mata orang sekitarnya.

Kisah ini adalah tentang kebesaran hati sang ayah (yang menggambarkan Allah Bapa) Bukannya menghukum sang anak atau menolak dia dalam status sebagai anak karena perbuatannya, sang ayah justru mengampuni anaknya dan dengan penuh sukacita menerimanya kembali. Teladan mengampuni adalah teladan bagi orang tua (papa dan mama) dan bahkan bagi anak dan cucu yang adalah orang Kristen. Seperti halnya, Allah mengampuni kita demikian pula kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Bahkan kita harus mengampuni seperti yang Tuhan Yesus ajarkan dengan tanpa batas “70 x 7 kali” dan berkata seperti Doa Bapa Kami katakan: “Ampunilah Kami seperti Kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”